Jumat, 15 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Tribun Jateng Hari Ini

Batik Rifaiyah, Karya Sunyi Lintas Generasi Perempuan Batang

Kabupaten Batang juga memiliki batik khas yang telah dikenal hingga tingkat nasional, yakni Batik Rifaiyah.

Tayang:
Penulis: Tito Isna Utama | Editor: Vito
TRIBUN JATENG/Tito Isna Utama
PERLIHATKAN BATIK - Miftakhutin Ketua Kelompok Pembatik Rifaiyah Kabupaten Batang memperlihatkan produk batiknya, Selasa (10/2/2026). Rumah produksi batik Rifaiyah berada di Desa Kalipucang Wetan, Kecamatan Batang, Kabupaten Batang. 

TRIBUNJATENG.COM, BATANG - Indonesia memiliki beragam warisan budaya yang layak dibanggakan, dengan satu di antaranya adalah batik.

Kain bernilai seni tinggi itu hadir dengan berbagai motif yang mencerminkan kekhasan daerah Nusantara.

Di Jateng, sentra batik kerap identik dengan Pekalongan, Solo, dan Yogyakarta. Namun, tak banyak yang tahu Kabupaten Batang juga memiliki batik khas yang telah dikenal hingga tingkat nasional, yakni Batik Rifaiyah.

Di sebuah rumah sederhana di Desa Kalipucang Wetan, Kecamatan Batang, malam tak pernah benar-benar sunyi.

Saat kebanyakan orang terlelap, Miftakhutin atau akrab disapa Mbak Utin justru menyalakan lampu, memanaskan malam, lalu menorehkan canting di atas kain.

Di sanalah Batik Rifaiyah terus hidup, bertahan, dan diwariskan. 

Mbak Utin bukan sekadar pembatik. Dia adalah sosok Ketua Kelompok Pembatik Rifaiyah Kabupaten Batang, sekaligus penjaga ruh tradisi yang nyaris tergerus zaman.

Semangat Mbak Utin kembali menyala ketika menyaksikan langsung pengakuan publik terhadap Batik Rifaiyah dalam berbagai pameran batik lokal hingga nasional. 

Meski tak selalu hadir secara fisik, karya-karyanya telah lebih dulu dikenal. Nama Batik Rifaiyah kerap disebut di berbagai ajang, satu di antaranya Indonesia International Handicraft Trade Fair (Inacraft) 2026 yang digelar di Jakarta pada 4-8 Februari 2026.

“Waktu di pameran, orang-orang tanya, ‘Batik Rifaiyah ya? Dari Batang ya?’ Ternyata mereka sudah kenal. Itu yang bikin saya kaget sekaligus semangat,” kata Mbak Utin, kepada Tribun Jateng, Selasa (10/2).

Pengakuan itu menjadi penguat bahwa perjuangannya menjaga Batik Rifaiyah belum sia-sia. Ia menyampaikan, saat ini terdapat 42 pembatik Rifaiyah yang masih aktif.  Namun, sebagian besar merupakan perempuan lanjut usia. 

Tantangan besar

Baginya, regenerasi menjadi tantangan terbesar. “Yang muda hampir tidak ada. Yang tua-tua ini harus terus dikaryakan,” ujarnya.

Meski demikian, Mbak Utin terus membuka pintu lebar-lebar. Ia menggelar kursus batik gratis, lengkap dengan fasilitas dan konsumsi bagi siapa saja yang ingin belajar, tanpa memandang latar belakang.

Menurut dia, batik Rifaiyah memiliki ciri khas yang sangat kuat. Satu di antaranya penggambaran hewan yang tidak utuh, kepala dipotong atau dimoderasi sebagai bentuk kehati-hatian sesuai dengan syariat Islam.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved