Pemasaran produk sepatu dan sandal kulit handmade ini sebagian besar masih dilakukan secara lokal, terutama di pasar-pasar lokal. Tidak hanya itu, terdapat pula pihak-pihak seperti sales atau pedagang yang membeli produk secara grosir untuk dijual kembali ke konsumen. Meski, berbasis rumahan, pemasaran produk juga dilakukan dengan memanfaatkan media sosial seperti melalui Facebook dengan nama akun “Bosston Leather” dan platform marketplace Shopee dengan nama akun “Bosstonleather”.
Upaya ini dilakukan agar dapat menjangkau konsumen yang lebih luas. Soefudin menjelaskan bahwa memilih mengembangkan usaha di bidang sepatu dan sandal kulit tentu bukan tanpa alasan. Melainkan menurutnya, produk sepatu dan sandal berbahan kulit justru cenderung lebih bertahan lama, tidak mudah rusak, dan memiliki nilai jual yang stabil atau terjangkau di kalangan masyarakat. Selain itu, alas kaki kulit ini juga masih banyak peminatnya di berbagai kalangan.
Dengan demikian, produk sepatu dan sandal kulit handmade Bosston ini menjadi contoh nyata bagaimana karya dengan menggunakan keahlian tangan dan semangat wirausaha dapat bertahan dari masa ke masa hingga saat ini. Di tengah tantangan industri dan pesatnya perkembangan zaman, UMKM ini tetap menjadi simbol ketekunan, kualitas, dan keberpihakan para konsumen yang masih tinggi terhadap produk lokal buatan dalam negeri. (Afifah Salma Ramadhani/Mahasiswa Undip Magang Tribunjateng.com)