Selasa, 5 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Tribunjateng Hari ini

Produsen Tenun Troso Jepara Terhantam Persaingan Harga,  Butuh Pengembangan Pemasaran

Kabupaten Jepara memiliki warisan budaya tak benda (WBTB) berupa tenun ikat troso di Desa Troso, Kecamatan Pecangaan, Kabupaten Jepara. 

Tayang:
Penulis: Moh Anhar | Editor: M Syofri Kurniawan
TRIBUN JATENG/Bram Kusuma
Tribun Jateng Hari Ini Rabu 4 Maret 2026 

TRIBUNJATENG.COM, JEPARA  - Kabupaten Jepara memiliki warisan budaya tak benda (WBTB) berupa tenun ikat troso di Desa Troso, Kecamatan Pecangaan, Kabupaten Jepara

Tenun troso merupakan satu di antara kekayaan yang dimiliki Kabupaten Jepara pendongkrak ekonomi masyarakat, khususnya di Desa Troso.

Lebih dari 500 perajin dan pedagang membersamai perkembangan tenun troso dari tahun ke tahun hingga dikenal di kancah nasional dan internasional. 

Berbagai produk Tenun Troso, baik dalam bentuk kain maupun baju jadi, kini sudah merambah pasar global.

Perajin dengan skala produksi besar terus tumbuh seiring meningkatnya pemasaran produk.

Namun, perajin skala kecil hanya stagnan pada jumlah produksi yang ada, tanpa bisa melebarkan pasar lantaran keterbatasan modal.

Belum lagi mereka dihadapkan pada persaingan harga pasar berlangsung cukup ketat.

Mana produk yang dibandrol dengan harga relatif lebih murah menjadi incaran utama pasar.

produksi tenun troso
PRODUKSI TENUN - Pekerja sedang memproduksi kain Tenun Troso jenis blangket dengan menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM) di Desa Troso, Kecamatan Pecangaan, Kabupaten Jepara, Jumat (27/2/2026). Saat ini lebih dari 500 perajin dan pedagang Tenun Troso tercatat aktif mengembangkan warisan budaya tak benda (WBTB) yang dimiliki Jepara berupa Tenun Ikat Troso.

Beberapa persoalan tersebut menjadi keluhan yang dirasakan para perajin berskala IKM.

Di satu sisi, mereka masih ingin menghidupkan tenun troso sebagai karya seni yang bernilai.

Tetapi, mereka juga tidak memungkiri bahwa persaingan pasar semakin sulit, akses permodalan juga belum dibuka luas bagi para perajin.

Satu di antara perajin tenun troso adalah Mudhofar (52), warga RT 3 RW 1 Desa Troso yang sudah menekuni kerajinan Tenun Troso lebih dari 40 tahun melanjutkan usaha orangtuanya.

Bagi dia, menjadi perajin tenun susah-susah senang.

Susah ketika tak ada pesanan sehingga modal usaha tidak berputar, senang ketika kain tenun yang telah diproduksi banyak peminatnya.

Menurut Mudhofar, membuat kain tenun tidak semudah memproduksi batik. Sebagai contoh, produksi tenun dengan alat manual jika tidak dibarengi dengan keahlian profesional, hasilnya rusak tidak maksimal.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved