Sabtu, 13 Juni 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Ekonomi

Harga Pertamax Naik Saat Rupiah Melemah, Risiko Inflasi dan Tekanan Daya Beli Mengintai

Tidak hanya masyarakat, kenaikan harga Pertamax juga berpotensi berdampak terhadap sektor usaha

Tayang:
Penulis: Rezanda Akbar D | Editor: muslimah
TRIBUN JATENG/Rezanda Akbar D
ANTREAN BBM – Sejumlah pengendara sepeda motor mengantre untuk mengisi bahan bakar Pertalite di SPBU Pemuda Semarang. 

Harga Pertamax Naik Saat Rupiah Melemah Risiko Inflasi dan Tekanan Daya Beli Mengintai

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai memberikan tekanan terhadap berbagai sektor ekonomi, termasuk energi. 

Kenaikan harga BBM non subsidi jenis Pertamax dinilai menjadi salah satu dampak yang perlu diperhatikan karena komponen pembentuk harga BBM masih banyak dipengaruhi kondisi pasar global.

Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas PGRI Semarang, Heri Prabowo, mengatakan pelemahan rupiah memiliki hubungan erat dengan harga BBM, terutama produk yang penentuan harganya mengikuti harga minyak dunia dan transaksi internasional menggunakan dolar AS.

Menurutnya, ketika rupiah melemah, biaya yang harus dikeluarkan untuk memenuhi kebutuhan energi dari luar negeri otomatis meningkat. 

Kondisi tersebut kemudian berpotensi memengaruhi harga jual BBM di dalam negeri.

Baca juga: Resmi Berubah, Daftar Harga Bahan Bakar Minyak BBM Terbaru Sabtu 13 Juni 2026, Naik Rp 3.950

“Pelemahan rupiah tentu akan memiliki dampak terhadap kenaikan BBM, khususnya yang non subsidi seperti Pertamax," kata Heri Jumat (12/6/2026).

"Karena yang kita ketahui, beberapa komponen energi yang dimiliki negara kita masih bergantung pada pasar internasional dan transaksi menggunakan mata uang asing, khususnya dolar,” tambahnya.

Ia menjelaskan, pelemahan rupiah tidak hanya berdampak pada harga pembelian minyak, tetapi juga berbagai biaya lain seperti distribusi dan komponen pendukung energi yang menggunakan mata uang asing.

Sebagai gambaran, kata Heri, apabila sebelumnya suatu transaksi membutuhkan biaya 1 juta dolar AS dengan asumsi kurs Rp14 ribu hingga Rp15 ribu per dolar, maka ketika nilai tukar rupiah melemah hingga berada di kisaran Rp18 ribu per dolar, nilai yang harus dibayarkan dalam rupiah akan meningkat.

“Artinya, ketika dikonversikan ke rupiah, biaya yang dikeluarkan menjadi lebih besar. Itu pasti akan berpengaruh terhadap harga,” jelasnya.

Selain pelemahan kurs, harga minyak dunia juga menjadi faktor utama yang menentukan harga BBM. 

Heri menyebut Indonesia masih memiliki ketergantungan cukup besar terhadap impor minyak karena produksi dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.

“Indonesia saat ini masih sangat bergantung pada impor energi, khususnya minyak atau BBM. Kapasitas produksi dalam negeri belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan. Ketergantungan impor ini hampir sekitar 40 persen,” ujarnya.

Menurut Heri, kondisi tersebut membuat harga BBM di Indonesia cukup sensitif terhadap perubahan ekonomi global. 

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup B - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 02:00 WIB
Canada
Kanada
1 - 1
Bosnia
Bosnia
Grup D - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 08:00 WIB
United States
Amerika Serikat
4 - 1
Paraguay
Paraguay
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved