Selasa, 28 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Kudus

144 Kasus HIV Ditemukan Dinkes Kudus, Dominasi Akibat LSL

144 kasus HIV ditemukan di Kabupaten Kudus yang merupakan rekapitulasi temuan kasus baru sepanjang Januari-Oktober 2025.

Penulis: Saiful Ma sum | Editor: deni setiawan
thinkstock/vchal via Kompas.com
Ilustrasi HIV AIDS 

TRIBUNJATENG.COM, KUDUS - 144 kasus HIV ditemukan di Kabupaten Kudus sepanjang 2025. Angka tersebut merupakan rekapitulasi temuan kasus baru sepanjang Januari-Oktober.

Sekretaris Dinkes Kabupaten Kudus, Nuryanto menyampaikan, 144 Orang Dengan HIV (ODHIV) ditemukan dari beberapa kalangan masyarakat.

Di antaranya kalangan lelaki suka lelaki (LSL), pelanggan pekerja seks, pasien tuberkulosis (TB), pasangan ODHIV, pasangan ODHIV, ibu hamil, dan beberapa kalangan lainnya.

Baca juga: Lagi, Kios Pasar Bitingan Kudus Kebanjiran, Atap Bocor Biang Keroknya

Viral, Mahasiswi UNS Korban Pelecehan, Dipaksa Buka Pakaian Gegara Kalah Main Game

Kata dia, 40 kasus ODHIV ditemukan dari kalangan LSL, 38 kasus dari kelompok pelanggan pekerja seks, 29 kasus dari populasi umum, dan 17 kasus dari pasien Tuberkulosis (TB), sembilan kasus ditemukan dari pasangan ODHIV, dua kasus dari ibu hamil, dan satu kasus dari wanita pekerja seksual.

Kata Nuryanto, mayoritas penderita HIV di Kudus dari kelompok usia remaja, sehingga menjadi perhatian bersama untuk menjaga dan mengawasi pergaulan anak masing-masing. Supaya tidak terjerumus pada pergaulan bebas.

"Deteksi dini sangat membantu untuk pengobatan agar dapat segera diberikan sebelum penyakit berkembang lebih lanjut," terangnya, Kamis (4/12/2025).

Diketahui bahwa tren kasus HIV di Kudus fluktuatif. Pada 2024, tercatat ada 146 kasus, 150 kasus pada 2023, 217 kasus pada 2022, 123 kasus pada 2021, dan 154 kasus pada 2020.

Baca juga: Sekolah Lansia di Kudus, Bupati Samani: Mereka Bahagia dan Sehat

Viral Driver Ojol Antar Makanan Pesanan Pelanggan Dikawal Polisi: Takut Hantu

Nuryanto menyebut, komunitas LSL menjadi penyumbang kasus HIV tertinggi. Apalagi komunitas tersebut cenderung tertutup, sehingga penanganan dan edukasi kesehatan membutuhkan pendekatan lebih ekstra.

Penularan HIV bisa terjadi sewaktu-waktu ketika ada pasangan yang sudah terinfeksi dan berpotensi menularkan ke pasangannya.

Sementara temuan kasus pada calon pengantin didapatkan dari hasil skrining kesehatan yang dilakukan sebelum pernikahan.

Dalam pencegahan HIV, Nuryanto menekankan pentingnya edukasi dan komunikasi yang baik dengan keluarga, juga dukungan dari lingkungan tempat tinggal yang tidak mengucilkan penderita HIV. Dimana tantangan terbesar penanggulangan HIV adalah keterbukaan dan stigma.

"Banyak penderita baru terdeteksi ketika kondisinya sudah berat. Padahal, jika diketahui lebih awal, penanganannya bisa lebih cepat dan lebih baik," tuturnya. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved