Kamis, 7 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Tanoto Foundation

Menjadi Juragan Kebun dan Ternak yang Sukses, Belajar Luas Bangun Datar melalui Simulasi Peran

Banyak murid mampu menghafal rumus luas bangun datar, tetapi kebingungan ketika diminta menyelesaikan soal cerita

Tayang:
Penulis: Adi Tri | Editor: abduh imanulhaq
IST
Eko Prasetyo Nur Utomo SPd MPd menjelaskan materi luas bangun datar di SD Negeri Pendrikan Lor 01 Kota Semarang 

Oleh: Eko Prasetyo Nur Utomo SPd MPd, Guru SD Negeri Pendrikan Lor 01 Kota Semarang & Fasilitator Tanoto Foundation

PAK, kalau sudah besar nanti, matematika itu dipakai buat apa?”

Pertanyaan itu muncul ketika saya sedang menjelaskan materi luas bangun datar. Murid yang bertanya tidak bermaksud menantang, justru ia terlihat benar-benar penasaran. Dari situlah saya mulai menyadari bahwa selama ini matematika sering dipahami sebagai pelajaran menghitung, bukan sebagai alat berpikir.

Pengalaman tersebut saya temui saat mengajar kelas V di SD Negeri Pendrikan Lor 01 Kota Semarang. Banyak murid mampu menghafal rumus luas bangun datar, tetapi kebingungan ketika diminta menyelesaikan soal cerita. Mereka kesulitan menentukan informasi yang diketahui, memilih strategi penyelesaian, bahkan mengaitkan hasil perhitungan dengan situasi nyata.

Keterlibatan murid dalam pembelajaran juga belum merata. Beberapa murid aktif berdiskusi, tetapi sebagian lainnya cenderung diam. Saya menyadari bahwa murid pada usia ini masih membutuhkan pengalaman belajar yang konkret dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Dari situlah muncul gagasan menghadirkan pembelajaran berbasis simulasi peran dengan tema usaha kebun dan peternakan yang saya beri judul “Menjadi Juragan Kebun dan Ternak yang Sukses”.

Pembelajaran dimulai dengan sebuah cerita sederhana. Saya mengajak murid membayangkan bahwa mereka adalah pengusaha yang akan mengelola usaha kebun dan peternakan. Agar usaha tersebut berhasil, mereka harus merancang kandang ternak dan lahan kebun sesuai katalog luas yang sudah disiapkan.

Katalog tersebut berisi beberapa pilihan luas lahan dengan angka yang berbeda. Murid terlihat antusias ketika memilih luas lahan yang akan digunakan. Ada kelompok yang langsung berdiskusi serius, ada juga yang justru berdebat menentukan jenis usaha yang akan dibuat.

Selanjutnya, murid diberi kebebasan mendesain kandang dan lahan menggunakan berbagai bangun datar seperti persegi, persegi panjang, segitiga, trapesium, dan jajar genjang. Mereka harus menentukan panjang sisi bangun agar luasnya sesuai dengan katalog.

Pembelajaran dilakukan secara berkelompok yang terdiri dari lima sampai enam murid. Setiap kelompok mendapat kertas berpetak untuk menggambar desain. Di beberapa kelompok, terlihat murid mencoba menghitung lalu menghapus kembali karena hasilnya belum sesuai. Ada pula yang menemukan cara lain agar luas tetap sama meskipun bentuknya berbeda.

Saya berusaha tidak langsung memberi jawaban. Saya lebih sering memberikan pertanyaan seperti, “Kalau sisi ini diubah, apakah luasnya tetap sama?” atau “Apakah ada bentuk lain yang bisa digunakan?” Pertanyaan sederhana seperti itu ternyata memancing diskusi yang cukup panjang di antara murid.

Suasana kelas terasa berbeda. Murid lebih sering berdiskusi dan saling memeriksa perhitungan. Beberapa murid bahkan terlihat membagi tugas secara spontan, ada yang menghitung, ada yang menggambar, dan ada yang memastikan luasnya sesuai katalog.

Pada tahap presentasi, setiap kelompok memaparkan desain kandang dan kebun yang telah dibuat. Mereka menjelaskan alasan memilih bentuk bangun datar serta menunjukkan proses perhitungan yang dilakukan. Beberapa murid awalnya terlihat ragu, tetapi setelah didukung teman kelompoknya, mereka mulai berani berbicara di depan kelas.

Di akhir pembelajaran, kami melakukan refleksi bersama. Murid menyimpulkan bahwa luas yang sama dapat dibentuk dari berbagai bangun datar dengan ukuran sisi yang berbeda. Mereka juga mulai memahami bahwa matematika dapat digunakan untuk merencanakan dan mengambil keputusan.

Perubahan sikap murid terlihat cukup jelas. Murid menjadi lebih antusias dan berani mencoba berbagai alternatif desain. Diskusi kelompok berjalan lebih hidup dan saling menghargai pendapat teman. Selain itu, murid mulai memahami konsep luas tidak hanya sebagai rumus, tetapi sebagai cara untuk merancang sesuatu.

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved