Pekalongan Kota
Museum Batik Pekalongan Angkat Batik Peranakan dalam Perayaan Imlek 2026
Dalam rangka menyambut Tahun Baru Imlek 2026, Museum Batik Pekalongan menghadirkan pameran bertajuk 'Festival Lunar'.
Penulis: Indra Dwi Purnomo | Editor: rival al manaf
TRIBUNJATENG.COM, PEKALONGAN - Dalam rangka menyambut Tahun Baru Imlek 2026, Museum Batik Pekalongan menghadirkan pameran bertajuk 'Festival Lunar' yang mengangkat tema Batik Peranakan: Perjumpaan Budaya dalam Perayaan Imlek.
Pameran ini menampilkan, koleksi batik dengan pengaruh kuat budaya Tionghoa sebagai wujud akulturasi yang tumbuh di wilayah pesisir, khususnya di Kota Pekalongan.
Kurator Museum Batik, Gavi, mengatakan bahwa momentum Imlek menjadi waktu yang tepat untuk memperkenalkan kembali kekayaan batik peranakan kepada masyarakat luas.
Baca juga: Banjir Belum Surut, Warga Tratebang Pekalongan Desak Pembangunan Rumah Pompa
Baca juga: Sudah Disiapkan, Ini Jenis Kompensasi untuk Warga Terdampak TPA Bojonglarang Pekalongan
Menurutnya, batik tidak hanya merepresentasikan identitas lokal, tetapi juga merekam perjumpaan lintas budaya yang telah berlangsung selama ratusan tahun.
"Di Museum Batik ada sejumlah koleksi yang memiliki pengaruh Tionghoa. Melalui pameran ini, kami ingin menunjukkan bahwa batik berkembang dari banyak unsur budaya, salah satunya Tionghoa, yang sangat kuat di Pekalongan sebagai kota pesisir," ujarnya, Kamis (19/2/2026).
Dalam pameran tersebut, museum menampilkan sedikitnya sembilan koleksi batik, di antaranya Batik Tokwi, Batik Buketan (Encim), Batik Lengan, Batik Latarbanji, dan Batik Lokcan.
Motif-motif tersebut menampilkan, ciri khas batik pesisir dengan warna-warna cerah serta ornamen dekoratif seperti bunga, burung hong, dan simbol keberuntungan yang identik dengan perayaan Imlek.
"Untuk memperkuat atmosfer perayaan, Museum Batik juga berkolaborasi dengan Klenteng Po An Thian. Pihak klenteng meminjamkan sebuah altar sembahyang yang dimanfaatkan sebagai bagian dari instalasi pameran."
"Altar tersebut digunakan sebagai display Batik Tokwi, sehingga menghadirkan simbol pertemuan budaya yang lebih nyata bagi pengunjung," ucapnya.
Kolaborasi ini tidak hanya memperkaya tampilan visual pameran, tetapi juga memberi pemahaman mengenai keterkaitan historis antara komunitas Tionghoa dan perkembangan batik pesisir di Pekalongan.
Menurut Gavi, minat anak muda menjadi sinyal positif bahwa batik tetap relevan dan diminati lintas generasi.
"Kami berharap, melalui pameran tematik yang disesuaikan dengan momentum hari besar seperti Imlek, museum dapat terus menjadi ruang edukasi sekaligus penguatan identitas budaya yang lahir dari keberagaman," ucapnya.
Ia menambahkan, usai pameran bertema Imlek ini, Museum Batik Pekalongan telah menyiapkan agenda pameran berikutnya yang akan mengangkat tema perayaan Idulfitri, sebagai bagian dari komitmen menghadirkan narasi kebudayaan yang inklusif dan berkelanjutan. (Dro)
| Penataan Pasar Banjarsari Pekalongan Dilakukan Bertahap, Pemkot Utamakan Dialog |
|
|---|
| Aaf Pastikan Tak Ada 'Main-Main' dalam Proyek Gedung DPRD-Pemkot Pekalongan |
|
|---|
| 30 Tim Ramaikan Lomba Nasgor Kompor Listrik di Pasar Banjarsari Kota Pekalongan |
|
|---|
| Kota Pekalongan Raih Predikat Kota Terbaik II Pembangunan Daerah Jateng 2025 |
|
|---|
| Pasar Darurat Akan Dibongkar, Usai Pasar Banjarsari Pekalongan Beroperasi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/PAMERAN-LUNAR-Museum-Batik-Pekalongan.jpg)