Berita Semarang
Dalam 30 Hari, IPAL Wajib Dibangun atau Izin Dicabut: Ultimatum DLH Usai Ribuan Ikan Mati di Terboyo
Kasus ribuan ikan yang mati mendadak di kawasan Tambak di Kelurahan Terboyo Kulon, Genuk, Kota Semarang.
Penulis: Raf | Editor: raka f pujangga
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Kasus ribuan ikan yang mati mendadak di kawasan Tambak di Kelurahan Terboyo Kulon Kecamatan Genuk diduga adanya pencemaran lingkungan dari limbah di kawasan industri sekitar.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Semarang, Arwita Mawarti mengatakan, DLH melakukan pengawasan dan monitoring terhadap matinya ribuan ikan milik nelayan.
Pihaknya telah berkodinasi dengan pengelola kawasan industri Terboyo.
Baca juga: Polemik Ribuan Ikan Mati di Terboyo, DLH Kota Semarang: 1 Perusahaan Terbukti Tak Kelola Limbah
"Kami sudah melakukan koordinasi dengan pengelola Kawasan Industri Terboyo, ada tiga perusahaan yang diduga mencemari lingkungan, tapi baru satu perusahaan yang telah selesai dilakukan pemeriksaan,” terang Arwita, Kamis (15/5/2025).
Dia mengaku prihatin melihat hasil pemeriksaan.
Ternyata, ada perusahaan tidak memiliki Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).
Diketahui, perusahaan yang diperiksa ini pun belum mengurus dokumen perizinan lainnya seperti Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RKL-RPL).
"Kami akan melakukan pemeriksaan ke perusahaan lainnya. Minggu depan, kami teruskan perusahaan yang lain juga, DLH belum bisa memberikan keterangan penyebab (matinya ikan, red) karena masih dalam pemeriksaan," paparnya.
Arwita melanjutkan, DLH telah mengambil sampel air tambak yang tercemar.
Meski hasil pemeriksaan belum bisa dipatikan penyebab ikan mati, dugaan kuat adalah pencemaran limbah.
Dari tiga perusahaan yang menghasilkan limbah, satu perusahaan terbukti tidak memiliki pengolahan limbah.
"Ada tiga perusahaan yang kita curigai menghasilkan limbah. Satu perusahaan sudah positif tidak memiliki pengolahan limbah, sehingga pasti terjadi pencemaran," bebernya.
Arwita menambahkan, DLH telah memberikan teguran kepada perusahaan yang tidak memiliki IPAL.
Jika perusahaan tersebut tidak mengindahkan imbauan DLH, perizinan perusahaan bisa dicabut.
"Kalau dalam waktu 30 hari ke depan tidak membangun IPAL akan kami kenai sanksi. Saat ini kami sifatnya baru memberikan teguran, sanksi beratnya perizinan perusahaan itu bisa kami cabut misal segera mengurus pengolahan limbah," ungkapnya.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Semarang, Iswar Aminuddin mengatakan, sudah ada laporan dari DLH terkait dugaan pencermaan limbah di Tambak Terboyo yang menyebabkan ribuan ikan di tambak mati.
Dia meminta DLH terus melakukan monitoring agar perusahaan di kawasan industri mengolah limbah sesuai dengan mutu dan pengolahan lingkungan.
"Perusahaan harus sesuai dengan pengelolaan lingkungan yang baik, DLH saya minta terus monitoring dan melakukan investigasi," tandasnya.

Mati Mendadak
Sebelumnya diberitakan Rozikan (54) adalah satu dari beberapa petambak di kawasan Kecamatan Genuk, dia berdiri di sisi tambaknya yang kosong di kawasan Terboyokulon, Semarang.
Sembari menunjuk pada beberapa petak kosong yang seharusnya tambaknya berisi ikan, udang dan kepiting miliknya.
Pada tambak perairan payau yang Rozikan kelola itu tidak ada bandeng, nila, udang, maupun kepiting yang biasanya memenuhi petak-petak tambak miliknya.
Semua mati mendadak. Baru saja kemarin dia membersihkan tambaknya dari ikan-ikan yang terapung membusuk.
Air yang biasanya jernih tampak berminyak, keruh, dan beberapa hari lalu berbau menyengat, seperti bau amis.
“Mulai parah itu tanggal 23 April. Hari itu saja saya rugi 25 juta. Kalau lima tambak, bisa sampai seratus juta,” ujarnya, Rabu (17/5/2025).
Dia membuka galeri ponsel pintarnya, memperlihatkan foto-foto ikan yang terapung tak bernyawa, di air tambak yang keruh dan berminyak.
“Ini buktinya. Bukan ngada-ngada, itu fakta di lapangan” kata Rozikan sambil menyodorkan layar ponselnya.
Menurutnya, pencemaran mulai terasa sekitar seminggu sebelum Lebaran.
Lima petak tambak di blok paling pojok, dekat kawasan Universitas Islam Sultan Agung, menjadi yang pertama terdampak.
Air berubah warna siang tampak hitam, malam coklat pekat seperti air comberan, dan baunya menyengat.
“Kalau dipegang itu berminyak. Minyaknya kalau di atas air kan kelihatan, misah,” tambahnya.
Rozikan dan para petambak sempat kebingungan harus berbuat apa. Dia mengaku langsung merekam kondisi tambaknya, lalu melapor ke Kelurahan dan KNTI (Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia).

Air Mati Di Antara Monster Beton
Dirinya menduga, adanya minyak di kawasan tambak itu diduga dari satu diantara pabrik di kawasan industri Terboyo.
Mereka menduga dari perusahaan pengolahan minyak sawit sebagai sumber limbah.
Namun, sejak pembangunan tol dan membendung lubang sirkulasi air laut di sekitar itu, menjadikan air yang menuju laut jadi terhambat.
Limbah yang sebelumnya mungkin langsung hanyut ke laut, kini mengendap, berputar-putar di area tambak yang tertutup monster beton.
“Sekarang airnya muter aja di sini, enggak bisa keluar. Minyaknya kelihatan, seperti pelangi di atas air.” ujarnya.
Dari total 11 blok tambak di kawasan itu seluas sekitar 30 hektar lima blok paling parah. Total kerugian diperkirakan mencapai Rp250juta rupiah.
"Kerugian dua tambak yang saya kelola Rp100juta," katanya.
"Kalau bisa, segera cairkan bantuan untuk petambak yang terdampak. Kami tidak menuntut lebih hanya ganti rugi yang layak agar bisa mulai lagi," tambahnya.
11 Tambak Terdampak
Sementara itu, Slamet Ari Nugroho, Ketua DPW KNTI Jawa Tengah menyebut potensi kerugian akibat pencemaran limbah di kawasan tambak tersebut, mencapai lebih dari Rp600 juta.
Temuan itu didasarkan pada laporan dan asesmen lapangan yang dilakukan pihaknya pada awal Mei 2025.
“Total ada 11 bidang tambak yang terdampak, milik sembilan orang. Satu orang di antaranya mengelola tiga petak,” ujar pria yang akrab disapa Ari.
Dia menjelaskan, tambak-tambak tersebut memiliki luasan bervariasi mulai dari 1 hingga 5 hektare per petak.
KNTI menerima laporan dari para petambak pada 5 Mei 2025. Sehari setelahnya, pihaknya langsung melakukan asesmen ke lapangan.
“Kami turun tanggal 6 Mei, dan memang terlihat jelas ada puluhan ton ikan mati. Air tambak tampak tercemar, warnanya berubah dan mengandung minyak,” ujarnya.
Baca juga: Misteri Kematian 10 Ton Ikan dan Udang di Tambak Milik Warga Semarang, Diduga Tercemar Limbah
Dari hasil temuan awal, pencemaran diduga berasal dari salah satu perusahaan di kawasan Terboyo.
“Ada kandungan minyak dalam air tambak. Diduga berasal dari perusahaan pengolahan minyak sawit di sekitar sana,” imbuhnya.
KNTI berharap pemerintah segera bertindak. Selain memastikan penanganan dampak dan kerugian petambak, juga untuk mencegah kasus serupa terulang di kemudian hari.
Jaga Kelestarian Lingkungan
Terpisah, Kementerian Lingkungan Hidup melakukan penanaman bibit 1.000 bibit pohon buah dan 3.000 benih ikan tombro di kawasan Telaga Madirda Desa Berjo Kecamatan Ngargoyoso Kabupaten Karanganyar pada Selasa (13/5/2025) sore.
Acara tersebut dihadiri Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, Bupati-Wakil Bupati Karanganyar, Rober Christanto dan Adhe Eliana serta jajaran Forkopimda dan dinas terkait.
Hanif Faisol Nurofiq menyampaikan, kegiatan ini bagian dari upaya pemerintah memperkuat tata lingkungan di wilayah hulu.
Penanaman pohon buah seperti alpukat, durian dan lainnya ini merupakan upaya transformasi dari tanaman akar menjadi tanaman yang dapat menyerap air.
"Kegiatan ini perlu terus di-scale up dengan dukungan dari salah satunya Nusantara Power, untuk transformasi tanaman-tanaman akar menjadi tanaman-tanaman berkayu yang mampu melakukan serapan yang cukup besar," katanya usai penanaman pohon, Selasa sore.
Sementara penebaran benih ikan tombro dilakukan guna menjaga ekosistem air.
Dalam kesempatan itu Hanif menitipkan pesan kepada pemerintah daerah untuk menjaga lingkungan seperti permasalahan sampah.
"Kami sudah menerima laporan mengenai pengelolaan sampah di Karanganyar. Kami titip agar penanganannya dimaksimalkan," terangnya.
Bupati Karanganyar, Rober Christanto menyambut baik arahan dan dukungan dari Kementerian Lingkungan Hidup.
"Kami bersama pemerintah Desa Berjo siap mendukung penuh dan menjaga kelestarian program ini. Ini bukan hanya untuk Karanganyar, tapi untuk lingkungan yang lebih luas," ungkapnya. (eyf/rad/ais)
Prakiraan Cuaca Kota Semarang Hari Ini Jumat 29 Agustus 2025: Sebagian Besar Hujan Ringan |
![]() |
---|
Jejak Gedung Kawasan Kota Lama Semarang yang Terbakar, Bagian dari the Big Five di Awal Abad 20 |
![]() |
---|
Jurnalis FC Gandeng SSB Emerald Semarang di HUT ke-3, Satukan Kebersamaan di Lapangan Hijau |
![]() |
---|
Harga Beras Medium di Semarang Tembus Rp15 Ribu per Kilogram, Ini Penyebabnya |
![]() |
---|
Percontohan Nasional, Koperasi Merah Putih Gedawang Tembus Omzet Rp 69 Juta dalam 1,5 Bulan |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.