Banjir di Kudus
24 Desa di Kudus Terkena Banjir, 34.277 Warga Terdampak
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kudus sampai pada Selasa (12/1/2026) pagi mencatat terdapat 34.277
Penulis: Rifqi Gozali | Editor: muh radlis
TRIBUNJATENG.COM, KUDUS – Banjir di Kabupaten Kudus sudah meluas sampai ke 24 desa yang tersebar di 6 kecamatan.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kudus sampai pada Selasa (12/1/2026) pagi mencatat terdapat 34.277 warga Kudus terdampak banjir.
Satu di antara banjir terjadi di Dukuh Goleng, Desa Pasuruhan Lor, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Banjir di desa ini terjadi sejak dua hari yang lalu. Ketinggian banjir kian bertambah seiring dengan intensitas hujan yang masih tinggi.
“Banjir di sini semakin bertambah karena derasnya hujan,” ujar Ketua RW 12 Dukuh Goleng, Sukijan saat ditemui di lokasi banjir, Selasa (12/1/2026).
Sukijan mengatakan, banjir yang saat ini terjadi karena limpasan air dari Kaliwungu.
Sementara data BPBD sendiri mencatat banjir di Goleng ini karena ada limpasan aliran air dari Sungai SWD yang ada di Kaliwungu.
Berbeda dengan banjir tahun sebelumnya, banjir di Goleng biasanya terjadi karena curah hujan tinggi dan kiriman dari aliran Sungai Wulan yang lokasinya memang bersebelahan dengan Dukuh Goleng.
Saat ini, kata Sukijan, tidak ada kiriman banjir dari Sungai Wulan karena sungai tersebut sudah dinormalisasi.
Baca juga: Judi Sabung Ayam dan Dingdong Leluasa di Mranggen Demak, Polisi Janji Segera Bertindak
Baca juga: AKBP Anita Diganti, Jadi Kapolres di Purbalingga Meski Salah Tangkap Polres Magelang Kota Mandeg
“Biasanya kan kiriman banjir dari Sungai Wulan, ini sudah dinormalisasi, sudah cukup bagus, Cuma curah hujan masih tinggi.
Airnya dari arah Kaliwungu, ke Goleng,” katanya.
Saat ini sebagian warga Goleng sudah mengungsi. Jumlahnya sudah ada 24 jiwa yang kini tinggal di pengungsian.
Sementara sebagian besar warga Goleng masih tetap bertahan di rumah dengan genangan air antara 30 sentimeter sampai 80 sentimeter.
“Kalau jumlah keseluruhan warga di RW 12 Dukuh Goleng ini sekitar 800-an jiwa.
Sedangkan untuk rumah ada 100-an rumah,” kata Sukijan.
BPBD Kudus mencatat, dari 24 desa di Kabupaten Kudus yang terjadi banjir terdiri atas desa yang berada di Kecamatan Mejobo.
Di Kecamatan ini desa yang terjadi banjir yaitu Desa Kesambi, Jojo, Mejobo, Golantepus, Temulus, Tenggeles, Hadiwarno, Payaman, dan Kirig. Banjir di Kecamatan Mejobo ini terjadi karena ada limpasan aliran dari Sungai Piji, Dawe, Mrisen, dan Sungai Jati Pasean.
Kemudian untuk banjir di Kecamatan Kota Kudus terjadi di dua desa yaitu Demangan dan Singocandi.
Banjir akibat luapan Sungai Gelis saat ini sudah surut.
Berikutnya banjir yang terjadi di Kecamatan Jekulo terjadi di dua desa yaitu Desa Hadipolo dan Bulungcangkring.
Banjir di dua desa ini karena limpaasan air dari Sungai Piji dan Jati Pasean. BPBD mencatat kondisi di kedua desa tersebut telah surut.
Sedangkan di Kecamatan Bae banjir menggenang di Desa Ngembalrejo.
Banjir di sini karena luapan air dari Sungai Dawe dan Sungai Nolo.
Di Kecamatan Kaliwungu banjir menggenang di enam desa yaitu Desa Sidorekso, Mijen, Papringan, Gamong, Prambatan Kidul, dan Setrokalangan. BPBD mencatat banjir di Kecamatan Kaliwungu sudah surut, kecuali di Desa Setrokalangan.
Terakhir banjir yaitu di Kecamatan Jati.
Di sini terdapat empat desa yang terdampak banjir, yaitu Desa Ploso, Ngembal Kulon, Parusuhan Lor, dan Loram Kulon.
Bupati Kudus Sam’ani Intakoris memastikan, pihaknya akan terus koordinasi dalam upaya penanganan banjir yang terjadi di Kudus.
Koordinasi tersebut pihaknya lakukan dengan sejumlah organisasi perangkat daerah maupun Gubernur Jawa Tengah.
“Terima kasih dukungan dari kepolisian maupun TNI, relawan dan semua masyarakat dalam tanggap darurat kebencanaan ini,” kata Sam’ani.
Sam’ani memerintahkan kepada Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kudus untuk melakukan asesmen untuk mengetahui kerusakan infrastruktur apa saja akibat bencana yang saat ini melanda Kudus.
Kerusakan tersebut akan segera diperbaiki.
Satu di antara banjir yang saat ini parah yaitu terjadi di Dukuh Goleng, Desa Pasuruhan Lor, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus.
Menurut Sam’ani, kondisi Dukuh Goleng yang berada di cekungan ini membuatnya rawan terjadi genangan saat musim hujan.
Apalagi posisinya juga berbatasan dengan sungai, sewaktu-waktu bisa meluap.
“Kalau di atas, hulu sungai terjadi hujan di sini (Goleng) pasti terjadi genangan,” katanya.
Upaya penanganannya, kata Sam’ani, pihaknya akan mengajukan ke pemerintah pusat untuk membangun embung atau kolam retensi seperti yang sudah dilakukan Kementerian PU yang telah membangun kolam retensi di Desa Jati Wetan Kudus.
“Salah satu solusinya dibuatkan kolam retensi penampungan air seperti di Jati Wetan,” kata dia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20260113_banjir-kudus-2.jpg)