Sabtu, 2 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Semarang

Keluhan Warga Kabupaten Semarang, Jembatan Ambrol Hasil Panen Tak Bisa Lancar Diantar

Di balik kesibukan aktivitas para warga di Dusun Jatisari, Desa Plumutan, Kecamatan Bancak, Kabupaten Semarang, tersimpan sebuah keluh kesah.

Tayang:
Penulis: Reza Gustav Pradana | Editor: rival al manaf
Tribun Jateng/ Reza Gustav
PATAH - Warga setempat melihat kondisi terkini jembatan utama di Jatisari, Plumutan, Bancak 

TRIBUNJATENG.COM, UNGARAN - Di balik kesibukan aktivitas para warga di Dusun Jatisari, Desa Plumutan, Kecamatan Bancak, Kabupaten Semarang, tersimpan sebuah keluh kesah dan penantian panjang.

Bertahun-tahun, mereka menunggu adanya perhatian dari pemerintah untuk memperbaiki atau pembangunan jembatan utama poros desa yang patah dan ambrol.

Jembatan yang membentang di atas Sungai Pangkuk itu sudah tidak bisa dilewati mobil sejak 2019, sehingga membuat lingkungan warga setempat nyaris terisolir.

Jembatan utama sepanjang 30 meter dan lebar tiga meter itu menghubungkan warga Dusun Jatisari di antara wilayah Muningai dan Randusari. 

Sebenarnya, upaya telah dilakukan. 

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Semarang pernah membangun jembatan darurat di sampingnya untuk pejalan kaki dan sepeda motor. 

Namun, hal yang paling vital masih terlewatkan, yaitu mobil-mobil tak bisa lewat. 

Untuk mengangkut hasil tani seperti jagung, pisang, kedelai, palawija, warga harus memutar melalui dusun lain hingga menambah waktu tempuh selama setengah jam.

Waktu dan ongkos membengkak, sehingga tak jarang, hasil panen terlambat sampai ke pasar.

“Selain itu, akses pendidikan untuk sekolah anak-anak juga terganggu.

Kami sudah tiga kali mengajukan permohonan perbaikan, namun bertahun-tahun menunggu masih belum ada kabar lagi,” ungkap Kepala Badan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Plumutan, Abdul Rohman kepada Tribunjateng.com, Minggu (4/5/2025).

Dia mengungkapkan, jembatan tersebut patah lantaran tiang dan pondasi di bawahnya tergerus derasnya aliran sungai.

Warga dan pemerintah desa setempat telah mengajukan permohonan ke pemerintah daerah untuk perbaikan dan pembangunan kembali jembatan utama itu.

Namun, pandemi Covid-19 yang datang seperti badai hingga memperlambat segalanya.

Prioritas anggaran pun bergeser, dan pembangunan jembatan tertunda entah sampai kapan.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved