Selasa, 2 Juni 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Cilacap

Mayoritas Terjadi di Permukiman, Kerugian Kebakaran di Cilacap Tembus Rp 1,2 Miliar

Berdasarkan infografis Damkar Cilacap, sebanyak 23 kasus kebakaran terjadi di lingkungan permukiman

Tayang:
Penulis: Rayka Diah Setianingrum | Editor: muslimah
Istimewa
Ilustrasi Kebakaran - Petugas pemadam kebakaran saat berjibaku memadamkan api di wilayah Kabupaten Cilacap beberapa waktu lalu.  

Mayoritas Terjadi di Permukiman, Kerugian Kebakaran di Cilacap Tembus Rp1,2 Miliar

TRIBUNJATENG.COM, CILACAP - Ancaman kebakaran masih menjadi persoalan serius di Kabupaten Cilacap setelah data Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan mencatat 36 kejadian kebakaran hingga 31 Mei 2026 dengan mayoritas terjadi di kawasan permukiman warga.

Berdasarkan infografis Damkar Cilacap, sebanyak 23 kasus kebakaran terjadi di lingkungan permukiman, sedangkan 13 kasus lainnya menimpa sektor dunia usaha yang tersebar di sejumlah wilayah di Kabupaten Cilacap.

Kabid Damkar dan Penyelamatan Satpol PP Cilacap, Gatot Arief Widodo, mengatakan tingginya angka kebakaran di permukiman menunjukkan pentingnya peningkatan kewaspadaan masyarakat terhadap potensi sumber api di dalam rumah.

"Sebagian besar kejadian yang kami tangani masih terjadi di lingkungan tempat tinggal warga sehingga kesadaran terhadap faktor risiko kebakaran perlu terus ditingkatkan," ujar Gatot, Selasa (2/6/2026).

Baca juga: Segel Dapur MBG di Cilacap, Relawan: Konflik Internal Sudah Lama Terjadi

Dari sisi penyebab, korsleting listrik menjadi faktor paling dominan dengan 20 kejadian atau lebih dari separuh total kasus kebakaran yang terjadi selama lima bulan pertama tahun ini.

"Kondisi instalasi listrik yang tidak layak, penggunaan peralatan elektronik secara berlebihan, hingga kurangnya perawatan jaringan listrik rumah tangga masih menjadi pemicu yang paling sering kami temukan di lapangan," kata Gatot.

Selain korsleting listrik, kebakaran juga dipicu oleh penggunaan tungku maupun gas LPG sebanyak empat kasus, sementara 12 kejadian lainnya disebabkan oleh faktor kelalaian manusia atau human error.

"Gangguan akibat kelalaian manusia masih cukup tinggi sehingga masyarakat perlu lebih berhati-hati saat menggunakan sumber api maupun peralatan yang berpotensi memicu kebakaran," jelasnya.

Di tengah penanganan kebakaran, petugas Damkar Cilacap juga mencatat tingginya permintaan layanan penyelamatan non-kebakaran yang mencapai ratusan kasus sepanjang tahun berjalan.

"Fungsi Damkar saat ini tidak hanya memadamkan api, tetapi juga memberikan berbagai layanan penyelamatan yang langsung bersentuhan dengan kebutuhan masyarakat," ungkap Gatot.

Data menunjukkan petugas paling banyak menangani evakuasi tawon dengan total 379 kejadian, disusul penanganan ular sebanyak 55 kasus, penyelamatan cincin sebanyak 32 kasus, serta lima kejadian terkait hewan liar.

"Tingginya laporan sarang tawon dan kemunculan ular menjadi bukti bahwa masyarakat semakin memanfaatkan layanan penyelamatan Damkar untuk membantu mengatasi kondisi yang membahayakan," ujarnya.

Meski jumlah kejadian kebakaran cukup tinggi, dampak yang ditimbulkan relatif dapat ditekan dengan tidak adanya korban meninggal dunia hingga akhir Mei 2026.

"Alhamdulillah sampai saat ini tidak ada korban jiwa akibat kebakaran yang kami tangani, meskipun terdapat satu korban mengalami luka-luka," kata Gatot.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved