Mahasiswa Magang
Mengintip Produksi Sepatu dan Sandal Kulit Homemade di Semarang
UMKM sepatu dan sandal kulit handmade ini beralamat di Jalan Puspowarno Selatan 2 No.48, Kota Semarang, Jawa Tengah.
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Di tengah maraknya produk impor dari luar negeri yang terus membanjiri pasar Indonesia, UMKM yang menjual produk sepatu dan sandal kulit handmade dengan merek Bosston masih tetap eksis.
UMKM sepatu dan sandal kulit handmade ini beralamat di Jalan Puspowarno Selatan 2 No.48, Kota Semarang, Jawa Tengah. Usaha ini memproduksi sepatu dan sandal yang dikerjakan secara manual buatan tangan atau homemade.
Oleh sebab itu, proses pembuatannya tentu mengandalkan keterampilan tangan. Keunggulan produk sepatu dan sandal kulit bermerek Bosston ini terletak pada kualitas bahan yang digunakan serta proses pembuatannya.
Produk ini menggunakan bahan utama dari kulit sapi asli dan diproduksi dengan buatan tangan sendiri (handmade) yang memanfaatkan penggunaan mesin press untuk memperkuat daya rekat lem.
“Dengan ditekan menggunakan bantuan mesin press, menjadikan lem pada produk ini tentu jauh lebih kuat,” jelas Muhammad Soefudin, anak dari pendiri UMKM ini.
Dengan mempertahankan proses pembuatan secara handmade yang masih mengandalkan keterampilan tangan, menjadikan produk ini sangat memperhatikan daya tahan dan kualitas dari produk yang dihasilkan secara detail. Tak heran, jika produk ini mampu memberikan jaminan yang tidak akan mengecewakan bagi para pembeli atau costumer.
UMKM ini menyediakan berbagai jenis alas kaki, mulai dari sepatu formal atau sehari-hari, sepatu pantofel, slop kejawen, hingga sandal kulit yang dapat dipesan secara custom menyesuaikan dengan keinginan atau desain para konsumen.
Maka dari itu, konsumen diberi kebebasan dan keleluasaan untuk memilih desain dan menyesuaikan model sesuai kebutuhan dan selera mereka pribadi. UMKM ini menggunakan dua nama merek berbeda, yakni untuk produk sepatu biasanya menggunakan merek Bosston, sedangkan produk sandal bermerek Bosston dan Beat-Xshoes.
Usaha ini pertama kali mulai dirintis oleh Sofian sekitar tahun 1985. Pada saat itu, bermula dari ia terkena PHK dari sebuah pabrik kulit tempat ia bekerja. Kemudian setelah terkena PHK, ia memutuskan untuk meneruskan keahliannya dan mengembangkan kreativitasnya membangun usaha kecil-kecilan dari rumah dengan memproduksi sepatu dan sandal kulit. Lambat laun, berkat kegigihannya, usaha tersebut terus berkembang dan mulai dikenal masyarakat sekitar.
Proses produksi sepatu dan sandal ini berlangsung di rumahan, tepatnya di area belakang kios penjualan UMKM ini. Pada masa jayanya sekitar tahun 2000-an, usaha ini pernah memperkerjakan belasan karyawan yang membantu dalam proses produksi. Namun, sejak pandemi COVID-19 menyebabkan adanya pengurangan jumlah pekerja.
Meski demikian, kegiatan produksi tetap berjalan dengan lancar dan penuh ketelitian terhadap produk yang dihasilkan.
Proses produksi dilakukan dengan menentukan desain, baik menggunakan desain yang sudah tersedia maupun desain yang dipesan secara khusus oleh konsumen. Dalam hal ini, jika satu model atau desain mendapat banyak peminat, maka akan diproduksi dalam jumlah massal. Meski produksi dilakukan secara terbatas, kualitas dari produk ini tetap menjadi prioritas utama.
Produk sepatu dan sandal kulit handmade biasanya ditujukan bagi masyarakat kelas menengah hingga menengah ke bawah. Adapun sandal dijual dengan harga sekitar Rp 100.000 hingga Rp 150.000, sementara sepatu dijual dengan kisaran harga Rp 150.000 hingga Rp 200.000. Harga yang bersahabat ini menjadi salah satu alasan tingginya minat para konsumen terhadap produk berbahan kulit sapi asli ini.
Permintaan produk sepatu dan sandal kulit biasanya mengalami peningkatan saat menjelang lebaran, musim pernikahan, saat tahun ajaran baru atau berbagai acara sekolah. Momen-momen tersebut menjadi pendorong utama peningkatan produksi, karena banyak dari customer membutuhkan alas kaki baru dengan kualitas yang bagus untuk keperluan formal maupun pemakaian sehari-hari.
Untuk pesanan, jika ramai bisa mencapai 40 hingga 60 pasang sepatu atau sandal perminggu untuk kebutuhan grosir, belum termasuk penjualan eceran. Kapasitas produksi dalam seminggu bisa mencapai 20 pasang sepatu atau sandal jika sedang ramai.
Proses pengerjaan produk jadi pun dilakukan setiap minggu untuk memenuhi permintaan pasar. Sebagai konsumen tentu tidak hanya mencari produk yang nyaman untuk dipakai, namun juga memperhatikan tampilan visual yang elegan dan ketahanan produk.
| Pecinta Menu Western Bisa Cicipi Kuliner Madame & Co di Jatingaleh Semarang |
|
|---|
| Hortimart Agro Center di Bawen Menginspirasi Inovasi Pertanian Modern |
|
|---|
| The Bunny Tales Surga Souvenir Lucu buat Hadiah Spesial |
|
|---|
| Etto Dessert Hadirkan Kuliner Jepang di Kota Lama Semarang |
|
|---|
| Mengintip The Olive Manor Kuliner Baru yang Unik di BSB City Semarang |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/produsen-sepatu-dan-sandal-kulit-homemade-di-semarang.jpg)