Tribun Jateng Hari Ini
IHSG Ambruk Imbas Pengumuman MSCI, Panic Selling Landa Pasar
IHSG ditutup anjlok 7,35 persen ke 8.320,55 pada akhir perdagangan Rabu (28/1). Perdagangan sempat dibekukan sementara saat IHSG anjlok 8 persen.
TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk pada perdagangan Rabu (28/1).
Hal itu dipicu sentimen negatif dari kebijakan pengelola indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Dalam pengumumannya, MSCI memutuskan menghentikan sementara sejumlah perubahan indeks yang melibatkan emiten Indonesia.
Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman menilai, pengumuman tersebut memicu aksi panic selling di pasar modal domestik.
“Jadi hasil daripada apa yang terjadi hari ini memang menurut saya panic selling,” ujarnya, ditemui di Gedung BEI, Jakarta.
Adapun, IHSG ditutup anjlok 659,67 poin atau 7,35 persen ke 8.320,55 pada akhir perdagangan Rabu (28/1). Tekanan sudah terlihat sejak awal perdagangan, di mana IHSG dibuka di level 8.393,51.
Sistem perdagangan Jakarta Automated Trading System (JATS) BEI sempat dibekukan sementara alias trading halt saat IHSG anjlok 8 persen atau turun 718,441 poin ke level 8.261,78 pukul 13.42.
Perdagangan saham kembali dibuka pada pukul 14.13, namun IHSG tidak menunjukkan pemulihan. Tekanan jual justru berlanjut.
Sesaat setelah perdagangan dibuka, IHSG turun 742,58 poin atau 8,27 persen ke level 8.237,64, tetapi sedikit berbalik arah menjelang penutupan.
Iman menuturkan, tekanan pasar muncul dari dua isu utama berkait dengan pengumuman MSCI. Isu pertama mengenai pembekuan rebalancing indeks MSCI pada Februari 2026.
Kondisi itu membuat tidak ada penambahan maupun pengurangan saham Indonesia di indeks MSCI pada periode tersebut.
“Panic selling karena dua hal yang disampaikan, pertama untuk di bulan Februari rebalancing di freeze," bebernya.
"Jadi kalau kami terjemahkan apa yang disampaikan tidak ada penambahan atau pengurangan konstituen perusahaan tercatat kita di MSCI,” sambungnya.
Iman menyatakan, isu kedua dinilai lebih sensitif bagi pelaku pasar. Kekhawatiran muncul berkait dengan data free float yang diminta MSCI.
Data yang diajukan otoritas pasar dinilai belum memenuhi kebutuhan MSCI. Persepsi tersebut berkembang cepat di pasar dan memicu aksi jual secara luas.
“Tetapi memang yang jadi concern adalah kalau data yang mereka minta, jadi artinya data yang kami usulkan mereka merasa tidak cukup,” tuturnya.
Diketahui, MSCI menyampaikan peringatan lanjutan, di mana Indonesia diminta menunjukkan kemajuan signifikan berkait dengan transparansi data hingga Mei 2026. Kegagalan memenuhi permintaan itu berisiko menurunkan status pasar Indonesia.
Iman menyebut, penurunan peringkat dari emerging market ke frontier market menjadi skenario yang diperhitungkan.
“Kalau data transparansi yang mereka harapkan itu tidak terpenuhi sampai dengan dengan bulan Mei, mereka akan menurunkan peringkat kita dari emerging market menjadi frontier market,” jelasnya.
“Artinya, kita mungkin sejajar dengan Vietnam dan Filipina. Karena sekarang kan di emerging market sama dengan Malaysia,” sambungnya.
Ia berujar, BEI telah berkoordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) untuk menindaklanjuti masukan MSCI. Otoritas bursa menegaskan tetap menghormati metodologi serta independensi MSCI.
Iman menilai, surat dari MSCI menjadi momentum untuk memperkuat transparansi pasar. Fokus diarahkan pada data kepemilikan saham di bawah 5 persen.
“Kami menghormati independensi masing-masing dalam tata cara penilaian. Kami juga berterima kasih, justru bahwa dengan adanya surat tersebut menjadikan ada pihak yang meminta transparansi atas data kita yang pre-vote di bawah 5 persen,” jelasnya.
Adapun, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan, biang kerok bursa saham Indonesia babak belur berkait dengan adanya praktik yang kurang transparan di bursa, hingga masalah tukang 'goreng-goreng' saham.
Ia menilai, sentimen pengumuman dari MSCI soal bursa saham Indonesia jadi biang kerok panic selling di bursa.
Menurut dia, hal itu membuktikan bursa selama ini kurang transparan dan juga praktik goreng saham masih menjamur.
"Ya menurut saya IHSG kan jatuh karena berita yang MSCI, yang menganggap kita kurang transparan, dan banyak goreng-gorengan saham segala macam kan. Persyaratan mereka ya itu manajemen bersih dan free float-nya berapa persen," tuturnya, di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Rabu (28/1).
Meski demikian, Purbaya menyebut, anjloknya IHSG adalah reaksi berlebihan di pasar menanggapi pengumuman MSCI.
"Ini saya pikir reaksi yang berlebihan, karena kan ini baru laporan pertama kan. Masih ada waktu eksekusi sampai bulan Mei kan," tukasnya.
Ia mengaku sudah bicara dengan OJK yang menjadi regulator perdagangan saham. Purbaya pun menjamin perbaikan akan dilakukan dan membuat pasar pulih kembali.
"Jadi, ini hanya shock sesaat. Jadi, pasti perusahaan-perusahaan itu akan bisa menyesuaikan MSCI, dan bisa masuk ke indeksnya MSCI, maupun saham yang boleh diinvestasi oleh perusahaan-perusahaan asing global," paparnya. (Kompas.com/Suparjo Ramalan)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/ihsg-cetak-rekor-lagi.jpg)