Tribun Jateng Hari Ini
Ambruk Lagi Sambut Pemimpin Baru BEI dan OJK, IHSG Masih Rawan Koreksi
sentimen negatif datang dari kombinasi koreksi harga komoditas, tekanan pada saham-saham berbasis emas, serta sikap wait and see investor.
TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Tekanan jual masih membayangi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di awal pekan, menyambut pimpinan sementara Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangnan (OJK).
Pada perdagangan Senin (2/2), IHSG ditutup ambruk 4,88 persen ke level 7.922,73.
Diketahui, Jeffrey Hendrik ditunjuk menjadi Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama BEI, menggantikan Iman Rachman yang mundur dari jabatannya pada Jumat lalu, akibat anjloknya IHSG.
Sementara, Friderica Widyasari Dewi ditunjuk sebagai Ketua sekaligus Wakil Ketua OJK, menggantikan Mahendra Siregar dan Mirza Adityaswara, yang juga mundur karena masalah yang sama.
Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang mengatakan, sentimen negatif datang dari kombinasi koreksi harga komoditas, tekanan pada saham-saham berbasis emas, serta sikap wait and see investor terhadap agenda otoritas pasar modal.
“Pasar masih cenderung menunggu perkembangan pertemuan BEI dengan MSCI terkait ketentuan transparansi data free float. Di sisi lain, IHSG juga dibebani tekanan dari emiten konglomerasi dan emiten gold related seiring koreksi harga emas dunia,” katanya, kepada Kontan, Senin (2/2).
Dari sisi makro domestik, menurut dia, pelemahan IHSG terjadi di tengah depresiasi rupiah ke level Rp 16.798 per dolar AS di pasar spot.
Meski demikian, sejumlah indikator ekonomi menunjukkan sinyal positif. Indeks PMI Manufaktur Indonesia meningkat ke level 52,6 pada Januari 2026 dari 51,2 bulan sebelumnya, menandakan ekspansi aktivitas pabrik yang berlanjut selama enam bulan berturut-turut.
Surplus neraca perdagangan Indonesia juga naik menjadi 2,52 miliar dolar AS pada Desember 2025, didorong pertumbuhan ekspor sebesar 11,64 persen secara tahunan.
Sementara, inflasi tahunan berakselerasi menjadi 3,55 persen pada Januari 2026, meskipun secara bulanan masih tercatat deflasi 0,15 persen.
Dari eksternal, mayoritas bursa Asia ditutup melemah. Tekanan datang dari anjloknya indeks Kospi Korea Selatan yang sempat memicu trading halt, kekhawatiran akan bubble di sektor kecerdasan buatan (AI), serta aksi jual lanjutan pada emas dan perak seiring dengan penguatan dolar AS.
Secara teknikal, Alrich menilai, tekanan jual masih dominan. Pelebaran histogram negatif MACD mengindikasikan pola distribusi, sementara Stochastic RSI telah berada di area oversold, namun belum menunjukkan sinyal pembalikan arah.
“IHSG masih bertahan di atas MA200 di sekitar 7.786. Selama masih berada di bawah 8.000, peluang pengujian area support tersebut masih terbuka,” ucapnya.
Untuk perdagangan Selasa (3/2), Alrich merekomendasikan saham AADI, MYOR, ICBP, INDF, dan JSMR.
Senada, Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menyebut, sentimen pertemuan BEI dengan MSCI turut menjadi faktor yang membuat investor berhati-hati.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/ihsg-pasar-modal-bei.jpg)