Rabu, 6 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Batang

Kasus DBD di Batang Turun, Petugas Lapangan Tetap Waspada Hadapi Cuaca Tak Menentu

Di balik penurunan angka kasus DBD di Kabupaten Batang sepanjang 2025, kewaspadaan petugas kesehatan tetap tinggi. 

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Tito Isna Utama | Editor: M Syofri Kurniawan
TRIBUN JATENG/Tito Isna Utama
BERI KETERANGAN - Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinas Kesehatan Kabupaten Batang, Suwandi, bersama Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Batang, Ida Susilaksmi, memberikan keterangan saat ditemui di kantor. (TRIBUN JATENG/TITO ISNA UTAMA) 

TRIBUNJATENG.COM, BATANG - Di balik penurunan angka kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Batang sepanjang 2025, kewaspadaan petugas kesehatan tetap tinggi. 

Cuaca yang sulit diprediksi, panas terik tiba-tiba berganti hujan, membuat nyamuk Aedes aegypti masih menjadi ancaman nyata di tengah permukiman warga.

Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinas Kesehatan Kabupaten Batang, Suwandi, menyebutkan sepanjang Januari hingga Desember 2025 tercatat 558 warga harus menjalani perawatan di rumah sakit akibat terinfeksi virus dengue. 

Baca juga: Pagi Memilah, Siang Mengolah, Cerita Warga di Balik TPS3R Batang yang Kembali Dihidupkan

Dari jumlah tersebut, 80 orang dinyatakan positif DBD, dan dua di antaranya meninggal dunia.

“Kalau yang positif Demam Berdarah itu ada 80 orang. Dari 80 itu, dua orang meninggal dunia,” kata Suwandi kepada Tribunjateng, Kamis (8/1/2026).

Meski demikian, Suwandi menegaskan bahwa secara tren, kasus DBD di Batang mengalami penurunan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.

Pada 2024, jumlah kasus mencapai 176, sementara di 2025 turun lebih dari separuh.

“Dari 176 kasus di 2024, turun menjadi 80 di 2025. Jadi secara angka memang menurun,” jelasnya.

Namun penurunan tersebut tak lantas membuat petugas lengah. 

Suwandi mengungkapkan, sebaran kasus kini tidak lagi terpusat di wilayah Pantura. 

Jika sebelumnya daerah pesisir menjadi penyumbang terbanyak, kini kasus DBD ditemukan merata hingga wilayah atas.

“Sekarang sebarannya merata. Daerah atas seperti Limpung dan Reban juga ada kasus,” katanya.

Di lapangan, laporan warga terkait penyakit yang ditularkan nyamuk terus berdatangan. 

Beberapa wilayah seperti Babadan dan Krincing melaporkan adanya kasus Chikungunya. 

Bahkan, warga Babadan telah mengajukan permohonan fogging secara tertulis dan dijadwalkan akan dilakukan pada akhir pekan ini.

Namun Suwandi menegaskan, fogging tidak bisa dilakukan sembarangan. 

Ada prosedur dan kriteria ketat yang harus dipenuhi.

“Fogging itu tujuannya menghentikan penularan DBD. Kalau hanya laporan nyamuk banyak, kita tidak bisa langsung fogging. Harus ada indikasi nyamuk DBD, artinya ada kasus sakit DBD di wilayah tersebut,” tegasnya.

Menurutnya, fogging tanpa dasar justru berisiko menimbulkan resistensi insektisida. 

Jika nyamuk sudah kebal, penanganan akan jauh lebih sulit ketika terjadi kejadian luar biasa (KLB).

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Batang, Ida Susilaksmi, menyoroti faktor cuaca sebagai pemicu utama meningkatnya potensi perkembangbiakan nyamuk.

“Cuaca seperti sekarang ini sangat disukai nyamuk Aedes. Hujan, panas, terang, berganti-ganti. Nyamuk ini justru hidup di genangan air bersih,” jelasnya.

Ia mengingatkan bahwa benda-benda sederhana di sekitar rumah, seperti botol plastik bekas, ban bekas, cekungan bambu, hingga tampungan air di belakang kulkas bisa menjadi sarang nyamuk jika dibiarkan.

“Makanya saya imbau masyarakat untuk lebih meningkatkan kebersihan lingkungan dan melakukan PSN 3M Plus secara konsisten,” ujarnya.

Ida juga mengingatkan kebiasaan sehari-hari yang kerap dianggap sepele, seperti menggantung pakaian di kamar atau jarang mengganti air minum burung, dapat memperbesar risiko penularan.

“Selain lingkungan, jaga juga daya tahan tubuh. Cuaca seperti ini bikin imunitas turun, sehingga kita lebih mudah terserang penyakit,” pungkasnya.

Meski di awal 2026 belum ada laporan resmi kasus DBD yang masuk ke Dinas Kesehatan Batang, petugas berharap peran aktif masyarakat tetap menjadi garda terdepan pencegahan agar penurunan kasus tidak hanya menjadi angka, tetapi benar-benar dirasakan hingga ke tingkat rumah tangga. (Ito)

Baca juga: Menuju WBTb 2026, Peluit Perjuangan dari Batang Kembali Ditiupkan Lewat Tari Babalu

 

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved