Jumat, 22 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Tribun Jateng Hari Ini

Suku Bunga Tinggi Potensial Tekan Perekonomian

Kebijakan suku bunga tinggi diperkirakan mulai memberi tekanan terhadap ekonomi domestik pada semester II/2026. 

Tayang:
Editor: Vito
istimewa
ilustrasi ekonomi 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) alias BI Rate sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 5,25 persen berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi, meski dinilai penting untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan meredam tekanan imported inflation. 

Kepala Pusat Makroekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M Rizal Taufikurahman mewanti-wanti kebijakan suku bunga tinggi diperkirakan mulai memberi tekanan terhadap ekonomi domestik pada semester II/2026. 

Menurut dia, dampak kenaikan BI Rate terhadap sektor riil umumnya tidak terjadi secara langsung, melainkan melalui proses transmisi yang membutuhkan waktu atau time lag. 

“Konsekuensinya, tekanan terhadap sektor riil akan mulai terasa di kuartal II, dan cenderung lebih kuat di kuartal III, karena transmisi suku bunga ke kredit, konsumsi rumah tangga, dan investasi biasanya memiliki time lag,” katanya, kepada Kontan, Kamis (21/5). 

Rizal menuturkan, sektor yang paling rentan terdampak kenaikan suku bunga ialah sektor properti, otomotif, dan UMKM. Ketiga sektor itu dinilai sangat sensitif terhadap kenaikan bunga kredit dan pelemahan daya beli masyarakat. 

Ia menyebut, bunga kredit yang lebih tinggi akan membuat masyarakat cenderung menunda pembelian rumah maupun kendaraan, sementara pelaku UMKM juga menghadapi biaya pinjaman yang lebih mahal. 

Di sisi lain, Rizal melihat tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi semakin besar karena terjadi bersamaan dengan pelemahan rupiah, efisiensi belanja kementerian/lembaga (K/L), serta moderasi stimulus fiskal, termasuk pemangkasan program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebesar Rp 67 triliun menjadi Rp 268 triliun dari anggaran awal Rp 335 triliun dalam APBN 2026. 

Menurutnya, kombinasi berbagai faktor tersebut berpotensi membuat momentum pertumbuhan ekonomi melambat pada semester II/2026. Apalagi, di kuartal II dan III minim momentum pendorong konsumsi masyarakat. 

Rizal memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II/2026 masih berada di kisaran 5,1-5,3 persen.

Namun, pada kuartal III/2026 pertumbuhan ekonomi berisiko turun ke kisaran 4,9-5,1 persen, terutama apabila penyaluran kredit dan konsumsi rumah tangga terus melemah. 

“Artinya, tantangan terbesar saat ini bukan hanya menjaga stabilitas makro, tetapi memastikan kebijakan stabilisasi tidak terlalu menekan pertumbuhan ekonomi domestik,” bebernya. 

Ia menilai, kondisi saat ini menunjukkan adanya dilema kebijakan bagi bank sentral. Di satu sisi, BI perlu menjaga stabilitas rupiah dan mengendalikan imported inflation di tengah ketidakpastian global. 

Di sisi lain, kebijakan suku bunga tinggi juga berisiko mengurangi momentum pertumbuhan ekonomi domestik apabila berlangsung terlalu lama. (Kontan/Nurtiandriyani Simamora)

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved