Berita Jateng
Pemprov Jateng Siapkan Penanganan Sampah Secara Aglomerasi
Skema aglomerasi kewilayahan diterapkan Pemprov Jateng lantaran rata-rata sampah di kabupaten masih 500 ton per hari.
Penulis: Eka Yulianti Fajlin | Editor: deni setiawan
TRIBUNJATENG.COM, UNGARAN - Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen menyiapkan pengelolaan sampah secara aglomerasi. Hal tersebut agar persoalan sampah di Jawa Tengah bisa segera terselesaikan sebelum 2029.
Taj Yasin menjelaskan, skema aglomerasi ini diterapkan lantaran rata-rata sampah di kabupaten masih 500 ton per hari.
Sementara, syarat agar bisa mendapatkan program intervensi dari Pemerintah Pusat yakni 1.000 ton perhari.
Baca juga: SIMAK, Ini Jadwal Resmi SPMB SMA dan SMK Negeri Tahun Ajaran 2026/2027 di Jateng
• Taj Yasin: Kasus Pencabulan Santriwati di Pati Sudah Terpantau sejak 2024
"Pemerintah Pusat sedang mengerjakan 34 titik. Salah satunya di Jawa Tengah."
"Kami ingin ada penambahan ini. Tapi, setelah kami dalami belum bisa karena sampah di kabupaten rata-rata masih di bawah 500 ton. Belum sampai ke nominal 1000 ton."
"Sehingga, ini belum bisa diintervensi," jelas Taj Yasin seusai menghadiri Peringatan Hari Bumi 2026 tingkat Provinsi Jawa Tengah, di Horison Resort Tlogo, Kabupaten Semarang, Rabu (13/5/2026).
Untuk memenuhi target tersebut, Pemprov Jateng mendorong konsep aglomerasi sampah antarwilayah.
Salah satu kawasan yang dipersiapkan untuk aglomerasi yakni Pati Raya yang melibatkan Kabupaten Pati, Rembang, Blora, serta kemungkinan menggandeng Jepara dan Kudus.
"Ini harus dipetakan lagi mana-mana yang harus kami ciptakan (aglomerasi). Salah satunya Pati Raya."
"Yang clear Rembang, Blora, Pati. Kami rangkul Jepara dan Kudus untuk bersama sehingga bisa diintervensi pusat," tuturnya.
Selain membangun sistem pengelolaan, pihaknya juga menekankan pentingnya edukasi masyarakat agar lebih peduli terhadap sampah.
Sebab, menurutnya, masih banyak sampah rumah tangga yang belum tertangani secara optimal.
Pemprov Jateng juga mendorong kabupaten/kota memperbaiki sistem transportasi pengangkutan sampah.
Berbagai program digencarkan guna mengurangi sampah ke TPA diantaranya program minyak jelantah menjadi sumber ekonomi masyarakat.
Baca juga: Puncak Kekeringan di Jateng Diprediksi Agustus-September 2026, Ini Langkah Antisipasi Distannak
• Cegah Virus PMK Masuk Jateng Jelang Idul Adha, Pemprov Jateng Mulai Aktifkan Penyekatan
Kepala Dinas ESDM Jateng, Agus Sugiharto menambahkan, saat ini Pemprov Jateng tengah mengembangkan teknologi pengolahan sampah plastik dan rumah tangga menjadi bahan bakar seperti bioetanol hingga pirolysis yang menghasilkan solar dan pertalite.
| Viral Video Struk Harga Asli Pertalite Lebih Mahal dari Pertamax, Ini Penjelasan Pertamina |
|
|---|
| Ahmad Luthfi Tegas Tertibkan Tambang Ilegal dan Reklamasi Pascatambang: Saya Tak Peduli di Belakang |
|
|---|
| Puncak Kekeringan di Jateng Diprediksi Agustus-September 2026, Ini Langkah Antisipasi Distannak |
|
|---|
| Borok SPMB Jateng Terbongkar, Ombudsman Temukan Rekayasa Nilai Rapor dan Pungli |
|
|---|
| Sekda Jateng Minta Satpol PP Kedepankan Pendekatan Humanis dan Persuasif |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20260513-_-Kerja-Sama-Pengelolaan-Sampah-di-Jateng.jpg)