Senin, 13 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Tribun Jateng Hari Ini

Perdagangan Saham Justru Melonjak di Tengah Pelemahan IHSG

Rata-rata volume perdagangan harian pada awal 2026 meningkat tajam lebih dari 54 miliar lembar saham, melampaui rata-rata sepanjang 2025.

Penulis: Rezanda Akbar D | Editor: Vito
Tribunnews.com/Eka Yulianti Fajlin
Kepala BEI Jawa Tengah 1, Fanny Rifqi El Fuad 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Di tengah pelemahan IHSG dalam beberapa waktu terakhir, aktivitas perdagangan di pasar modal justru menunjukkan tren sebaliknya.

Kepala Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) Jateng 1, Fany Rifqi mengatakan, volume dan frekuensi transaksi saham pada awal 2026 mengalami lonjakan signifikan, bahkan melampaui capaian tahun sebelumnya.

“Kalau dilihat dari data perdagangan, 2026 ini justru lebih tinggi, tapi indeksnya memang sedang turun,” katanya, saat ditemui di kantornya, Selasa (31/3).

Menurut dia, lonjakan aktivitas itu tidak lepas dari meningkatnya aksi jual di tengah tekanan pasar. “Ketika indeks turun, transaksi biasanya tinggi karena banyak yang melakukan aksi jual,” jelasnya.

Berdasarkan data BEI, rata-rata volume perdagangan harian pada awal 2026 meningkat tajam hingga mencapai lebih dari 54 miliar lembar saham, melampaui rata-rata sepanjang 2025.

Tak hanya itu, nilai transaksi harian juga ikut naik menjadi sekitar Rp 30 triliun per hari dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di kisaran Rp 18 triliun.

Sementara, frekuensi transaksi tercatat menembus lebih dari 3 juta kali per hari, mencerminkan tingginya aktivitas jual beli di pasar saham.

Di sisi lain, IHSG mengalami penurunan dari posisi all time high pada Desember 2025 di kisaran 8.600 ke level 7.000-an pada Maret 2026.

Fany menuturkan, pelemahan itu lebih banyak dipengaruhi faktor global yang terjadi secara beruntun, mulai dari pengumuman indeks global oleh MSCI, kebijakan suku bunga tinggi di AS, hingga revisi outlook utang Indonesia oleh Moody’s.

Selain itu, eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Israel, dan AS turut menekan pasar, diperparah dengan kenaikan harga minyak dunia dan pelemahan nilai tukar rupiah. 

“Kalau ditanya ini (pelemahan IHSG-Red) faktor lokal atau global, jawabannya global semua,” tegasnya.

Pada 2026, kinerja indeks sektoral di BEI menunjukkan perubahan arah yang cukup tajam dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Sejumlah sektor yang sebelumnya perkasa pada 2025, kini justru melemah. 

Sektor teknologi dan infrastruktur yang tahun lalu mencatat lonjakan tertinggi masing-masing di atas 80 persen, bahkan tembus 100 persen pada awal 2026, justru menjadi yang paling tertekan, dengan penurunan mencapai dua digit.

Sebaliknya, sektor bahan baku (basic materials) dan transportasi menjadi yang paling kuat pada 2026. Keduanya masih mampu mencatatkan pertumbuhan positif, di tengah mayoritas sektor lain yang terkoreksi.

Jika dibandingkan dengan 2025, perbedaannya cukup kontras. Tahun lalu, hampir seluruh sektor mencatat kinerja positif, mencerminkan kondisi pasar yang bullish dan optimistis. Namun pada 2026, tren berbalik, dengan sebagian besar sektor masuk zona merah.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved