Tribun Jateng Hari Ini
Penilaian IPO Jadi Kendala Upaya Menarik Investasi Objek Wisata Baturraden
Dalam proses penjajakan investasi, sektor pariwisata di Banyumas masih dianggap kurang menarik oleh konsultan dan penilai IPO.
Penulis: Permata Putra Sejati | Editor: Vito
TRIBUNJATENG.COM, PURWOKERTO - Upaya Pemkab Banyumas menarik investasi besar di sektor pariwisata di objek Wisata Baturraden belum berjalan mulus.
Meski minat investor cukup tinggi, mekanisme penilaian investasi melalui skema Initial Public Offering (IPO) menjadi satu kendala masuknya modal ke kawasan wisata unggulan tersebut.
Hal itu diungkapkan Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono, usai Rapat Koordinasi Terpadu Kesiapsiagaan Wilayah Menghadapi Natal 2025 dan Tahun Baru 2026, di Smartroom Graha Satria, Kompleks Pendopo Si Panji, Purwokerto, Rabu (17/12).
Menurut dia, Baturraden sejatinya telah disiapkan sebagai primadona pariwisata Banyumas, dengan kondisinya saat ini dinilai sudah cukup baik untuk dikembangkan lebih lanjut.
Namun, dalam proses penjajakan investasi, sektor pariwisata di Banyumas masih dianggap kurang menarik oleh konsultan dan penilai IPO.
"Saya sudah dapat investor, salah satunya Taman Safari, tapi masuknya lewat IPO. Kalau IPO itu pakai konsultan dan investor asing, termasuk dari Australia. Dari 11 yang mendaftar, pariwisata dianggap kurang menarik," katanya.
Sadewo menuurkan, penilaian tersebut tidak hanya berlaku untuk Banyumas, melainkan juga menjadi persoalan umum sektor pariwisata di berbagai daerah.
Akibatnya, dia menambahkan, dari 11 rencana investasi yang diajukan dalam proses IPO, hanya empat yang akhirnya disetujui, sementara tujuh lainnya dicoret.
Padahal, ia menyebut, ketertarikan investor terhadap Baturraden sebenarnya cukup besar. Ia pun mengaku masih berupaya meyakinkan agar pengembangan wisata di Baturraden dapat benar-benar terealisasi.
"Sebenarnya investornya sudah tertarik sekali. Tapi dari IPO-nya menolak, alasannya di konsultan. Mereka menganggap sektor wisata kurang menarik," terangnya.
Selain persoalan IPO, Sadewo juga menyoroti tantangan pengelolaan destinasi wisata yang belum sepenuhnya dikelola secara profesional dan adaptif terhadap tren pasar.
Ia menilai, pengelolaan pariwisata ke depan harus berbasis konsep tematik dan mengikuti minat masyarakat.
"Sekarang itu zamannya tematik. Kalau tempatnya kita benahi dan pelayanannya bagus, itu bisa jalan. Tapi ini harus dikelola orang-orang yang profesional di bidang wisata," jelasnya.
Sadewo mencontohkan, unit usaha yang dikelola BLUD harus berani beradaptasi apabila tidak lagi diminati. Perubahan konsep menjadi kunci agar destinasi tetap hidup.
"Contoh Sambel Layah itu sudah tidak laku, ya diganti. (Misalnya-Red) jadi bebek rakyat. Begitu juga Taman Mas Kemambang, mestinya dibuat tematik. Kalau lagi tren musik dangdut, ya kasih musik dangdut," bebernya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20251031_Lokawisata-Baturraden.jpg)