Marak Beras Oplosan, Ternyata Bisa Dikenali Secara Kasat Mata, Warna Saja Beda
Mmasyarakat sebenarnya bisa mengenali ciri-ciri beras oplosan secara kasat mata
-Adanya benda asing saat dicuci
“Cuci beras sebelum dimasak dan waspadai bila ada benda asing yang mengambang,” imbau Tajuddin.
Jenis beras oplosan yang beredar
Lebih lanjut, Prof Tajuddin memaparkan tiga jenis beras oplosan yang beredar di masyarakat:
-Beras campuran dengan bahan lain
Biasanya dicampur bahan lain seperti jagung, umum ditemukan di beberapa daerah.
-Beras blended atau campuran beberapa jenis beras
Dicampur untuk memperbaiki rasa atau tekstur, meski kadang menurunkan kualitas.
-Beras rusak yang dipoles ulang
Beras yang sudah rusak secara fisik, kimiawi, atau mikrobiologis, lalu dipoles ulang agar terlihat bagus.
“Namun, jika kerusakannya sudah parah, baik secara fisik, kimiawi, maupun mikrobiologis, maka tidak layak untuk dikonsumsi. Terlebih apabila mengandung bahan kimia atau pengawet, bisa berbahaya untuk kesehatan,” tegasnya.
Bahaya kesehatan
Dalam beberapa kasus, beras oplosan dicampur dengan zat pewarna atau pengawet yang berbahaya bagi tubuh.
Mengonsumsinya secara terus-menerus bisa meningkatkan risiko gangguan kesehatan, bahkan keracunan.
Tajuddin mengingatkan bahwa meski disimpan di tempat terkendali, kualitas beras tetap bisa menurun akibat faktor lingkungan, hama, atau mikroorganisme.
Oleh karena itu, ia menekankan, “Idealnya beras hanya disimpan maksimal enam bulan agar kualitasnya tetap terjaga.”
Tips memilih dan menyimpan beras
Agar terhindar dari beras oplosan, Prof Tajuddin mengimbau masyarakat:
- Membeli beras berlabel resmi dari sumber terpercaya.
- Menghindari membeli beras tanpa label atau dari pedagang yang tidak jelas.
- Selalu mencuci beras sebelum dimasak.
- Memeriksa warna, aroma, tekstur, dan keberadaan benda asing.
- Menyimpan beras maksimal enam bulan.
Lebih jauh, Tajuddin menyoroti pentingnya edukasi publik mengenai kualitas dan keamanan beras.
“Jika dikelola dengan baik, sebagai negara agraris, Indonesia seharusnya tidak hanya fokus pada produksi, tetapi juga pada distribusi dan konsumsi beras secara merata dan aman,” tandasnya. Sebagian tayang di Kompas.com
| Kurir Narkoba di Sukoharjo Terima Upah Rp 11 Juta untuk Dua Kali Transaksi |
|
|---|
| Anak Joko Azan di Tepi Liang Lahat saat Pemakaman Korban Heli di Klaten |
|
|---|
| Piknik Bikin Panik, Orang Tua Siswa Keluhkan Tingginya Biaya Study Tour |
|
|---|
| Sulaiman Hadirkan Suasana Serba Jadul, Pasar Slumpring Tegal Hadirkan Zona Permainan Tradisional |
|
|---|
| Warga Menikmati Suasana Alun-alun Purwokerto, yang Dibuka Kembali setelah Tujuh Tahun Tutup |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20250707_harga-beras.jpg)