Selasa, 28 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Batang

Petani Kopi Batang Lepas dari Tengkulak, Skema Baru Permodalan dan Kemitraan Mulai Dibangun

Harapan baru bagi petani kopi di Kabupaten Batang mulai terlihat, dengan upaya memutus ketergantungan terhadap tengkulak

Penulis: Tito Isna Utama | Editor: muslimah
TRIBUN JATENG/Pemkab Batang
FGD - Suasana Perkumpulan untuk Peningkatan Usaha Kecil (PUPUK) Surabaya menggelar diskusi untuk memfasilitasi akses pembiayaan dan legalitas usaha bersama, bagi para petani kopi, di Desa Kemusu Reban, Kabupaten Batang.  

TRIBUNJATENG.COM, BATANG - Harapan baru bagi petani kopi di Kabupaten Batang mulai terlihat, dengan upaya memutus ketergantungan terhadap tengkulak kini digagas melalui kolaborasi strategis yang menghadirkan akses permodalan sekaligus kepastian pasar bagi hasil panen petani.

Perkumpulan untuk Peningkatan Usaha Kecil (PUPUK) Surabaya memfasilitasi diskusi bersama petani kopi di Desa Kemusu, Kecamatan Reban, dengan menggandeng Palawija Batang Coffee sebagai mitra penyerap hasil produksi.

Program ini tak sekadar pertemuan biasa, melainkan langkah konkret membangun ekosistem usaha kopi yang lebih berdaya.

Field Officer PUPUK Surabaya, Thoriqul Huda, menjelaskan bahwa selama ini persoalan utama petani terletak pada keterbatasan modal dan lemahnya posisi tawar saat panen. 

Kondisi tersebut membuat petani kerap menjual hasilnya ke tengkulak dengan harga rendah.

“Dengan skema baru ini, petani tidak hanya dibantu dari sisi pembiayaan, tetapi juga diarahkan agar hasil panennya langsung terserap oleh mitra dengan harga yang lebih kompetitif,” kata Thoriqul kepada Tribunjateng, Jumat (17/4/2026). 

Melalui pendampingan yang terstruktur, para petani yang tergabung dalam Kelompok Usaha Pertanian Sosial (KUPPS) kini mulai dikenalkan pada sistem bisnis yang lebih berkelanjutan. 

Tidak hanya soal produksi, tetapi juga penguatan legalitas usaha dan pola kemitraan yang adil.

Kerja sama dengan Palawija Batang Coffee menjadi kunci dalam rantai ini. 

Dengan adanya kepastian pembeli, petani diharapkan tidak lagi berada dalam posisi lemah saat musim panen tiba.

Salah satu peserta, Khusupiyah dari Kelompok Usaha Bersama Srikandi Rimba, menyambut optimistis program tersebut. 

Ia menilai langkah ini menjadi titik balik bagi petani kopi di wilayahnya.

“Kalau selama ini hasil panen sering dihargai rendah, ke depan kami berharap bisa mendapatkan harga yang lebih layak. Apalagi sudah ada kerja sama resmi untuk penyerapan hasil panen,” ungkapnya.

Panen kopi yang diperkirakan berlangsung pada Juni hingga Agustus mendatang menjadi momentum pembuktian dari skema ini. 

Jika berjalan sesuai rencana, model kemitraan tersebut berpotensi menjadi solusi jangka panjang dalam meningkatkan kesejahteraan petani kopi di Batang.

Langkah ini sekaligus menandai pergeseran pola usaha tani dari sekadar produksi menjadi sistem bisnis terintegrasi, di mana petani tidak lagi hanya sebagai penjual bahan mentah, tetapi bagian dari rantai nilai yang lebih kuat dan menguntungkan. (Ito) 

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved