Berita Batang
Disdikbud Batang Siapkan Sarjana Mengajar untuk Penuhi Krisis 1000 Guru.
Kekurangan hampir 1.000 guru membuat sejumlah sekolah harus memutar otak agar kegiatan belajar mengajar tetap berjalan
Penulis: Tito Isna Utama | Editor: muslimah
TRIBUNJATENG.COM, BATANG - Alarm darurat pendidikan resmi berbunyi di Kabupaten Batang.
Kekurangan hampir 1.000 guru membuat sejumlah sekolah harus memutar otak agar kegiatan belajar mengajar tetap berjalan.
Dari penggabungan kelas hingga skema pengajaran lintas mata pelajaran, berbagai langkah darurat ditempuh sambil menyiapkan program baru bertajuk Sarjana Mengajar.
Kepala Bidang Pembinaan Ketenagaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Batang, Muhammad Arief Rohman, mengatakan bahwa kekosongan guru terjadi akibat akumulasi pensiun, meninggal dunia, hingga promosi jabatan menjadi kepala sekolah maupun pengawas.
“Kalau kita total sampai kemarin itu 958 guru. Per hari ini kemungkinan sudah menyentuh 1.000. Ini kondisi yang sangat serius,” kata Arief kepada Tribunjateng, Senin (2/3/2026).
Baca juga: Jelang Lebaran, Pj Sekda Batang Ingatkan ASN Terima Parsel Jangan Disimpan, Lapor ke UPG.
Arief yang juga menjabat Ketua PGRI Batang menegaskan, kondisi ini bukan sekadar kekurangan biasa, melainkan sudah masuk kategori darurat pendidikan.
Rekrutmen P3K Dinilai Belum Menjawab
Di tengah krisis tersebut, skema rekrutmen Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K) dinilai belum mampu menjadi solusi penambahan tenaga baru.
Menurut Arief, kebijakan tersebut lebih banyak mengubah status kepegawaian daripada menambah jumlah guru di lapangan.
“Pengangkatan P3K itu lebih ke perubahan status. Orangnya masih itu-itu saja. Sementara yang pensiun tetap kosong. Jadi secara jumlah tidak bertambah signifikan,” ujarnya.
Ia bahkan mengusulkan agar pemerintah pusat menyinergikan data pensiun dan rekrutmen dalam satu sistem terpadu agar tidak terus terjadi ketimpangan antara guru yang keluar dan yang masuk.
Selama ini, kecukupan guru kerap dihitung berdasarkan rasio, misalnya satu guru untuk 20 - 30 siswa.
Namun menurut Arief, pendekatan matematis itu seringkali tidak relevan dengan kondisi geografis dan demografis Batang.
“Kalau dihitung pakai rasio, Batang ini bahkan 1 banding 17. Tapi persoalannya bukan di angka. Di beberapa desa, satu kelas hanya berisi dua atau tiga siswa. Tidak mungkin mereka dipindah jauh hanya demi memenuhi rasio,” jelasnya.
Kondisi ini membuat pemerataan guru menjadi tantangan tersendiri, terutama di wilayah pinggiran dan pegunungan.
Sebagai solusi sementara, Disdikbud Batang menerapkan sistem kelas rangkap di sejumlah sekolah dasar (SD), yakni satu guru mengajar dua tingkat kelas dalam satu waktu dengan pengaturan jadwal bergantian.
| Pemkab Batang Pastikan Proyek TPST Dibangun Tahun Ini, Layani 9 Kecamatan |
|
|---|
| Kecelakaan di Pantura Batang Akibat Beda Tinggi Jalan, Pemotor Oleng dan Terluka |
|
|---|
| Tiga Pembobol Kotak Amal di Batang Dibekuk Polisi, Pelaku Masih Berusia Belasan Tahun |
|
|---|
| Pemkab Siapkan Food Court Baru, PKL Alun-alun Batang Direlokasi Demi Kembalikan Fungsi Ruang Publik |
|
|---|
| Tak Hanya Siswa Untung, Program Seragam Gratis Batang Tahun Ini Buka Rezeki Ratusan Penjahit Lokal |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20260302_batang6.jpg)