Berita Kesehatan
Awas Syndrom Tech Neck, Ternyata Ini Bahayanya Main HP Sambil Tiduran
Sering main HP sambil tiduran justru berdampak besar bagi kesehatan, yang sadar maupun tidak sadar mulai memunculkan gejala-gejalanya.
Penulis: Dse | Editor: deni setiawan
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Kamu masih sering melakukan kebiasaan menonton video di ponsel sambil rebahan atau tiduran di setiap harinya, bahkan hingga larut malam?
Kebiasaan tersebut memang dirasakan mengasyikkan, terlebih seusai beraktivitas seharian.
Namun siapa sangka, kebiasaan tersebut justru berdampak besar bagi kesehatan, yang sadar maupun tidak sadar mulai memunculkan gejala-gejalanya.
Baca juga: Harga Asli Pertalite Lebih Mahal Dibandingkan Pertamax, Selisihnya Capai Rp1.790 per Liter
• Duka Sayidah di Jepara 4 Bulan Kesulitan Air Bersih, Sebulan Habiskan Rp300 Ribu Beli Galon
Di balik kenyamanan itu, ada ancaman kesehatan yang diam-diam mengintai.
Sebuah kondisi yang kini dikenal luas di kalangan medis sebagai tech neck atau sindrom leher akibat penggunaan perangkat teknologi.
Tech neck terjadi ketika leher dan tulang belakang bagian atas menanggung tekanan berlebih akibat posisi kepala yang menunduk atau miring terlalu lama saat menatap layar.
Saat berbaring dan menopang kepala untuk melihat ponsel, otot-otot leher bekerja jauh lebih keras dari kondisi normalnya.
Jika dibiarkan, kebiasaan ini bisa memicu nyeri kronis, kekakuan otot, bahkan perubahan kelengkungan tulang belakang yang memerlukan penanganan jangka panjang.
Lantas, apa sebenarnya yang dimaksud dengan tech neck dan mengapa kondisi ini perlu diwaspadai?
Penjelasan Tech Neck
Tech neck atau yang juga dikenal dengan sebutan text neck, cell phone neck, gamer neck, hingga turtle neck syndrome ini merupakan kondisi nyeri leher yang muncul akibat stres berulang dari postur tubuh yang salah saat menggunakan perangkat teknologi.
Kondisi ini terjadi ketika seseorang terus-menerus menundukkan kepala untuk membaca, mengetik, menggulir layar, atau sekadar menatap ponsel dan tablet dalam waktu lama.
Meski terdengar sepele, kebiasaan ini menyimpan dampak yang jauh lebih serius dari yang banyak orang bayangkan.
Menurut dr Sangjin Lim, dokter spesialis kedokteran olahraga dari Crystal Run Healthcare, saat kepala berada dalam posisi tegak dan netral, otot-otot leher hanya perlu menanggung beban sekira empat hingga lima kilogram.
Namun begitu kepala mulai menunduk untuk menatap layar, beban yang harus ditanggung leher bisa melonjak hingga sekira 27 kilogram, hampir enam kali lipat dari kondisi normal.
Beban sebesar itu membuat otot, tendon, dan ligamen di sekitar leher bekerja jauh melampaui kapasitas wajarnya.
Semakin sering dan semakin lama seseorang berada dalam posisi tersebut, semakin besar pula risiko kerusakan yang ditimbulkan.
Kondisi ini kini tidak hanya dialami oleh orang dewasa yang bekerja di depan komputer, tetapi juga semakin banyak ditemukan pada anak-anak usia sekolah seiring meningkatnya waktu mereka di depan layar.
Baca juga: Fakta Pilu Bayi Dilakban dan Dibuang dalam Tas Belanja di Bali, Pelakunya Ibu Kandung
• Viral Pesta Miras di Kantor Desa saat Jam Kerja, 4 Perangkat di Demak Kena SP2
Gejala dan Dampaknya
Meski namanya mengandung kata "leher", dampak tech neck sebenarnya tidak terbatas pada area tersebut.
Gejala yang paling umum dirasakan adalah sakit kepala, yang muncul akibat kombinasi antara kejang pada otot leher dan kelelahan mata setelah menatap layar dalam waktu lama.
Selain itu, nyeri punggung bagian atas juga kerap dikeluhkan.
Hal ini terjadi karena salah satu otot utama yang menghubungkan leher, bahu, dan punggung atas, yaitu otot trapezius ikut menanggung beban berlebih hingga akhirnya mengalami kejang.
Bahu pun tidak luput dari dampaknya.
Postur bahu yang terus-menerus membulat ke depan lama-kelamaan menyebabkan kelemahan otot di area tersebut.
Jika kebiasaan buruk ini tidak segera diperbaiki, tech neck bisa berkembang menjadi komplikasi yang jauh lebih serius.
Dirangkum dari laman Crystal Run Healthcare, seperti yang dilansir dari Kompas.com, Rabu (17/6/2026), dr Lim menjelaskan bahwa tekanan yang terus-menerus pada leher tanpa penanganan yang tepat dapat memicu nyeri sendi kronis, saraf terjepit, hingga arthritis dini pada tulang belakang bagian leher.
Saraf yang terjepit bahkan dapat menjalar dan menyebabkan mati rasa, kesemutan, serta kelemahan pada lengan dan tangan.
Komplikasi lain yang tidak kalah mengkhawatirkan adalah upper crossed syndrome, yaitu ketidakseimbangan otot yang terjadi akibat otot punggung atas dan dada yang terlalu tegang, sementara otot leher bagian depan dan punggung tengah justru melemah.
Ketidakseimbangan ini tidak hanya memengaruhi leher dan punggung, tetapi secara perlahan dapat berdampak pada postur tubuh secara keseluruhan. (*)
Sumber Kompas.com
| Sejarah Baru, Formula Anti-Aging Tak Perlu Impor Lagi, Kini Diproduksi Massal di Laboratorium ITB |
|
|---|
| Jangan Diam! Ini 5 Cara Melindungi Diri dari Ancaman KDRT Agar Tidak Berujung Fatal |
|
|---|
| Jangan Anggap Sepele, Penyakit Lupus Incar Wanita Produktif, Begini Gejala Awalnya |
|
|---|
| Mengenal Brucellosis, Penyakit Menular dari Hewan yang Bisa Menginfeksi Manusia Jelang Iduladha |
|
|---|
| Tips mengolah Daging Kurban Agar Kolesterot Terkendali, Kesehatan Terjaga |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20250531_ilustrasi-HP.jpg)