Rabu, 22 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Harga BBM

Harga BBM Melonjak, Warga Wonosobo Olah Sampah Plastik Jadi Dexlite

Di sebuah bangunan sederhana di Desa Talunombo, Kecamatan Sapuran, Kabupaten Wonosobo, tumpukan sampah plastik terlihat menggunung.

Penulis: Imah Masitoh | Editor: rival al manaf
TRIBUN JATENG/Imah Masitoh
PENGOLAHAN SAMPAH - Aktivitas pengolahan sampah plastik menjadi bahan bakar minyak (BBM) setara solar menggunakan mesin pirolisis di Desa Talunombo, Kecamatan Sapuran, Kabupaten Wonosobo, Selasa (21/4/2026). Mesin ini mampu mengolah sekitar 1,5 ton sampah plastik per bulan. 

TRIBUNJATENG.COM, WONOSOBO - Di sebuah bangunan sederhana di Desa Talunombo, Kecamatan Sapuran, Kabupaten Wonosobo, tumpukan sampah plastik terlihat menggunung.

Di dekatnya, sebuah mesin pirolisis berdiri dengan permukaan logam yang mulai menghangat, perlahan mengolah limbah menjadi bahan bakar.

Dari sisi mesin, sebuah selang terpasang mengarah ke wadah penampung.

Melalui selang itu, cairan menetes perlahan hasil dari pemanasan sampah plastik yang kemudian dikumpulkan untuk diolah menjadi bahan bakar minyak.

Baca juga: 2.000 Pohon Ditanam di Wonosobo saat Hari Kartini untuk Selamatkan Hulu Serayu

Baca juga: Bupati Wonosobo Soroti Keamanan Siber di Tengah Percepatan Digitalisasi Berbasis AI

Di tempat ini, sampah yang sebelumnya belum termanfaatkan kini diubah menjadi bahan bakar minyak (BBM) setara solar yang disebut-sebut memiliki kualitas mendekati Dexlite, salah satu varian solar non-subsidi yang beredar di pasaran.

Kepala Desa Talunombo, Badarudin, menjelaskan bahwa inisiatif tersebut bermula dari persoalan sampah plastik yang kian mengganggu lingkungan desa.

“Awal mulanya karena adanya permasalahan sampah plastik yang mengganggu berserakan di jalan-jalan hingga ke lahan-lahan pertanian," ungkapnya, Selasa (21/4/2026).

Menurutnya, kondisi itu mendorong pemerintah desa mencari solusi yang tidak hanya menyelesaikan masalah sampah, tetapi juga memberikan nilai tambah.

Dari situlah muncul gagasan mengolah sampah menjadi BBM.

“Kami inisiatif untuk mengolah sampah menjadi BBM dan kita berkolaborasi dengan pemerintah provinsi, Brida Jateng,” lanjutnya.

Proses pengolahan diawali dengan pemilahan sampah plastik berdasarkan jenisnya. Hanya plastik tanpa kandungan aluminium foil yang dapat diolah menjadi bahan bakar minyak.

Setelah itu, plastik dimasukkan ke dalam mesin pirolisis, yaitu alat yang bekerja dengan memanaskan material tanpa oksigen untuk menghasilkan bahan bakar cair.

Dalam satu kali proses, mesin tersebut memiliki kapasitas 50 kilogram sampah plastik.

Dari jumlah itu, dapat dihasilkan sekitar 40 hingga 45 liter bahan bakar solar.

Proses ini memakan waktu sekitar sembilan jam dalam satu siklus produksi.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved