Sabtu, 18 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Semarang

Hadapi Panas Ekstrem, Petani Sayuran Semarang Pasang Paranet dan Blower

Cuaca panas ekstrem yang dipicu oleh El Nino mulai terjadi di Kota Semarnag pada pertengahan April 2026 ini.

Penulis: iwan Arifianto | Editor: rival al manaf
TRIBUN JATENG/iwan Arifianto
PASANG PELINDUNG - Petani sayuran Semarang mulai memasang paranet atau jaring pelindung yang biasanya berwarna hitam untuk mengurangi dampak cuaca panas ekstrem yang dipicu oleh El Nino, Mangunsari,Gunungpati, Kota Semarang, Kamis (16/4/2026).  

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Cuaca panas ekstrem yang dipicu oleh El Nino mulai terjadi di Kota Semarnag pada pertengahan April 2026 ini. Dampak dari panas ekstrem mulai dirasakan oleh para petani sayur di Gunungpati, Kota Semarang.

Mereka kini mulai menyiasati cuaca panas dengan memasang paranet atau jaring peneduh dan blower kipas agar efek panas tidak terlalu berdampak ke tanaman.

Selama musim panas ini, petani sayuran di Semarang mulai mengurai jumlah bibit tanam mereka untuk menekan angka kerugian. 

"Musim panas yang dimulai April ini berdampak ke tanaman sayuran , produksi kami turun yang biasanya 2 ton sayuran perbulan menjadi 1,5 ton," ungkap petani sayuran Semarang Sandi Febrianto saat dihubungi Tribunjateng.com, Sabtu (18/4/2026).

Lahan pertanian yang dikembangkan Sandi berada di wilayah Mangunsari , Gunungpati, Kota Semarang, atauu di 259 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Tanaman hidroponik yang dikembangkan di antaranya pakcoy, Selada,  Romen , Daun arugula, dan berbagai  jenis-jenis selada lainnya.

Belajar dari hantaran cuaca panas tahun 2025, Sandi kini mulai mempersiapkan berbagai langkah dalam menghadapi cuaca panas. Terlebih, tanaman sayuran yang ia kembangkan merupakan jenis tanaman hidroponik, yakni metode  budidaya menanam dengan memanfaatkan air tanpa menggunakan media tanah.

Tanaman sayuran metode ini menggunakan jaringan pipa air yang rentan terhadap cuaca panas.

"Kami pakai paranet dan blower untuk mengurangi dampak panas. Terutama ke tanaman sayuran yang paling lemah terhadap panas yakni selada, kalau sawi terhitung lebih kuat pada panas," ungkapnya.

menekuni budidaya tanam sayuran sejak 2019, Sandi pernah merasakan suhu panas  sampai 37 derajat celcius. Padahal wilayah tanam sayurannya berada di wilayah atas kota Semarang. Angka suhu panas tersebut melampaui daya tahan tanaman yang di bawah angka 33 derajat celcius. "Akhirnya pada banyak yang mati, produksi akhirnya turun," jelasnya.

Ia merinci, turunnya angka produksi tanaman perbandingan cukup signifikan dibandingkan pada musim hujan.  Kala musim panas tingkat keberhasilan panen hanya di angka 70 persen dan bobot per pohon sayur di angka 150 gram. Sebaliknya , musim hujan tingkat keberhasilan panen di angka 90 persen dan bobot tanaman di angka 200 gram per pohon.

"Ya kami tahun ini akhirnya memilih untuk menurunkan bibit produksi tanam, biar kerugian tidak terlalu besar," ungkapnya.

Penurunan produksi itu, kata dia, bersamaan pula dengan penurunan permintaan. Sebab, mulai bulan April hingga Agustus, produksi sayuran akan sepi disedot pasar. Hasil produksi sayuran lahannya dibeli oleh restoran, hotel dan kafe di kota Semarang.

"Musim panas  berbarengan dengan pergantian tahun pelajaran baru dan agustusan, masyarakat lebih memilih kebutuhan keluarga, jadi permintaan sayuran dari konsumen kami menurun," paparnya.

Kepala Kebun Sandi Buana Farm Gunungpati, Harianto mengatakan, cuaca panas ekstrem mulai terjadi dalam dua tahun terakhir. "Sebelum tahun 2024, kami belum pakai paranet, tahun 2025, cuaca panas sekali sehingga tanam banyak yang mati, akhirnya dipasang paranet," bebernya.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved