Berita Batang
Pemkab Batang Jadikan Panggung Budaya sebagai Benteng Hadapi Arus Modernisasi
Di tengah derasnya pengaruh budaya modern dan perkembangan teknologi digital, Pemerintah Kabupaten Batang memilih memperkuat identitas
Penulis: Tito Isna Utama | Editor: muh radlis
TRIBUNJATENG.COM, BATANG - Di tengah derasnya pengaruh budaya modern dan perkembangan teknologi digital, Pemerintah Kabupaten Batang memilih memperkuat identitas daerah melalui panggung budaya.
Hal itu terlihat dalam gelaran Pentas Tradisional Malam Jumat Kliwonan yang berlangsung di Jalan Veteran Batang, Kamis (11/6/2026) malam, dan mendapat antusiasme tinggi dari masyarakat.
Ribuan warga dari berbagai kalangan memadati lokasi acara untuk menyaksikan beragam pertunjukan seni tradisional yang ditampilkan oleh pelajar dan kelompok seni dari sejumlah wilayah di Kabupaten Batang.
Kehadiran masyarakat yang memenuhi area pertunjukan menunjukkan bahwa kesenian tradisional masih memiliki tempat di hati publik meski berada di tengah era modern.
Wakil Bupati Batang Suyono yang hadir dalam kegiatan tersebut menilai, panggung budaya seperti Malam Jumat Kliwonan bukan sekadar hiburan masyarakat, melainkan bagian penting dari upaya mempertahankan identitas budaya lokal agar tidak tergerus zaman.
Menurutnya, pelestarian budaya harus dilakukan secara berkelanjutan dengan melibatkan generasi muda sebagai pewaris tradisi.
Karena itu, pemerintah terus mendorong keterlibatan pelajar dalam berbagai kegiatan seni budaya agar mereka tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga pelaku yang menjaga keberlangsungan warisan leluhur.
Baca juga: Habib Cabul di Susukan Kab Semarang Ternyata Cuma Numpang Tinggal di Ponpes: Bukan Pengasuh
“Kalau budaya tidak dikenalkan dan diwariskan kepada generasi muda, lama-kelamaan bisa hilang. Karena itu perlu ada ruang yang memberi kesempatan kepada anak-anak untuk belajar sekaligus tampil menunjukkan kemampuannya,” kata Suyono kepada Tribunjateng, Jumat (21/6/2026).
Dia menambahkan, kegiatan seni budaya juga memiliki manfaat yang lebih luas, seperti membentuk karakter, melatih keberanian tampil di depan umum, meningkatkan kreativitas, hingga menumbuhkan rasa percaya diri pada anak-anak.
Pentas Tradisional Malam Jumat Kliwonan sendiri menjadi salah satu program rutin Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Batang dalam upaya menghidupkan kembali ruang-ruang budaya di tengah masyarakat.
Selain menjadi wadah ekspresi bagi para pelaku seni, kegiatan tersebut juga berfungsi sebagai sarana edukasi budaya bagi generasi muda.
Suyono mengapresiasi konsistensi Disdikbud Batang yang terus menghadirkan panggung budaya secara berkala.
Menurutnya, keberlanjutan kegiatan semacam ini penting untuk memastikan seni tradisional tetap dikenal, dicintai, dan berkembang mengikuti perubahan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai budaya yang menjadi ciri khas daerah.
“Ini bukan hanya soal mempertahankan tradisi, tetapi juga membangun kebanggaan masyarakat terhadap budaya lokal yang dimiliki Kabupaten Batang,” ucapnya.
Pemkab Batang berharap kegiatan budaya yang melibatkan masyarakat secara langsung dapat menjadi benteng dalam menjaga identitas daerah sekaligus memperkuat rasa kebersamaan di tengah perubahan sosial yang semakin cepat.
Dengan dukungan keluarga, sekolah, komunitas seni, dan masyarakat luas, kesenian tradisional diharapkan terus hidup dan menjadi kebanggaan generasi mendatang. (Ito)
| Dulunya Rawa Terlantar di Batang Sulit Ditanami Padi, Kini Jadi Tambak Udang, Pemilik Jadi Tersangka |
|
|---|
| Bupati Batang Buka Panggung Anak Muda, Dinas Diminta Berhenti Jadi Event Organizer |
|
|---|
| 825 Petugas Sensus Siap Sapu Bersih Data Ekonomi Batang, Dari Tukang Becak hingga Perusahaan KEK |
|
|---|
| Tambak Udang di Tengah Hamparan Sawah Batang Berujung Kasus Hukum, Warga Justru Mengaku Diuntungkan |
|
|---|
| Pemkab Batang Pastikan Proyek TPST Dibangun Tahun Ini, Layani 9 Kecamatan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20260613_suyono.jpg)