Tribun Jateng Hari Ini
Batik Rifaiyah, Karya Sunyi Lintas Generasi Perempuan Batang
Kabupaten Batang juga memiliki batik khas yang telah dikenal hingga tingkat nasional, yakni Batik Rifaiyah.
Penulis: Tito Isna Utama | Editor: Vito
“Motifnya lain daripada yang lain. Orang yang sudah hafal, begitu lihat langsung tahu, ini Batik Rifaiyah,” ucapnya.
Motif flora mendominasi, sementara fauna hanya muncul sesekali, dan tetap dimodifikasi. Konsistensi itulah yang membuat Batik Rifaiyah mudah dikenali.
Mbak Uitin menyebut, keistimewaan Batik Rifaiyah tak hanya terletak pada motif, tetapi juga pada teknik pembuatannya yang masih sangat tradisional.
Prosesnya dimulai dari pengetelan kain, direndam minyak kacang, lalu dijemur berulang selama sekitar 7 hari. Teknik tersebut membuat serat kain menjadi lebih rapat dan warnanya bisa lebih awet.
Pola tidak digambar dengan pensil, melainkan langsung menggunakan canting tanpa penggaris, sepenuhnya mengandalkan intuisi dan pengalaman.
Yang paling membedakan, batik dikerjakan bolak-balik, baik saat ngiseni atau ngrengsi (mengisi pola) maupun pewarnaan. Pewarnaan dilakukan dengan teknik celup manual, bukan cetak.
“Kalau printing itu bukan batik. Itu tekstil bermotif batik. Batik itu harus dicanting dan dicelup atupun dicolet. Tapi batik Rifaiyah harus dicelup,” tegasnya.
Kerja batin
Bagi Mbak Utin, membatik bukan sekadar kerja tangan, melainkan juga kerja batin. Dalam tradisi Rifaiyah, proses membatik kerap disertai pembacaan kitab, syair, dan salawat.
“Kalau dikerjakan dengan hati, tenang, tidak tergesa-gesa, hasilnya hidup. Ruhnya beda. Inilah yang membuat setiap kain Batik Rifaiyah memiliki karakter unik dan tak pernah benar-benar sama,” bebernya.
Mbak Utin menuturkan, produksi Batik Rifaiyah sejak awal dikerjakan sepenuhnya oleh perempuan.
Filosofinya sederhana namun kuat, yakni perempuan harus berdaya secara ekonomi tanpa meninggalkan perannya di rumah.
“Perempuan bisa menghasilkan uang, tapi tetap di rumah, ngurus anak dan keluarga,” tukasnya.
Mbak Utin mulai membatik sejak usia 9 tahun pada 1987. Batik menjadi penopang hidupnya, bahkan membiayai pendidikannya dari sekolah hingga kuliah.
Kini, selain membatik, ia juga mengajar di MI Al Islam Watesalit pada pagi hari. Selesai mengajar, pada malam harinya Mbak Utin biasanya tetap membatik.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20260210-_-Batik-Rifaiyah-Batang.jpg)