Kamis, 11 Juni 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Batang

Driver Ojol Batang Menjerit, Kenaikan Harga Pertamax dan Dolar Tekan Pendapatan dan Daya Beli

Dampak kenaikan harga Pertamax mulai dirasakan para pengemudi ojol di Kabupaten Batang. 

Tayang:
Penulis: Tito Isna Utama | Editor: M Syofri Kurniawan
TRIBUN JATENG/Tito Isna Utama
DRIVER OJOL - Driver Ojol duduk santai di sekitaran Alun-Alun Kabupaten Batang menunggu orderan, Kamis (11/6/2026). Kenaikan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax yang terjadi di tengah menguatnya nilai tukar dolar terhadap rupiah mulai dirasakan para pengemudi ojol di Kabupaten Batang. (TRIBUN JATENG/TITO ISNA UTAMA) 

Dampak merembet ke harga bahan pendukung usaha

Selain menjadi driver ojol, Taufik juga menjalankan usaha minuman tebu. 

Ia mengaku mulai merasakan kenaikan harga pada sejumlah bahan pendukung usaha, terutama produk berbahan plastik.

"Yang mulai naik itu plastik, cup minuman, sama sedotan. Itu kerasa sekali setelah kondisi ekonomi sekarang," ungkapnya. 

Menurutnya, kenaikan harga bahan pendukung tersebut semakin menambah beban pelaku usaha kecil yang saat ini tengah berjuang mempertahankan pendapatan.

Dolar menguat, harga barang berpotensi ikut naik

Keluhan serupa sebelumnya juga disampaikan sejumlah pengemudi ojol lainnya di Batang

Mereka menilai penguatan dolar AS terhadap rupiah berpotensi memicu kenaikan harga berbagai komoditas karena masih banyak bahan baku yang bergantung pada impor.

Akibatnya, kenaikan harga BBM yang terjadi bersamaan dengan pelemahan nilai tukar rupiah dikhawatirkan menciptakan efek domino terhadap perekonomian masyarakat. 

Pedagang akan menyesuaikan harga jual barang, sementara kemampuan belanja masyarakat justru menurun.

Kondisi tersebut dinilai berdampak langsung pada sektor transportasi daring karena berkurangnya aktivitas konsumsi masyarakat biasanya diikuti penurunan permintaan layanan transportasi maupun pesan antar.

Berarap pemerintah evaluasi kebijakan

Taufik berharap pemerintah dapat mengevaluasi kebijakan terkait harga BBM agar tidak semakin membebani masyarakat, khususnya kelompok pekerja informal yang sangat bergantung pada aktivitas ekonomi harian.

"Kalau bisa harganya lebih stabil dan tidak terlalu tinggi. Karena ekonomi masyarakat sekarang masih terasa lesu. Kami yang di lapangan merasakan langsung dampaknya," ujarnya.

Menurutnya, menjaga stabilitas harga energi menjadi penting untuk mempertahankan daya beli masyarakat sekaligus membantu keberlangsungan usaha kecil dan pekerja sektor informal.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved