Berita Demak
Pemandangan Ribuan Ikan Mati Mendadak di Demak dan Semarang, Indikasi Pencemaran Jadi Sorotan
Perairan sungai di sekitar Sayung, Demak, digegerkan pemandangan ribuan ikan mujair yang mati mendadak dan mengambang di permukaan.
Penulis: Raf | Editor: raka f pujangga
TRIBUNJATENG.COM, DEMAK - Perairan sungai di sekitar Sayung, Demak, digegerkan pemandangan ribuan ikan mujair yang mati mendadak dan mengambang di permukaan.
Fenomena ini, yang marak dibicarakan di media sosial, terjadi di area yang bersebelahan langsung dengan jalur Pantura Semarang-Demak.
Melihat banyaknya bangkai ikan yang menimbulkan bau tak sedap, masyarakat dunia maya langsung berspekulasi bahwa kejadian ini disebabkan oleh pencemaran lingkungan.
Baca juga: BREAKING NEWS Ribuan Ikan Mati Mendadak di Demak, Dinas Lingkungan Hidup Demak Menduga Karena Stres
Pemandangan ribuan ikan yang mengambang ini memicu kekhawatiran serius akan kualitas air di wilayah tersebut.
Ketika dikonfirmasi, Plt. Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Demak, Endah Cahya Rini, mengatakan ribuan ikan mujair itu sudah naik ke permukaan sejak tanggal 8 Juni 2025.
"Ikan mulai naik Minggu malam tanggal 8 Juni. Mulai pukul 17.30 WIB tapi hanya di tambak ikan sebelah Karoseri SKU," jelasnya, Selasa (10/6/2025).
Berdasarkan pengukuran di lapangan, ribuan ikan naik ke permukaan setelah terjadi hujan deras dan aliran air mulai surut.
"Berdasarkan hasil uji air sungai di titik pertama depan PT Etercon Pharma, menunjukkan pH : 7,6 , DO : 5,59 , Turbidity : 46, Conductivity : 7,49 , dan Salinitas : 0,4," tutur Endah.
Ia melanjutkan, pengecekan air sungai di titik kedua antara Karoseri SKU hingga PT Gaviansi ditemukan analisis air sungai dengan pH : 7,8 DO 5,82 Turbidity : 25 Coduktivity 20,1, dan Salinitas : 1,2.
"Lokasi ikan mati hanya lingkup 1 tambak di sebelah karoseri SKU. Dugaan sementara ketika air mulai surut setelah hujan turun, air dengan salinitas rendah masuk ke tambak mengakibatkan ikan kaget atau stres yg berakibat ikan naik kepermukaan," tambahnya.
Endah mengaku timnya sedang melakukan pengukuran secara kimia untuk lebih tahu apa penyebab ribuan ikan mati tiba-tiba.
"Masih kita dalami investigasi lapangan," tegas Endah.
Terkait adanya dugaan pencemaran lingkungan, pihak Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Demak sedang melakukan pengecekan sumber dari limbah yang mencemarinya.
"Ini teman-teman masih berada di lokasi untuk melihat dan mengecek secara langsung. Karena banyak perusahaan yang berada di sana jika memang ada indikasi pencemaran maka perusahaan mana yang menimbulkan pencemaran sedang kita dalami ke lokasi," tutupnya.

Ikan Mati Mendadak di Semarang
Kasus serupa ribuan ikan yang mati mendadak juga terjadi di Kota Semarang.
Kasus tersebut terjadi di kawasan Tambak di Kelurahan Terboyo Kulon Kecamatan Genuk diduga adanya pencemaran lingkungan dari limbah di kawasan industri sekitar.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Semarang, Arwita Mawarti mengatakan, DLH melakukan pengawasan dan monitoring terhadap matinya ribuan ikan milik nelayan.
Pihaknya telah berkodinasi dengan pengelola kawasan industri Terboyo.
"Kami sudah melakukan koordinasi dengan pengelola Kawasan Industri Terboyo, ada tiga perusahaan yang diduga mencemari lingkungan, tapi baru satu perusahaan yang telah selesai dilakukan pemeriksaan,” terang Arwita, Kamis (15/5/2025).
Dia mengaku prihatin melihat hasil pemeriksaan. Ternyata, ada perusahaan tidak memiliki Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).
Diketahui, perusahaan yang diperiksa ini pun belum mengurus dokumen perizinan lainnya seperti Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RKL-RPL).
"Kami akan melakukan pemeriksaan ke perusahaan lainnya. Minggu depan, kami teruskan perusahaan yang lain juga, DLH belum bisa memberikan keterangan penyebab (matinya ikan, red) karena masih dalam pemeriksaan," paparnya.
Arwita melanjutkan, DLH telah mengambil sampel air tambak yang tercemar.
Meski hasil pemeriksaan belum bisa dipatikan penyebab ikan mati, dugaan kuat adalah pencemaran limbah.
Dari tiga perusahaan yang menghasilkan limbah, satu perusahaan terbukti tidak memiliki pengolahan limbah.
"Ada tiga perusahaan yang kita curigai menghasilkan limbah. Satu perusahaan sudah positif tidak memiliki pengolahan limbah, sehingga pasti terjadi pencemaran," bebernya.
Arwita menambahkan, DLH telah memberikan teguran kepada perusahaan yang tidak memiliki IPAL. Jika perusahaan tersebut tidak mengindahkan imbauan DLH, perizinan perusahaan bisa dicabut.
Kalau dalam waktu 30 hari ke depan tidak membangun IPAL akan kami kenai sanksi. Saat ini kami sifatnya baru memberikan teguran, sanksi beratnya perizinan perusahaan itu bisa kami cabut misal segera mengurus pengolahan limbah," ungkapnya.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Semarang, Iswar Aminuddin mengatakan, sudah ada laporan dari DLH terkait dugaan pencermaan limbah di Tambak Terboyo yang menyebabkan ribuan ikan di tambak mati.
Dia meminta DLH terus melakukan monitoring agar perusahaan di kawasan industri mengolah limbah sesuai dengan mutu dan pengolahan lingkungan.
"Perusahaan harus sesuai dengan pengelolaan lingkungan yang baik, DLH saya minta terus monitoring dan melakukan investigasi," tandasnya.
Rugi Ratusan Juta
Rozikan (54) adalah satu dari beberapa petambak di kawasan Kecamatan Genuk, dia berdiri di sisi tambaknya yang kosong di kawasan Terboyokulon, Semarang.
Sembari menunjuk pada beberapa petak kosong yang seharusnya tambaknya berisi ikan, udang dan kepiting miliknya.
Pada tambak perairan payau yang Rozikan kelola itu tidak ada bandeng, nila, udang, maupun kepiting yang biasanya memenuhi petak-petak tambak miliknya.
Semua mati mendadak.
Baru saja kemarin dia membersihkan tambaknya dari ikan-ikan yang terapung membusuk.
Air yang biasanya jernih tampak berminyak, keruh, dan beberapa hari lalu berbau menyengat, seperti bau amis.
“Mulai parah itu tanggal 23 April. Hari itu saja saya rugi 25 juta. Kalau lima tambak, bisa sampai seratus juta,” ujarnya, Rabu (17/5/2025).
Dia membuka galeri ponsel pintarnya, memperlihatkan foto-foto ikan yang terapung tak bernyawa, di air tambak yang keruh dan berminyak.
“Ini buktinya. Bukan ngada-ngada, itu fakta di lapangan” kata Rozikan sambil menyodorkan layar ponselnya.
Menurutnya, pencemaran mulai terasa sekitar seminggu sebelum Lebaran.
Lima petak tambak di blok paling pojok, dekat kawasan Universitas Islam Sultan Agung, menjadi yang pertama terdampak.
Air berubah warna siang tampak hitam, malam coklat pekat seperti air comberan, dan baunya menyengat.
“Kalau dipegang itu berminyak. Minyaknya kalau di atas air kan kelihatan, misah,” tambahnya.
Rozikan dan para petambak sempat kebingungan harus berbuat apa.
Dia mengaku langsung merekam kondisi tambaknya, lalu melapor ke Kelurahan dan KNTI (Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia).
Pabrik Jadi Sumber Limbah
Dirinya menduga, adanya minyak di kawasan tambak itu diduga dari satu diantara pabrik di kawasan industri Terboyo.
Mereka menduga dari perusahaan pengolahan minyak sawit sebagai sumber limbah.
Namun, sejak pembangunan tol dan membendung lubang sirkulasi air laut di sekitar itu, menjadikan air yang menuju laut jadi terhambat.
Limbah yang sebelumnya mungkin langsung hanyut ke laut, kini mengendap, berputar-putar di area tambak yang tertutup monster beton.
“Sekarang airnya muter aja di sini, enggak bisa keluar. Minyaknya kelihatan, seperti pelangi di atas air.” ujarnya.
Dari total 11 blok tambak di kawasan itu seluas sekitar 30 hektar lima blok paling parah.
Total kerugian diperkirakan mencapai Rp250juta rupiah.
"Kerugian dua tambak yang saya kelola Rp100juta," katanya.
"Kalau bisa, segera cairkan bantuan untuk petambak yang terdampak. Kami tidak menuntut lebih hanya ganti rugi yang layak agar bisa mulai lagi," tambahnya.
Sementara itu, Slamet Ari Nugroho, Ketua DPW KNTI Jawa Tengah menyebut potensi kerugian akibat pencemaran limbah di kawasan tambak tersebut, mencapai lebih dari Rp 600 juta.
Temuan itu didasarkan pada laporan dan asesmen lapangan yang dilakukan pihaknya pada awal Mei 2025.
“Total ada 11 bidang tambak yang terdampak, milik sembilan orang. Satu orang di antaranya mengelola tiga petak,” ujar pria yang akrab disapa Ari.
Dia menjelaskan, tambak-tambak tersebut memiliki luasan bervariasi mulai dari 1 hingga 5 hektare per petak.
KNTI menerima laporan dari para petambak pada 5 Mei 2025. Sehari setelahnya, pihaknya langsung melakukan asesmen ke lapangan.
Baca juga: Potensi Ikan Melimpah, Sarif Abdillah Soroti Kesejahteraan Nelayan Cilacap
“Kami turun tanggal 6 Mei, dan memang terlihat jelas ada puluhan ton ikan mati. Air tambak tampak tercemar, warnanya berubah dan mengandung minyak,” ujarnya.
Dari hasil temuan awal, pencemaran diduga berasal dari salah satu perusahaan di kawasan Terboyo.
“Ada kandungan minyak dalam air tambak. Diduga berasal dari perusahaan pengolahan minyak sawit di sekitar sana,” imbuhnya. (*)
Harapan Baru Petani Demak, Normalisasi Sungai Pulihkan 450 Hektare Sawah yang Lama Terendam Banjir |
![]() |
---|
Warga Mranggen Desak Pemkab Demak Sediakan Unit Damkar, Selama Ini Tunggu dari Semarang |
![]() |
---|
Bantuan RTLH Demak 2026 Naik Jadi Rp20 Juta per Penerima, Bupati: Ada yang Potong Laporkan ke Saya |
![]() |
---|
Revolusi Literasi di Demak: Kini Bisa Pinjam Buku Secara Digital Lewat Aplikasi iDemak |
![]() |
---|
Warga Desa Babalan Demak Minta Adanya SLB, Bupati Siap Wujudkan |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.