Selasa, 19 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Tribun Jateng Hari Ini

Batik Asli Perlu Penegasan Identitas di Tengah Serbuan Printing

Pesatnya teknologi printing menimbulkan tantangan tersendiri bagi batik tulis dan batik cap yang memiliki proses pembuatan jauh lebih panjang

Tayang:
Penulis: Indra Dwi Purnomo | Editor: Vito
ISTIMEWA/Dok Kominfo Kota Pekalongan
BATIK CAP - Pemilik Oszha Batik Fauzi Hidayat memperlihatkan proses pembuatan batik cap, di rumah produksi batik miliknya, Jumat (14/11). Pesatnya teknologi printing menimbulkan tantangan tersendiri bagi batik tulis dan batik cap yang memiliki proses pembuatan jauh lebih panjang dan bernilai budaya tinggi. 

TRIBUNJATENG.COM, PEKALONGAN - Di tengah masifnya perkembangan teknologi printing dalam industri tekstil, pelaku usaha batik tradisional menilai perlunya penegasan identitas batik asli agar tidak semakin tertukar dengan kain bermotif batik hasil cetak mesin.

Pesatnya teknologi printing menimbulkan tantangan tersendiri bagi batik tulis dan batik cap yang memiliki proses pembuatan jauh lebih panjang dan bernilai budaya tinggi.

Pemilik Oszha Batik, Fauzi Hidayat mengatakan, batas antara batik asli dan produk printing semakin kabur karena kemajuan teknologi yang membuat visual printing tampak sangat mirip dengan batik tradisional.

Menurut dia, edukasi publik dinilai menjadi kunci penting untuk menjaga apresiasi masyarakat terhadap warisan budaya tersebut.

"Kalau dilihat lebih detail, sebenarnya tetap ada perbedaan antara batik tulis, batik cap, dan printing. Salah satunya dari bagian belakang kain," katanya, dalam kunjungan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Pekalongan, Jumat (14/11).

Fauzi menuturkan, kain printing umumnya tidak menampilkan motif pada bagian belakang. Namun, perkembangan teknologi membuat ciri ini semakin sulit dibedakan. Sementara, ketidakteraturan motif pada batik tulis dan cap justru menjadi bukti orisinalitas proses pengerjaan manual. 

"Dalam satu kain batik tulis atau cap, bisa saja sisi kanan dan kiri tidak sama persis, karena dikerjakan oleh tangan. Kalau printing seragam semua, karena hasil mesin. Begitu ada geser warna, semua bagian ikut bergeser," jelasnya.

Ia berujar, persoalan itu bukan hanya soal industri, tetapi juga soal literasi budaya di masyarakat. Minimnya pemahaman menyebabkan, konsumen seringkali keliru menganggap printing sebagai batik asli.

"Kita perlu memberikan pemahaman yang benar, agar masyarakat bisa membedakan mana batik asli dan mana kain printing," tegasnya.

Fauzi menilai, batik tradisional dan printing tetap dapat berjalan berdampingan selama keduanya memiliki ruang yang jelas. Produk printing tetap dibutuhkan pasar, namun tidak boleh menyamar sebagai batik asli.

"Printing tetap harus punya tempat, tetapi tempatnya terpisah. Itu penting untuk menjaga keaslian dan nilai batik tradisional, sekaligus memberi ruang bagi printing berkembang pada jalurnya sendiri," bebernya.

Sebagai pelaku usaha, Fauzi berkomitmen terus mendukung pelestarian batik melalui edukasi dan penguatan nilai budaya. Ia berharap, kesadaran masyarakat terhadap keunikan proses batik asli dapat meningkatkan penghargaan terhadap karya para pengrajin.

"Batik bukan sekadar kain bermotif indah. Ia adalah warisan budaya dengan makna dan filosofi. Ketika masyarakat memahami prosesnya, penghargaan terhadap batik asli akan tumbuh dengan sendirinya," tukasnya. (Indra Dwi Purnomo)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved