Senin, 27 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Banyumas

DLH Banyumas Ungkap Kondisi Lingkungan Eekitar Eks Proyek PLTP Baturaden 

Ichya mengatakan, dia tidak mengetahui terkait adanya isu proyek gagal tersebut diambil alih oleh perusahaan negara

Penulis: Fajar Bahruddin Achmad | Editor: muslimah
TRIBUN JATENG/KOMPAS.COM/DOK WARGA
PORAK PORANDA - Obyek wisata Telaga Sunyi, Baturraden, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, dipenuhi lumpur, Sabtu (24/1/2026). 

"Tapi itu perlu dikaji apakah sudah cukup efektif dan tumbuh dengan baik. Itu memang belum ada kajian," katanya. 

Terkait banjir bandang, menurut Ichya, potensi itu tetap ada karena adanya bukaan lahan di wilayah hutan lindung, terutama di daerah Desa Pandansari.

Tetapi kemungkinan sumbernya dari eks proyek PLTP, dia mengetahui.

"Kita tidak tahu, mudah-mudahan tidak terjadi," ungkapnya. 

Dugaan Warga

Sebelumnya, sempat viral di media sosial aliran air di Curug Cipendok di Desa Karangtengah, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, mengalir deras dan keruh berwarna coklat.

Kejadian itu berlangsung bersamaan dengan banjir bandang di beberapa daerah yang di bawah Gunung Slamet. 

Warga menduga keruhnya aliran Curug Cipendok karena dampak di bekas proyek PLTP di lereng Gunung Slamet. 

Sekretaris Desa Karangtengah, Agus Sulistyono mengatakan, kejadian aliran Curug Cipendok mengalir deras dan berwarna keruh itu minggu lalu, bersamaan banjir bandang di beberapa daerah lain.

Tetapi di wilayahnya debit air tidak menambah hingga menyebabkan banjir bandang, hanya membuat air keruh.

"Persis kaya di video. Dari hulunya seperti itu, sumbernya ke atas dari Gunung Slamet," katanya.

Saat ditanya kemungkinan keruhnya air akibat proyek PLTP yang gagal, Agus mengungkapkan, tidak tahu persisnya.

Karena menurutnya, untuk mencapai lokasi proyek PT Sejahtera Alam Energy (SAE) yang gagal itu harus melelui akses jalan Kaligua, Kabupaten Brebes. 

"Belum ada penjelasan resmi. Belum tahu sumbernya dari mana," ungkapnya. 

Dulu Sempat Tedampak

Agus bercerita, dulu saat proyek tersebut berjalan di tahun 2017, dampaknya memang dirasakan oleh warga di Desa Karangtengah. 

Keruhnya air hingga menyebabkan petani ikan dan padi jadi korban.

Bahkan ketebalan lumpur di air sungai sampai 10 centimeter.

"Dampaknya endapan lumpur dan pasir. Tanah pertanian jadi mengeras," katanya. 

Agus mengatakan, lumpur persawahan yang awalnya gembur, tertumpuk lumpur baru.

Imbasnya sampai sekarang masih terasa, padi yang ditumbuh jadi kerdil.

"Dulu tanah di sini subur, sekarang jadi gak sehat," jelasnya. (fba)

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved