Semarang
Petani di Suruh Kabupaten Semarang Gunakan Drone Semprot Hama Wereng
Petani di Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang, mulai memanfaatkan teknologi drone untuk penyemprotan insektisida.
Penulis: Eka Yulianti Fajlin | Editor: rival al manaf
TRIBUNJATENG.COM, UNGARAN - Petani di Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang, mulai memanfaatkan teknologi drone untuk penyemprotan insektisida guna mengantisipasi serangan hama wereng pada lahan persawahan. Langkah ini dilakukan sebagai upaya menjaga produktivitas padi sekaligus mendukung program swasembada pangan.
Camat Suruh, Vega Lazuardy mengatakan, penggunaan drone menjadi salah satu upaya modernisasi pertanian yang dilakukan pemerintah bersama petani. Selain penggunaan benih unggul dan perbaikan jaringan irigasi, pengendalian organisme pengganggu tanaman juga menjadi faktor penting untuk menjaga hasil panen.
Petani yang telah menggunakan drone diantaranya petani di Desa Gunung Tumpeng. Lahan seluas sekitar 100 hektare disemprot insektisida guna memerangi hama wereng.
"Untuk hama wereng masih terkendali. Total sekitar 100 hektare lahan yang dilakukan penyemprotan menggunakan drone sebagai langkah antisipasi," kata Vega, Rabu (9/6/2026).
Baca juga: Viral KDMP di Wonogiri Disebut Berada di Tengah Hutan, Danramil: Itu Salah Besar
Baca juga: Bupati Kudus Pastikan Jalan di Kudus Tetap Terawat
Vega menyebut, drone tersebut merupakan bantuan dari Kementerian Pertanian yang ditempatkan di Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan Suruh. Meski hanya tersedia satu unit untuk satu kecamatan, seluruh petani di wilayah Suruh dapat memanfaatkannya.
Pengoperasian drone dilakukan oleh petani yang telah mendapatkan pelatihan khusus sebagai pilot. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan penggunaan alat berlangsung aman dan efektif.
"Sudah ada petani yang dilatih sebagai pilot drone. Karena alat ini membutuhkan keterampilan khusus agar tidak terjadi kesalahan saat pengoperasian," jelasnya.
Menurut dia, penggunaan drone lebih efektif dibandingkan penyemprotan secara manual. Selain menghemat tenaga kerja, proses penyemprotan juga dapat dilakukan lebih cepat, terutama pada lahan yang lokasinya jauh dan sulit dijangkau.
Dalam sekali terbang, drone mampu beroperasi selama 15 hingga 30 menit bergantung kondisi angin. Dengan kapasitas tersebut, drone dapat menjangkau area penyemprotan hingga sekitar dua hektare dalam satu kali terbang.
"Kalau manual petani harus berjalan sambil membawa sprayer. Dengan drone tentu lebih hemat tenaga dan waktu," ujarnya.
Tak hanya untuk penyemprotan insektisida Vega menambahkan, drone juga dapat digunakan untuk penyemprotan pupuk cair dengan catatat harus bersih usai penyemprotan insektisida.
Kini, ancaman yang masih menghantui petani di Kecamatan Suruh yakni hama tikus.
Dari total luas lahan pertanian 4.493 hektare baik sawah maupun non-sawah di Kecamatan Suruh, seluas 15 hingga 18 hektare mengalami gagal panen akibat hama tersebut.
"Upaya pengendalian berupa gropyokan sudah dilakukan, tapi sepertinya belum terlalu efektif. Semoga tidak bertambah luasannya," katanya. (eyf)
| MV Odyssey Pilih Indonesia, Kapal Pesiar Berbendera Bahamas Ini Singgahi Komodo hingga Semarang |
|
|---|
| "Demi Keselamatan" Warga di Sikluwung Asri Semarang Menolak Tower BTS |
|
|---|
| Update Kebakaran Gudang Kayu KIC Semarang: 2 Forklift dan Wheel Loader Ikut Terbakar |
|
|---|
| Halte BRT Semarang Diseruduk Pikap, Kini Tak Bisa Digunakan Sementara |
|
|---|
| Pertumbuhan Bisnis dan Mobilitas Warga Dorong Pemanfaatan Videotron di Semarang |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/GUNAKAN-DRONE-Petani-di-Desa-Gunung-Tumpeng.jpg)