Rabu, 13 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Kajen

Nelayan Pekalongan Terancam Stop Melaut: Solar Subsidi Langka, Nonsubsidi Tembus Rp30 Ribu per Liter

Aktivitas nelayan Pekalongan terancam di tengah kenaikan BBM solar nonsubsidi hingga Rp 30 ribu dan solar subsidi yang langka karena kerap kosong.

Tayang:
Penulis: Indra Dwi Purnomo | Editor: raka f pujangga
TRIBUN JATENG/Indra Dwi Purnomo
SUASANA TPI - Suasana bongkar muat TPI Wonokerto, Kabupaten Pekalongan, Selasa (12/5/2026). Para nelayan mengaku, mulai kesulitan mempertahankan rutinitas melaut jika harga solar terus tinggi dan distribusi BBM subsidi belum membaik. 

TRIBUNJATENG.COM, KAJEN - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis solar yang menembus Rp 30 ribu per liter mulai mengancam aktivitas melaut nelayan di wilayah Pantura Kabupaten Pekalongan.

Selain harga yang melonjak tajam, ketersediaan solar subsidi yang kerap kosong membuat nelayan kecil semakin tertekan karena harus menanggung biaya operasional yang jauh lebih besar.

Kondisi tersebut dirasakan para nelayan di kawasan Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Wonokerto, Selasa (12/5/2026).

Baca juga: Nelayan Kecil di Cilacap Masih Bisa Melaut dengan Solar Subsidi, Stok Dipastikan Aman

Meski aktivitas bongkar muat dan pelelangan ikan masih berlangsung normal, para nelayan mengaku mulai kesulitan mempertahankan rutinitas melaut jika harga solar terus tinggi dan distribusi BBM subsidi belum membaik.

Salah seorang nelayan Wonokerto, Tanamu, mengatakan nelayan sejauh ini masih bisa bertahan karena harga solar non subsidi di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) Wonokerto belum mengalami kenaikan, yakni sekitar Rp230 ribu per jeriken berisi 35 liter. 

Namun, persoalan utama justru terletak pada stok solar subsidi yang sering tidak tersedia.

"Kalau stok subsidi habis, kami terpaksa beli solar nonsubsidi. Sekarang harganya sangat tinggi, hasil melaut sudah tidak cukup untuk menutup biaya operasional," ujarnya, Selasa (12/5/2026).

Menurutnya, lonjakan harga solar nonsubsidi dari kisaran Rp 17 ribu menjadi Rp 30 ribu per liter menjadi pukulan berat bagi nelayan tradisional.

"Pasalnya, bahan bakar menjadi komponen biaya terbesar dalam setiap perjalanan melaut, sementara hasil tangkapan ikan tidak menentu dan harga jual di pasaran juga fluktuatif," imbuhnya.

Keluhan serupa disampaikan nelayan lainnya, Suryanto. Ia menilai, biaya berlayar saat ini sudah tidak lagi sebanding dengan pendapatan yang diperoleh dari hasil tangkapan harian.

"Kalau terus begini, kapal kecil bisa berhenti melaut. Biaya solar lebih besar daripada hasil tangkapan ikan," keluhnya.

Baca juga: Nelayan Kecil di Cilacap Masih Bisa Melaut Paka Solar Subsidi, Stok Dipastikan Aman

Menurut para nelayan, jika kondisi ini terus berlanjut, bukan hanya pendapatan mereka yang terancam, tetapi juga keberlangsungan usaha perikanan tangkap di wilayah pesisir Kabupaten Pekalongan.

Banyak nelayan kecil dikhawatirkan, memilih menyandarkan kapal karena tidak sanggup menanggung beban operasional yang terus meningkat.

"Kami meminta dan mendesak, pemerintah segera mengambil langkah konkret, dan meminta adanya kebijakan harga khusus solar bagi nelayan tradisional, sekaligus memastikan distribusi solar subsidi di SPBN Wonokerto tersedia setiap hari," tambahnya. (Dro)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved