Selasa, 19 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Komunitas

Komunitas Bumi Hijau, Penjaga Benteng Terakhir Pesisir Demak

Daratan di pesisir Demak terus digerogoti abrasi. Satu per satu kawasan perkampungan di wilayah tersebut tenggelam.

Tayang:
Penulis: iwan Arifianto | Editor: M Syofri Kurniawan
TRIBUN JATENG/iwan Arifianto
TANAM MANGROVE - Para anggota Komunitas Bumi Hijau melakukan penanaman mangrove di pesisir Bedono pada pertengahan November 2025 lalu. Komunitas ini dalam melakukan konservasi juga menggandeng berbagai pihak termasuk para mahasiswa dari Kota Semarang. (DOK. KOMUNITAS BUMI HIJAU) 

TRIBUNJATENG.COM,SEMARANG - Daratan di pesisir Demak terus digerogoti abrasi. Satu per satu kawasan perkampungan di wilayah tersebut tenggelam.

Fakta ini bisa dilihat dari tenggelamnya kampung Rejosari atau yang lebih dikenal sebagai Dusun Senik, Mondoliko, dan Tambaksari. Ketiga dusun itu berada di Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak.

Para penghuni tiga kampung tersebut terpaksa  melakukan bedol desa. Namun, bagi warga dusun Bedono, mereka menolak tenggelam.

Baca juga: Cerita Perempuan di Kampung Tenggelam Pesisir Demak: Jaga Mangrove dan Identitas Perempuan Pesisir

Di tengah kejaran air rob, warga berupaya menjaga kampungnya dengan membentuk komunitas Bumi Hijau. Kelompok peduli lingkungan pesisir ini mayoritas beranggotakan nelayan yang berfokus melakukan konservasi hutan mangrove sebagai benteng terakhir kawasan pesisir.

Penggagas komunitas Bumi Hijau, Saiful Rozi (38) mengatakan, komunitas ini dibentuk pada Desember 2022 sebagai wadah warga yang peduli terhadap pesisir Bedono. Anggota komunitasnya memang belum banyak, hanya belasan warga.

“Anggota masih 15 orang, 14 nelayan, satu warga merupakan pekerja pabrik,” ujar Saiful kepada Tribun, Sabtu (31/1/2026).

Komunitas ini lahir berangkat dari kekhawatiran mereka terhadap kampungnya yang mulai tergerus rob. Padahal, Dusun Bedono pada era 1980an masih merupakan persawahan. Wajah kampung mereka sempat berubah menjadi kawasan tambak sekitar tahun 1992. Selepas itu, mulai tahun 2010, abrasi mulai mengintai.

Saiful menceritakan, jarak rumahnya dengan laut pada 1992 sekitar 2 kilometer. Pada tahun 2014, laut itu sudah berada persis di belakang rumahnya.

“Tetangga dusun juga sudah ada yang bedol desa. Dari tujuh dusun di Bedono, tiga dusun sudah hilang, meliputi Rejosari, Mondoliko, Tambaksari. Dusun yang masih tersisa Pandansari, Tonosari, Bedono dan Morosari,” terangnya.

Menurut Saiful, warga yang tinggal di ujung paling utara kampung persisnya di RT 4 RW 1 , Desa Bedono, sudah mulai angkat kaki dari tanah kelahirannya pada tahun 2014. Mereka sudah tidak kuat kedatangan “tamu” banjir rob hampir setiap hari. Sementara, kampungnya yang berada di RT 3 RW 1 kini masih menyisakan 19 Kepala Keluarga (KK) dari jumlah semula sebanyak 53 KK.

“Beruntung, kami masih ada hamparan hutan mangrove yang befungsi menahan laju abrasi, hutan tersebut yang saat ini mati-matian kami jaga,” paparnya.

Hutan mangrove sebagai napas panjang

Saiful bersama komunitasnya meyakini bahwa menjaga mangrove setidaknya memberikan napas panjang bagi eksistensi kampungnya.

Sebelum komunitas terbentuk, warga menanam mangrove masih secara sporadis dan tidak terkoordinir. Dulu, mereka juga harus beli bibit ketika ingin menanam.

Selepas ada komunitas, penanaman lebih terarah dan terpetakan dengan baik. Bahkan, mereka saat ini sudah melakukan pembibitan mangrove.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved