Rabu, 8 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Tribun Jateng Hari Ini

Mentan bakal Kumpulkan Importir untuk Jaga Harga Kedelai  

Mentan belum mengetahui pasti penyebab kenaikan harga kedelai. Namun, pemerintah akan berupaya untuk meniaga stabilitas harga pangan. 

Editor: Vito
Tribun Jateng/Idayatul Rohmah
ILUSTRASI KEDELAI 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman akan mengumpulkan importir kedelai untuk meredam gejolak yang dialami para perajin tempe akibat kenaikan harga komoditas itu. 

“Kedelai nanti kami minta ke pada importir untuk tidak menaikan harga tidak terlalu tinggi,” katanya, di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (7/4).

Dia menambahkan, pihaknya akan meninjau ke lapangan untuk mencari tahu penyebab serta seberapa besar kenaikan harga kedelai dan dampaknya terhadap harga tempe sekarang ini.

Amran menuturkan, masih belum mengetahui pasti penyebab kenaikan kedelai ini. Namun, pemerintah akan berupaya semaksimal mungkin untuk meniaga stabilitas harga pangan. 

“Mari kita jaga stabilitas harga pangan, dan kita ada empati, peduli saudara-saudara kita. Nanti kami cek detailnya, karena baru pulang dari luar daerah,” ucapnya.

Diketahui, kenaikan harga tempe terjadi di sejumlah daerah, di antaranya Kota Malang, Jakarta, Jember,  Cimahi, dan lain-lain.

Pedagang tempe di Kota Cimahi, Jawa Barat, Kusnanto mengatakan, harga kedelai biasanya di rentang harga Rp 8.000-Rp 9.000 per kg.

Namun, saat ini harganya sudah menyentuh Rp 10.800/kg. "Penyebab kenaikan katanya karena faktor dolar, sama kendala di Selat Hormuz yang ditutup Iran," ujarnya.

Sebagai pengusaha, ia tidak bisa berbuat banyak dan memilih tetap produksi untuk memenuhi permintaan pasar, meski jumlahnya mengalami penurunan. Namun, harga tempe menjadi naik, atau siasat lain ukurannya diperkecil. 

"Kami pengusaha mengikuti saja, yang penting ketersediaan (kedelai-Red) ada, daripada murah tapi barang (kedelai-Red) tidak ada repot juga. Tidak apa-apa mahal yang penting tetap ada, tetap bisa produksi," ujarnya.

Sementara, perajin tempe di sentra industri tempe Sanan Kota Malang mengeluhkan naiknya harga kedelai impor. Sejak beberapa pekan terakhir, harga bahan baku tempe yakni kedelai yang diimpor dari Amerika mengalami kenaikan.

Kedelai yang sebelumnya Rp 9.800/kg terus naik menjadi Rp 10.600/kg. Naiknya harga kedelai ini menurut perajin tempe terjadi sejak meletusnya perang Iran melawan AS-Israel.

Satu perajin tempe Afriantoro menyatakan, sejak harga kedelai naik, perajin harus memikirkan cara agar tetap bertahan dan menutup biaya produksi. 

Karena mereka tidak mungkin menaikkan harga jual tempe, ia berujar, perajin terpaksa memperkecil ukuran tempe dari biasanya.

Menurut dia, cara itu diambil agar bisa menutup biaya produksi seperti biaya elpiji dan ongkos karyawan. Saat berjualan di pasar, perajin juga memberikan pemahaman kepada konsumen tentang kenaikan harga kedelai impor.

"Produksinya tetap, cuma ukurannya dikurangi 1 sentimeter lebih kecil dari biasanya," tukasnya.  (Tribunnews/Taufik Ismail/Kompas.com)

Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved