Rabu, 10 Juni 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Batang

Pertamax Naik, Dolar Menguat, Pengusaha Kerupuk Batang Terjepit: Semua Bahan Baku Naik

Sapari Temu (66), pengusaha kerupuk yang telah puluhan tahun menggeluti usahanya mengaku saat ini tengah menghadapi masa sulit

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Tito Isna Utama | Editor: muslimah
TRIBUN JATENG/Tito Isna Utama
KENAIKAN PERTAMAX - Suasana para pekerja sedang memproduksi kerupuk di industri rumahan kerupuk sentra industri kerupuk Kebundelan, RT 5 RW 8, Kelurahan Kasepuhan, Kecamatan Batang. Pengusaha kerupuk keluhkan kenaikan harga Pertamax. 

Pertamax Naik, Dolar Menguat, Pengusaha Kerupuk Batang Terjepit: "Semua Bahan Baju Naik"

TRIBUNJATENG.COM, BATANG - Asap dari tungku penggorengan masih mengepul di sentra industri kerupuk Kebundelan, RT 5 RW 8, Kelurahan Kasepuhan, Kecamatan Batang, Kabupaten Batang

Namun di balik aktivitas yang tampak biasa itu, tersimpan kegelisahan yang semakin besar. 

Kenaikan harga bahan bakar dan menguatnya nilai tukar dolar terhadap rupiah membuat biaya produksi kerupuk melonjak tajam, sementara harga jual sulit dinaikkan.

Sapari Temu (66), pengusaha kerupuk yang telah puluhan tahun menggeluti usaha rumahan tersebut, mengaku saat ini tengah menghadapi masa yang tidak mudah. 

Baca juga: Warga Blora Keluhkan Kenaikan Harga Pertamax, Pertimbangkan Beralih ke Pertalite

Hampir seluruh bahan baku utama mengalami kenaikan harga dalam beberapa bulan terakhir.

"Naik semua. Pati, plastik, minyak goreng, garam, semuanya naik," kata Sapari kepada Tribunjateng, Rabu (10/6/2026). 

Kenaikan paling terasa terjadi pada tepung pati yang menjadi bahan utama pembuatan kerupuk

Jika sebelumnya harga tepung pati masih berkisar Rp 700 ribu per kwintal, kini melonjak hingga mencapai Rp1,3 juta per kwintal.

"Harga pati dulu Rp700 ribu per kuintal, sekarang sudah Rp1,3 juta. Naiknya mulai setelah bulan Juni dan katanya masih bisa naik sampai Agustus," ujarnya.

Menurut Sapari, kenaikan harga bahan baku diduga dipengaruhi oleh naiknya harga bahan bakar nonsubsidi seperti Pertamax yang berdampak pada biaya distribusi, serta menguatnya dolar yang ikut memengaruhi harga komoditas dan bahan pendukung industri.

Pati yang digunakan dalam produksinya didatangkan langsung dari Lampung. 

Untuk memenuhi kebutuhan produksi, ia biasanya membeli dalam jumlah besar hingga dua truk sekali pengiriman. 

Kondisi tersebut membuat kenaikan harga sedikit saja langsung berdampak besar terhadap biaya operasional.

Meski biaya produksi terus meningkat, Sapari mengaku tidak bisa serta merta menaikkan harga jual kerupuk

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved