Berita Batang
Driver Ojol Batang Menjerit, Kenaikan Harga Pertamax dan Dolar Tekan Pendapatan dan Daya Beli
Dampak kenaikan harga Pertamax mulai dirasakan para pengemudi ojol di Kabupaten Batang.
Penulis: Tito Isna Utama | Editor: M Syofri Kurniawan
TRIBUNJATENG.COM, BATANG – Dampak kenaikan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax yang terjadi di tengah menguatnya nilai tukar dolar terhadap rupiah mulai dirasakan para pengemudi ojek online (ojol) di Kabupaten Batang.
Mereka mengaku harus menghadapi tekanan ganda berupa meningkatnya biaya operasional sekaligus menurunnya daya beli masyarakat yang berdampak pada jumlah pesanan.
Bagi para driver ojol, kondisi tersebut tidak sekadar soal harga bahan bakar yang lebih mahal, tetapi juga memicu kenaikan berbagai kebutuhan sehari-hari yang pada akhirnya mengurangi aktivitas konsumsi masyarakat.
Baca juga: Waspada Efek Domino Kenaikan Harga Pertamax, Ini Upaya Pemkab Batang
Taufik Arvian (30), mengatakan, sejak harga Pertamax naik, banyak pengendara beralih menggunakan Pertalite karena selisih harga yang semakin lebar.
"Kalau dulu selisihnya masih sekitar Rp2.800 per liter, orang masih mikir daripada antre panjang lebih baik beli Pertamax. Sekarang selisihnya sudah lebih dari Rp6.000, jadi banyak yang beralih ke Pertalite," Kata Taufik kepada Tribunjateng, Kamis (11/6/2026).
Menurut Taufik, fenomena tersebut terlihat jelas di sejumlah SPBU.
Bahkan, ia mendapati antrean Pertalite memanjang selama beberapa hari terakhir, sementara pembeli Pertamax jauh berkurang.
"Di SPBU Kadilangu sekitar jam tujuh pagi, Pertamax hampir tidak ada yang beli. Paling satu atau dua orang saja," ucapnya.
Pendapatan tetap, biaya operasional naik
Sebagai pengemudi ojol, Taufik mengaku kenaikan harga BBM tidak diimbangi dengan penyesuaian tarif dari perusahaan aplikator.
Kondisi ini membuat penghasilan bersih yang diterima pengemudi semakin tergerus.
"Belum ada tambahan dari aplikator. Bahkan sekarang terasa semakin berat karena bensin naik, sementara pendapatan dari orderan tetap," ungkapnya.
Dia menjelaskan, untuk memperoleh pendapatan sekiranya Rp300 ribu hingga Rp350 ribu per hari, dirinya rata-rata menghabiskan biaya bahan bakar sekitar Rp60 ribu.
Jika jumlah orderan lebih sedikit dengan pendapatan berkisar Rp200 ribu hingga Rp250 ribu, kebutuhan bensin masih mencapai sekitar Rp30 ribu per hari.
"Kalau dapat sekitar 25 orderan sehari, bensin bisa habis Rp60 ribu. Itu pun masih harus dihitung biaya lainnya," jelasnya.
Dampak merembet ke harga bahan pendukung usaha
Selain menjadi driver ojol, Taufik juga menjalankan usaha minuman tebu.
Ia mengaku mulai merasakan kenaikan harga pada sejumlah bahan pendukung usaha, terutama produk berbahan plastik.
"Yang mulai naik itu plastik, cup minuman, sama sedotan. Itu kerasa sekali setelah kondisi ekonomi sekarang," ungkapnya.
Menurutnya, kenaikan harga bahan pendukung tersebut semakin menambah beban pelaku usaha kecil yang saat ini tengah berjuang mempertahankan pendapatan.
Dolar menguat, harga barang berpotensi ikut naik
Keluhan serupa sebelumnya juga disampaikan sejumlah pengemudi ojol lainnya di Batang.
Mereka menilai penguatan dolar AS terhadap rupiah berpotensi memicu kenaikan harga berbagai komoditas karena masih banyak bahan baku yang bergantung pada impor.
Akibatnya, kenaikan harga BBM yang terjadi bersamaan dengan pelemahan nilai tukar rupiah dikhawatirkan menciptakan efek domino terhadap perekonomian masyarakat.
Pedagang akan menyesuaikan harga jual barang, sementara kemampuan belanja masyarakat justru menurun.
Kondisi tersebut dinilai berdampak langsung pada sektor transportasi daring karena berkurangnya aktivitas konsumsi masyarakat biasanya diikuti penurunan permintaan layanan transportasi maupun pesan antar.
Berarap pemerintah evaluasi kebijakan
Taufik berharap pemerintah dapat mengevaluasi kebijakan terkait harga BBM agar tidak semakin membebani masyarakat, khususnya kelompok pekerja informal yang sangat bergantung pada aktivitas ekonomi harian.
"Kalau bisa harganya lebih stabil dan tidak terlalu tinggi. Karena ekonomi masyarakat sekarang masih terasa lesu. Kami yang di lapangan merasakan langsung dampaknya," ujarnya.
Menurutnya, menjaga stabilitas harga energi menjadi penting untuk mempertahankan daya beli masyarakat sekaligus membantu keberlangsungan usaha kecil dan pekerja sektor informal.
Di tengah tantangan tersebut, para pengemudi ojol di Batang kini harus beradaptasi dengan biaya operasional yang meningkat, persaingan antardriver yang semakin ketat, serta ketidakpastian kondisi ekonomi.
Mereka berharap ada langkah konkret dari pemerintah untuk menjaga stabilitas harga dan mendorong pemulihan daya beli masyarakat agar roda perekonomian kembali bergerak lebih kuat. (Ito)
Baca juga: Pertamax Naik, Dolar Menguat, Pengusaha Kerupuk Batang Terjepit: Semua Bahan Baku Naik
| RS QIM Batang Kini Hadirkan Fasilitas CT Scan 64 Slice, Lengkapi Kemampuan Diagnostik Pasien |
|
|---|
| Pertamax Naik, Dolar Menguat, Pengusaha Kerupuk Batang Terjepit: Semua Bahan Baku Naik |
|
|---|
| Truk Besi Tabrak Dump Truk di Jalur Menurun Pantura Gringsing Batang, Terguling ke Badan Jalan |
|
|---|
| Mantan Bupati Batang Ngaku Punya Bukti Rekaman Dugaan Penyimpangan Program Prioritas Presiden |
|
|---|
| Kejari Batang Musnahkan Ribuan Pil Terlarang dan Sabu Senilai Ratusan Juta |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20260611_DRIVER-OJOL.jpg)