Sabtu, 25 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Ramadan 2026

Warga Muhammadiyah Semarang Mulai Salat Tarawih Malam Ini

Warga Muhammadiyah Semarang mulai salat tarawih pertama malam ini, Selasa (17/2/2025).

Penulis: Idayatul Rohmah | Editor: rival al manaf
TRIBUN JATENG/Idayatul Rohmah
SALAT TARAWIH - Warga Muhammadiyah Semarang mulai salat tarawih pertama malam ini, Selasa (17/2/2025). Pantauan Tribun Jateng di Masjid At-Taqwa Wonodri, Rumah Sakit Roemani, salat tarawih dimulai pukul 19.44 WIB. Tribun Jateng/Idayatul Rohmah 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Warga Muhammadiyah Semarang mulai salat tarawih pertama malam ini, Selasa (17/2/2025).

Pantauan Tribun Jateng di Masjid At-Taqwa Wonodri, Rumah Sakit Roemani, salat tarawih dimulai pukul 19.44 WIB.

Puluhan jemaah melaksanakan salat tarawih setelah salat Isya dan sebagian melaksanakan salat badiyah Isya terlebih dahulu.

Salat pun kemudian dilaksanakan sebanyak 11 rakaat dengan formasi 4-4-3 (empat rakaat, empat rakaat, dan 3 rakaat witir) dengan Imam Drs H Nurbini M Ag. Jemaat tampak khusyuk mengikuti salat. 

Baca juga: "Tak Ada Laporan Hilal Terlihat" Hasil Sidang Isbat Tetapkan 1 Ramadan Jatuh di Tanggal 19 Februari

Baca juga: Bupati Wonosobo Siapkan Tarling 16 Titik di Kecamatan Selama Ramadan

1 Ramadan Jatuh Pada 19 Februari 2026

Hasil sidang isbat penentuan awal Ramadan 1447 Hijriah menetapkan 1 Ramadhan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.

Sidang itu diputuskan berdasar hasil hisab serta pengamatan hilal di berbagai daerah.

Penetapan itu disampaikan langsung oleh Menteri Agama (Menag) RI Nasaruddin Umar dalam konferensi pers di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Selasa (17/2/2026).

"Berdasarkan hasil hisab serta tidak adanya laporan hilal terlihat, disepakati bahwa 1 Ramadhan 1447 Hijriah jatuh pada hari Kamis 19 Februari 2026," ujar Nasaruddin Umar.

Nasaruddin menuturkan, keputusan ini diambil karena pemantauan hilal di sejumlah titik di Indonesia tidak memenuhi kriteria MABIMS yang dipedomani oleh pemerintah Indonesia.

Berdasarkan kriteria MABIMS, tinggi hilal minimum 3 dan elongasi minimum 6,4 derajat.

Sementara, hasil pemantauan hilal menunjukkan bahwa sudut elongasi yang ada masih sangat minim, yakni 0 derajat 56 menit 23 hingga 1 derajat 53 menit 36 detik.

"Jadi, secara hisab, data hilal pada hari ini tidak memenuhi kriteria visibilitas hilal MABIMS," kata Nasaruddin.

Sidang isbat ini dihadiri sejumlah pihak, antara lain Komisi VIII DPR RI, MUI, BMKG, Badan Riset dan Inovasi Nasional, Observatorium Bosscha, Planetarium Jakarta, Badan Informasi Geospasial, perwakilan ormas Islam, pondok pesantren, serta Tim Hisab Rukyat Kemenag.

Keterlibatan banyak lembaga tersebut menunjukkan pendekatan kolektif dan berbasis keilmuan dalam proses penetapan awal Ramadhan.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved