Rabu, 15 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Tanoto Foundation

Menghidupkan Matematika Melalui EVI Map Berbasis Kearifan Lokal

SD Negeri Pendrikan Lor 01 berada di wilayah yang memiliki kampung tematik, yaitu Kampung Mural Wayang dan Kampung Fotografi.

Penulis: Adi Tri | Editor: abduh imanulhaq
IST
Windy Setyorini SPd, Guru SDN Pendrikan Lor 01 Kota Semarang menerapkan media pembelajaran EVI Map (Etnoscience Village Map) yang diperolehnya melalui pelatihan Fasilitator Perubahan Berkelas (Fasper Berkelas) Tanoto Foundation. 

Oleh: Windy Setyorini SPd, Guru SDN Pendrikan Lor 01 Kota Semarang

SEBAGAI guru di SD Negeri Pendrikan Lor 01 Semarang, saya sering menemukan bahwa matematika masih menjadi mata pelajaran yang dianggap sulit oleh peserta didik. Banyak siswa mampu menghafal rumus, tetapi kesulitan memahami makna dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini terlihat saat siswa diminta menyelesaikan soal cerita atau masalah kontekstual, mereka cenderung kebingungan menentukan langkah penyelesaian.

Di sisi lain, saya melihat potensi besar dari lingkungan sekitar sekolah. SD Negeri Pendrikan Lor 01 berada di wilayah yang memiliki kampung tematik, yaitu Kampung Mural Wayang dan Kampung Fotografi. Lingkungan tersebut kaya akan unsur visual, bentuk geometri, serta objek nyata yang relevan untuk pembelajaran matematika, khususnya materi keliling dan luas bangun datar. Potensi ini mendorong saya untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih kontekstual dan bermakna bagi siswa.

Untuk menjawab tantangan tersebut, saya menerapkan media pembelajaran EVI Map (Etnoscience Village Map), yang saya peroleh melalui pelatihan Fasilitator Perubahan Berkelas (Fasper Berkelas) Tanoto Foundation. Media ini dirancang sebagai peta pembelajaran berbasis kearifan lokal yang mengintegrasikan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar. Melalui EVI Map, pembelajaran matematika tidak hanya berfokus pada pemahaman konsep, tetapi juga mendorong siswa mengalami langsung proses belajar melalui aktivitas eksplorasi lapangan.

Dalam pelaksanaannya, saya memulai dengan melakukan survei lokasi di kampung tematik sekitar sekolah. Saya mengidentifikasi objek yang dapat digunakan sebagai sumber belajar, seperti tembok mural, bangunan unik, serta spot fotografi yang memiliki bentuk geometris. Selanjutnya, saya menyusun buku misi pembelajaran yang berisi tantangan berbasis masalah kontekstual sesuai dengan kondisi lingkungan tersebut.

Pada saat pembelajaran berlangsung, siswa dibagi menjadi lima kelompok. Setiap kelompok membawa buku misi, peta pembelajaran, serta alat ukur berupa meteran. Siswa kemudian mengikuti pembelajaran berbasis petualangan dengan menyelesaikan tantangan di beberapa pos yang telah disiapkan.

Pada setiap pos, siswa diminta melakukan pengukuran objek nyata, menghitung keliling dan luas bangunan, serta menganalisis kebutuhan bahan, misalnya menghitung jumlah cat yang dibutuhkan untuk mewarnai tembok mural. Untuk meningkatkan motivasi belajar, setiap kelompok yang berhasil menyelesaikan tantangan memperoleh kunci emas. Kelompok yang berhasil mengumpulkan seluruh kunci mendapatkan penghargaan sederhana berupa doorprize. Untuk menambah semangat dan menguatkan pemahaman, pembelajaran juga dilengkapi dengan kuis interaktif menggunakan Kahoot.

Hasil yang saya rasakan dari penerapan pembelajaran ini sangat positif. Pemahaman konsep matematika siswa meningkat karena mereka dapat melihat langsung penerapan materi dalam kehidupan nyata. Selain itu, siswa menunjukkan antusiasme yang lebih tinggi selama proses pembelajaran. Mereka menjadi lebih aktif berdiskusi, berani mencoba, serta mampu bekerja sama dalam kelompok. Pembelajaran di luar kelas juga membantu siswa menyadari bahwa matematika bukan sekadar angka, melainkan alat untuk memecahkan masalah yang dekat dengan keseharian.

Antusiasme siswa terlihat dari cerita mereka setelah kegiatan. Johan Jamaludin, siswa kelas 5, mengatakan pembelajaran terasa seru dan menyenangkan karena bisa belajar luas bangun datar sambil pergi ke luar sekolah. “Seru dan menyenangkan karena kita bisa mempelajari luas bangun datar dan bepergian ke luar sekolah. Kita juga mengetahui kearifan lokal yaitu mural wayang dan Kampung Fotografi. Tidak lupa aku mengerjakan dengan kelompok yang membuat seru, ditambah lagi ada aplikasi Kahoot untuk bermain game bersama,” ujarnya.

Hal serupa disampaikan Chelsea Putri Rahmadani, siswa kelas 5 Aceh. Menurutnya, pembelajaran terasa asyik karena dilakukan sambil berjalan melihat gambar wayang dan spot-spot foto. “Pembelajarannya asyik karena dilakukan sambil jalan-jalan melihat gambar wayang dan spot-spot foto. Kita juga mengukur langsung dan menghitung berapa kaleng cat yang dibutuhkan untuk mewarnai mural dan tembok spot foto. Kita jadi tahu bahwa materi luas bangun datar bisa digunakan untuk menyelesaikan permasalahan sehari-hari yaitu menghitung cat,” katanya.

Rekan guru di sekolah juga memberikan tanggapan positif terhadap penerapan pembelajaran ini. Mereka menilai bahwa EVI Map dapat menjadi alternatif pembelajaran kontekstual yang mampu meningkatkan keterlibatan siswa. Selain itu, pendekatan ini membuka wawasan bahwa lingkungan sekitar sekolah dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar yang efektif.

Meskipun demikian, terdapat beberapa tantangan dalam penerapan pembelajaran ini. Persiapan membutuhkan waktu lebih panjang, mulai dari survei lapangan, penyusunan perangkat pembelajaran, hingga pengaturan manajemen waktu saat kegiatan berlangsung. Faktor cuaca juga menjadi kendala yang perlu dipertimbangkan dalam pelaksanaan pembelajaran luar kelas.

Sebagai bahan evaluasi, saya berencana menyempurnakan buku misi agar lebih sistematis dan mudah digunakan. Saya juga ingin mengembangkan variasi tantangan yang dapat menyesuaikan tingkat kemampuan siswa. Selain itu, saya berharap penerapan EVI Map dapat diperluas ke mata pelajaran lain serta melibatkan lebih banyak guru agar pembelajaran berbasis kearifan lokal dapat diterapkan secara berkelanjutan.

Melalui pengalaman ini, saya menyadari bahwa matematika dapat menjadi pembelajaran yang bermakna apabila dikaitkan dengan kehidupan nyata siswa. Lingkungan sekitar sekolah bukan hanya tempat belajar, tetapi juga sumber inspirasi yang dapat membantu siswa memahami konsep secara lebih mendalam.

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved