"Harganya tidak stabil, setiap hari naik-turun. Tapi yang pasti tahun ini naik hampir 2 kali lipat dari tahun lalu. Misalnya harga petik campur untuk kopi jenis robusta, tahun kemarin sekitar Rp 5.000 - Rp 6.000/Kg, sekarang sekitar Rp 10.000/Kg. Kalau minggu lalu, antara Rp 9.500 - Rp 9750/Kg ke tengkulak," jelasnya.
Menurut Zaidi, kenaikan harga kopi ini terjadi di tengah menurunnya kuantitas dari hasil panen.
"Tahun ini buahnya tidak sebanyak tahun kemarin. Hasil panen menurun dari segi kuantitasnya.
Dampak penurunan kuantitas ini tidak hanya satu dua orang (petani), tapi mayoritas petani kopi. Penurunannya ada yang sampai 50 persen," terangnya.
Sementara itu, dia mengatakan, di tengah penurunan hasil panen kopi tahun ini ia masih mendapat untung yang cukup karena harga kopi yang meroket.
"Secara ekonomi, panen tahun ini sangat menguntungkan nilainya. Komoditas salah satunya cengkeh itu banyak yang mati, kopi sekarang menjadi yang utama. Ini berbalik dengan dahulu, yang dianggap panen raya adalah cengkeh," ujarnya. (idy)
Baca juga: BREAKING NEWS : Truk Ekspedisi Sentral Cargo Terbakar di Semarang
Baca juga: Ketua DPRD Demak Pesan Empat Pilar Bangsa Untuk Antisipasi Bullying
Baca juga: Semarakkan 1 Muharram 1445 H, Puluhan Ribu Santri Kabupaten Wonosobo Ikuti Pawai
Baca juga: Cerita Tiara Bocah Pati yang Marah Ibunya Selingkuh dengan Camat, Ibu pun Murka Anak Disebut Durhaka