Berita Semarang
Semarang dan Banjir: Sejarah Panjang dari Masa Kolonial Hingga Kini
Tiap musim hujan, genangan air kembali jadi tamu tak diundang di banyak sudut Kota Semarang.
Penulis: budi susanto | Editor: galih permadi
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Tiap musim hujan, genangan air kembali jadi tamu tak diundang di banyak sudut Kota Semarang.
Namun, sedikit yang tahu bahwa banjir bukan sekadar bencana musiman, melainkan bagian dari sejarah panjang kota ini, bahkan sejak masa kolonial Belanda.
Catatan sejarah menunjukkan bahwa Semarang sudah dilanda banjir sejak abad ke-17.
Baca juga: Jalur Pantura Semarang–Demak Tergenang Banjir, Berikut Jalur Alternatif
• Penjelasan Medis Pihak Rumah Sakit Hasil Autopsi Pendaki Meninggal Gancet di Gunung Jawa Barat
• Kronologi Sepasang Pendaki Meninggal Gancet dalam Tenda di Gunung Jawa Barat
• Lagi, BPK Jateng Bongkar Penyimpangan Pemerintah Kelola Keuangan Daerah, Begini Modusnya
Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, persoalan ini begitu serius hingga memicu pembangunan dua kanal besar, Banjir Kanal Barat pada tahun 1850 dan Banjir Kanal Timur antara 1896-1903.
Kanal-kanal ini dirancang untuk mengalirkan air dari kawasan perbukitan ke laut, menghindari genangan di pusat kota yang waktu itu mulai berkembang pesat.
Peta-peta kolonial dan laporan seperti Verslag van den toestand der gemeente Semarang (1916–1919), serta survei geologi oleh Van Bemmelen, mencatat bahwa sedimentasi sungai, akresi pantai, dan penggundulan hutan di sekitar Ungaran memperparah banjir di wilayah kota.
Maka tak heran, sejak awal, Semarang sudah dianggap kota dengan risiko banjir permanen.
Rekaman banjir modern muncul pada 11 November 1970, tanggal ini tercatat dalam arsip surat kabar nasional.
Sejak saat itu, banjir menjadi langganan tahunan, terutama di wilayah dataran rendah seperti Tawangmas, Genuk, hingga Tambaklorok.
Pada Desember 2022, banjir setinggi satu meter melumpuhkan sejumlah titik. Warga harus dievakuasi menggunakan perahu karet.
Lebih parah lagi, air laut (rob) kerap ikut menyusup jauh ke dalam kota, memperparah situasi banjir.
Diintai banjir rob dari tahun ke tahun membuat masyarakat semakin cemas, namun tak bisa berbuat apa-apa.
"Mau pindah tidak ada tempat lain, mau beli rumah atau tanah di wilayah atas uangnya dari mana," keluh Deni satu di antara warga Kota Semarang yang ditinggal di wilayah Kaligawe, Rabu (22/10/2025).
Kombinasi antara faktor alam dan manusia membuat Semarang rawan genangan.
Topografi kota yang terbagi dua yaitu bagian utara berupa dataran rendah dan selatan berupa perbukitan.
| Selain Trauma Psikis, Gadis Remaja Korban Pembakaran Paman di Semarang Sempat Salah Penanganan |
|
|---|
| Plot Twist Pria Bertato Korban Pembacokan, Ternyata Pelaku Perusakan Kandang Jangkrik di Semarang |
|
|---|
| Bukan Sekadar Investasi, TCG Semarang Jadi Ruang Mencari Kawan dan Berburu Koleksi Kartu Langka |
|
|---|
| Paman Penganiaya Keponakan di Semarang Masih Buron, Korban Alami Luka Bakar 30 Persen |
|
|---|
| Prakiraan Cuaca Semarang Hari Ini Senin 11 Mei 2026, Hujan Ringan di Sejumlah Titik |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20251022_Banjir-Semarang.jpg)