Senin, 18 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Wansus Tribun Jateng

WAWANCARA KHUSUS Tiyo Ketua BEM UGM: Republik Ini Sakit

Baru-baru ini jagat maya dihebohkan oleh anak muda yang bersuara lantang dalam mengkritik pemerintah.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Rifqi Gozali | Editor: muh radlis
TRIBUN JATENG/Rifqi Gozali
KETUA BEM UGM - Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto (kiri) saat berbincang dengan Pemimpin Redaksi Tribun Jateng Ibnu Taufik Juwariyanto (kanan) di teras Omah Dongeng Marwah, Desa Purworejo, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus, Kamis (26/2/2026). (Foto: Tribunjateng/Rifqi Gozali). 

Masyarakat kita terlalu sabar. Sampai kapan sabar masyarakat kita?

Kalau kami lihat berita dunia di tahun 1997 1998 Yugoslavia pecah Uni Soviet pecah Indonesia itu salah satu negara yang diramalkan akan pecah, tetapi kita masih bertahan sampai sekarang itu tidak lain tidak bukan alasannya karena masyarakatnya tangguh, masyarakatnya kuat.

Bukan bicara soal sekarang bahwa kami pernah mengalami masa kita sudah pecah ketika 1998.

Nah, ketangguhan itu sebenarnya punya dua sisi, dia bagus buat bertahan sebagai bangsa, karena buktinya kita menghadapi persoalan 65 66 98 kita masih bertahan.

Tetapi di satu sisi itu menjadi peluang bagi kekuasaan untuk berdinamika atas kesabaran ketangguhan rakyat yang ada.

Jadi dibikin seolah-olah jangan sampai kesabaran rakyatnya sampai puncaknya.

 Jadi dibikin satu senti sebelum kesabaran itu habis.

Itu terlihat sekali bagaimana cara kekuasaan ini bekerja. misalnya saya adopsi dengan konsepnya Jean Baudrillard soal simulakra bahwa dunia ini dibangung oleh citra simbolik tetapi sangat berlainan dengan realitasnya.

Misalnya ketika Prabowo bilang: Hai antek-antek asing, Prabowo-Gibran bersama rakyat Indonesia dia mengucapkan itu dan itu viral di mana-mana.

Tetapi di saat yang bersamaan dia duduk bersama Trump dan Netanyahu yang tidak hanya pemimpin yang fasis, tetapi penjahat dunia.

Ini kan ada dua hal realitasnya justru dia yang antek asing dia juga yang teriak antek-antek asing.

Ini cara kekuasaan bekerja untuk membuat kesabaran rakyat ditarik dan diulur.

Maka, penting bagi rakyat pun mahasiswa sebagai motor perubahan sosial untuk memaksa kesabaran ini dipercepat.

Pilihannya adalah mempercepat kesabaran habis, atau menambah kesabarannya sambil berharap kekuasaan akan berubah lebih baik.

Meskipun saya sendiri tidak berharap kekuasaan akan berubah lebih baik, karena rasanya mana mungkin rezim yang tercipta dari perzinahan politik yang namanya putusan MK nomor 90 akan hidup selama lima tahun dengan cara yang baik.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 2/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved