Kudus
PKK di Kudus Diajak Pilah Sampah Sejak dari Dapur Rumah Tangga
Sorak Sulisih dan sembilan kawannya yang tergabung dalam satu kelompok menggema dan suaranya memenuhi seisi Pendopo Kudus.
Penulis: Rifqi Gozali | Editor: rival al manaf
TRIBUNJATENG.COM, KUDUS – Sorak Sulisih dan sembilan kawannya yang tergabung dalam satu kelompok menggema dan suaranya memenuhi seisi Pendopo Kudus, Rabu (17/12/2025) sore. Saat itu kelompok Sulisih merupakan yang paling awal dalam menyelesaikan masakan mie terbang dan minuman fresh cola dibanding dengan kelompok lainnya.
Kelompok Sulisih berisi 10 orang terdiri atas pengurus Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Kabupaten Kudus lima orang dan pengurus PKK Kecamatan Undaan lima orang. Mereka berbagi tugas dalam menyelesaikan misi kompetisi masak untuk para pengurus PKK di Kabupaten Kudus. Saat itu Sulisih kebagian mengiris sayuran sebagai pelengkap menu mie terbang. Sedangkan kawannya ada yang bertugas untuk mengolah mie agar bisa berdiri tegak dan ada pula yang meracik minuman yang terbuat dari kulit jeruk, lemon, kapulaga, dan sejumlah rempah-rempah lainnya.
Yang menarik di sini, ada satu orang di kelompok Sulisih yang bertugas merekam video setiap proses memasak. Kemudian hasil rekaman tersebut diunggah di media sosial sebagai bentuk kampanye zero waste.
Waktu yang diberikan oleh setiap kelompok untuk membuat mie terbang dan fresh cola yaitu selama 30 menit. Kurang dari waktu tersebut rupanya kelompok Sulisih sudah bisa menyelesaikan semuanya.
Baca juga: Orangtua Lapor Polisi, Oknum Guru SMA di Karanganyar Setubuhi Anaknya
Baca juga: BREAKING NEWS Jasad Bayi Laki-laki Ditemukan di Bawah Flyover Yos Sudarso Semarang
“Untuk buat mie terbang ini hanya butuh waktu tujuh menit setengah. Setelahnya kelompok kami fokus dalam membuat fresh cola,” kata perempuan berusia 57 tahun tersebut.
Kompetisi memasak ini merupakan bagian dari praktik dalam sosialisasi pengolahan sampah organik rumah tangga yang diikuti oleh 150 kader PKK di Kabupaten Kudus. Sebelum memasak, para peserta lebih dulu mendapatkan pengarahan perihal pengolahan sampah organik rumah tangga oleh peserta MasterChef Indonesia musim ketujuh Isman Ridhwansah.
Mula-mula Isman memberikan arahan bahwa dalam memasak bisa memaksimalkan seluruh bumbu dapur yang ada. Misalnya dalam membuat kaldu bisa memanfaatkan kulit bawang. Kemudian kulit jeruk, bagi Isman, juga bisa dimanfaatkan menjadi minuman yang segar.
Dengan begitu sisa bumbu yang terbuang bisa lebih sedikit karena sebelumnya telah maksimal dalam pemanfaatannya.
Kemudian yang paling penting dalam memasak yakni dengan memilah sampah antara organik dan nonorganik sisa olahan masakan. Dengan begitu, diharapkan pemilahan ini bisa benar-benari dipraktikkan di rumah dan disebarkan kepada ibu rumah tangga lainnya yang tinggal di sekeliling rumah.
“Dari sini pesan pengelolaan sampah perlu dikemas secara relevan, kreatif dan inspiratif agar mampu mendorong masyarakat untuk mulai bergerak dari ruang terdekat, yaitu dapur dan rumah tangga,” katanya.
Tidak hanya memaksimalkan pemanfaatan bumbu dapur dan memilah sampah rumah tangga, namun para kader PKK peserta sosialisasi tersebut juga diharapkan menjadi motor penggerak pemilahan sampah rumah tangga dengan mengunggah kampanye pilah sampah dapur ke media sosial.
“Jadi mereka dibekali keterampilan mengolah bahan pangan secara menyeluruh untuk meminimalkan limbah, sekaligus kemampuan menyusun konten edukatif untuk sebagai bagian dari kampanye pengelolaan sampah organik di ruang digital,” kata Isman.
Sosialisasi pemilahan sampah sekaligus praktik memasak ini merupakan buah kerja sama antara Bakti Lingkungan Djarum Foundation dan Pemerintah Kabupaten Kudus dan Tim Penggerak PKK Kudus. fokus dalam kegiatan ini yaitu mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah sejak dari sumbernya yaitu dari rumah tangga.
Program ini cukup beralasan, sebab Kudus sebagai daerah yang terkenal industrinya terbilang sebagai daerah yang padat penduduknya di Jawa Tengah terdapat tantangan dalam pengelolaan sampah. Berdasarkan data sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), pada 2024 timbulan sampah di Kabupaten Kudus tercatat lebih dari 150 ribu ton per tahun atau sekitar 437 ton per hari. Angka tersebut menyumbang sekitar 4,5 persen terhadap total timbulan sampah nasional, sehingga perlu adanya penanganan sampah yang sistematis, adaptif, dan berkelanjutan.
“Pengelolaan sampah tidak hanya persoalan teknis, tetapi juga erat kaitannya dengan perubahan perilaku. Oleh karena itu, rumah tangga menjadi titik awal yang sangat krusial,” kata Director – Communication Djarum Foundation, Mutiara Diah Asmara.
| Lahan Pertanian di Wonosoco Kudus Tergenang Banjir Setiap Tahun, Butuh Normalisasi Sungai |
|
|---|
| Pemkab Kudus Masih Godok Tata Laksana WFH |
|
|---|
| 202 Penderita Penyakit Kronis di Kudus Kembali terdaftar Sebagai Peserta PBI JKN |
|
|---|
| Remaja di Kudus Gelar Pesta Miras di Malam Ramadan, Berujung Ditangkap Polisi |
|
|---|
| Masih Ada 1.954 Balita Stunting di Kudus |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/MEMASAK-Sejumlah-kader-PKK.jpg)