Tribunjateng Hari ini
Produsen Tenun Troso Jepara Terhantam Persaingan Harga, Butuh Pengembangan Pemasaran
Kabupaten Jepara memiliki warisan budaya tak benda (WBTB) berupa tenun ikat troso di Desa Troso, Kecamatan Pecangaan, Kabupaten Jepara.
Penulis: Moh Anhar | Editor: M Syofri Kurniawan
Dibutuhkan pengalaman dan keahlian yang cukup untuk bisa mengembangkan Tenun Troso ke panggung dunia.
"Saya menekuni tenun sejak usia 7 tahun, mulai dari belajar mengikat motif kain. Belajarnya setiap waktu sampai benar-benar paham tentang proses awal dan akhir pembuatan tenun," terangnya, Jumat (27/02/2026).
Saat ini, Mudhofar memiliki tujuh alat tenun bukan mesin (ATBM) yang masih digunakan untuk memproduksi kain tenun dengan 15 karyawan.
Kemampuan produksinya baru sebatas 60-70 lembar per hari dengan ukuran 140 cm x 120 cm.
Harga jual produk tenun khusus blanket yang diproduksi berkisar Rp 90 ribu per lembar hingga Rp 100 ribuan per lembar untuk motif full.
Permintaannya tidak hanya datang dari dalam negeri saja, juga datang dari Malaysia, Myanmar, China, hingga Jepang.
"Permintaan itu sebenarnya banyak karena kita tahu Tenun Troso Jepara punya kualitas. Kendalanya adalah modal bagi kami produsen kecil. Belum lagi persaingan harga di pasaran yang kadang tidak menguntungkan bagi perajin kecil," ujar dia.
Menurut Mudhofar, perajin Tenun Troso di Jepara semakin tumbuh jumlahnya. Otomatis persaingan pasar juga semakin ketat. Sebagai perajin berskala IKM, dibutuhkan pengembangan di bidang produksi dan pemasaran agar UMKM perajin Tenun Troso di Desa Troso Jepara bisa maju bersama.
"Dengan akses modal yang cukup dan bantuan di bidang pemasaran, setiap perajin Tenun Troso berpotensi menjelajahi pasar nasional dan internasional. Kita tahu persaingan produk tenun di dalam negeri begitu ketat, ada dari Kalimantan, Sulawesi, Makassar, Pekalongan, Yogyakarta, hingga Solo. Tenun troso Jepara ini punya kualitas, sayang kalau tidak dijaga dan dikembangkan," tuturnya.
Kesibukan Sehari-hari
Mudhofar bercerita, kerajinan Tenun Troso sudah ada sejak puluhan tahun melekat di kalangan masyarakat Desa Troso, Kecamatan Pecangaan, Jepara.
Pada mulanya, kerajinan ini merupakan aktivitas harian warga sekitar membuat kain tenun ikat untuk konsumsi sendiri, sebagian dijual di pasar rakyat.
Seiring berjalannya waktu, kerajinan tenun di Desa Troso berkembang pesat, yang kini produknya dikenal dengan sebutan Kain Ikat Troso (Tenun Troso).
Salah satu tantangan perajin tenun adalah cuaca, di mana musim hujan kerap kali menyulitkan produsen, karena pengikatan warna tidak bisa optimal tanpa bantuan panas matahari.
Selain itu, tantangan lainnya adalah bahan-bahan baku yang mayoritas diambil dari luar daerah. Ia berharap, ke depannya Kabupaten Jepara bisa menyediakan bahan baku utuh untuk pembuatan kain tenun.
| Kasus Calo Pekerja Outsourcing di Kabupaten Pekalongan Seret ASN, Motor Dinas Sempat Jadi Jaminan |
|
|---|
| Geliat Peternak Hewan Kurban di Blora Jelang Momen Iduladha, Kasno Fokus Spesialis Jual Sapi Jumbo |
|
|---|
| Sukai Kegiatan Sosial, Niken Pilih Donor Darah di Momen May Day di Jepara |
|
|---|
| Telusur Wisata Sejarah Pekalongan, Pinot Ajak Menyelami Tinggalan Masa Lalu |
|
|---|
| Dua Hari Pascakcelakaan, Perjalanan Kereta Semarang-Jakarta Kembali Normal |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/Tribun-Jateng-Hari-Ini-Rabu-4-Maret-2026.jpg)