Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Jawa Tengah

Curhat Pilu Warga Surodadi Jepara Bertahun-tahun Terimbas Abrasi, Harus Selalu Tinggikan Rumah

Hampir setiap tahun warga Desa Surodadi, Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara harus selalu meninggikan rumah agar terhindar dari air rob imbas abrasi.

Penulis: Dse | Editor: deni setiawan
TRIBUN JATENG/TITO ISNA UTAMA
ABRASI - Potret kondisi Desa Surodadi, Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara terdampak abrasi laut, Senin (23/6/2025). Setiap tahun warga setempat harus selalu meninggikan rumahnya agar tak kemasukan air rob. 

TRIBUNJATENG.COM, JEPARA - Nasib pilu harus ditanggung warga Desa Surodadi, Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara.

Hampir setiap tahun warga di desa tersebut harus selalu meninggikan rumah agar terhindar dari banjir rob akibat ganasnya abrasi.

Abrasi merupakan proses pengikisan atau erosi di daerah pesisir pantai yang disebabkan oleh gelombang laut, arus laut, ataupun pasang-surut air laut.

Baca juga: Pemkab Jepara akan Menambahkan Kelas SDN 3 Kaliombo Jadi Prioritas Tahun Ini Terealisasi

Baca juga: Nasib Warga Surodadi Jepara Terdampak Air Rob, Tiap Tahun Harus Tinggikan Rumah

Abrasi ini secara langsung maupun tidak langsung menyebabkan perubahan garis pantai serta kerusakan lingkungan pesisir. 

Satu di antara warga korban air rob di RT 18 RW 06 Desa Surodadi adalah Salim (70).

Dia menyampaikan, sudah lima tahun ini rumahnya menjadi langganan banjir rob.

Meski kerap menjadi langganan banjir rob akibat abrasi, nelayan warga setempat ini baru mampu meninggikan rumahnya pada tahun ini.

"Sudah sejak lima tahunan, sebelum pandemi."

"Tapi saya baru bisa tahun ini meninggikan rumah dan semampunya," kata Salim kepada Tribunjateng.com, Senin (23/6/2025).

Tahun ini, Salim baru bisa meninggikan sekira 40 sentimeter terhadap rumahnya di dekat jalur alternatif Jepara- Demak ini.

Peninggian rumah juga dilakukan tetangga Salim.

"Sebelum ditinggikan, air di dalam rumah bisa sampai selutut orang dewasa," ungkapnya.

Senada, Sulkhan (56) warga desa setempat menyampaikan, banjir rob sebenarnya mulai terjadi di desanya sekira 2016.

Pada tahun itu, Desa Surodadi sempat mendapat bantuan pemecah gelombang di bibir Pantai Desa Surodadi. 

Namun akibat ganasnya gelombang air laut, pada 2020 pemecah gelombang tersebut jebol. 

Halaman
123
Sumber: Tribun Jateng
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved