Sabtu, 18 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

UKSW Salatiga

Budaya Populer Sebagai Magnet Wisata Global: Despar UKSW Hadirkan Perspektif Dunia dalam Webinar

Pogram Studi D4 Destinasi Pariwisata, Fakultas Interdisiplin UKSW menggelar International Webinar bertajuk ““Popular Culture as a Destination Magnet"

Penulis: Adi Tri | Editor: abduh imanulhaq
IST
Program Studi D4 Destinasi Pariwisata Fakultas Interdisiplin Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga menggelar International Webinar 

TRIBUNJATENG.COM, SALATIGA - Musik, festival, film, K-Pop, hingga olahraga kini tak lagi sekadar hiburan, namun sudah menjelma menjadi kekuatan global yang membentuk arah pariwisata dunia.

Fenomena inilah yang menjadi sorotan Program Studi D4 Destinasi Pariwisata (Despar), Fakultas Interdisiplin Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), melalui penyelenggaraan International Webinar bertajuk “Popular Culture as a Destination Magnet: Music, Events, and Tourism”, belum lama ini secara daring. 

Kegiatan yang diikuti oleh 101 peserta dari UKSW, Podomoro University, dan BINUS University ini menghadirkan narasumber ternama, Profesor John Connell dari University of Sydney, dengan Linda Susilowati, Ph.D., dosen FID UKSW, bertindak sebagai moderator. 

Hadir pula Dekan FID UKSW, Aldi Herindra Lasso, S.Pd., M.M.Par., Ph.D., serta sejumlah akademisi lintas kampus seperti Wakil Rektor Bidang 1 Podomoro University Dr. Michael Aswin Winardi, M.Par., Dosen pengampu Mata Kuliah Event Management Dr. Santi Palupi Arianti, M.M., dan Anwar Basalamah, B.Sc., M.Par, serta Jaeysen Kanily, S.Bns., MBA.

Sementara itu, dari BINUS University turut hadir yaitu yaitu Head of Tourism Destination Department BINUS Hana Ulinnuha, S.ST., MSc., dan Dianka Wahyuningtias, SST.Par., M.M.

20251020_ukswalt1
Program Studi D4 Destinasi Pariwisata (Despar), Fakultas Interdisiplin Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) menggelar International Webinar

Dalam sambutannya, Dekan FID UKSW, Aldi Herindra Lasso, menegaskan bahwa budaya populer memiliki cara unik dalam membentuk persepsi destinasi wisata.

“Sebuah film dapat membuat tempat terasa akrab dan layak dikunjungi, sementara musik atau olahraga mampu mengubah wajah kota dan memengaruhi perencanaan wilayah,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya mempertimbangkan aspek keberlanjutan dan dampak sosial dari fenomena tersebut.

“Besarnya arus kunjungan akibat event berskala global menuntut kita untuk terus menanyakan, bagaimana kita merancang masa depan pariwisata yang berkelanjutan,” tandasnya.

Budaya Populer dan Jejaring Akademik Global

Ketua Program Studi D4 Destinasi Pariwisata UKSW, Rini Kartika Hudiono, S.Pd., M.A., menjelaskan bahwa ide besar webinar ini lahir dari pengamatan terhadap fenomena global popular culture-driven tourism, di mana musik, film, olahraga, dan figur publik menjadi daya tarik baru bagi wisatawan.

“Budaya populer kini bukan sekadar hiburan, melainkan sarana membangun koneksi emosional antara wisatawan dan tempat. Contohnya, Elvis Festival di Parkes, Australia, menjadi bukti bagaimana ikon budaya mampu menggerakkan ekonomi dan memperkuat identitas lokal,” terang Rini Kartika Hudiono.

Kerja sama dengan University of Sydney, lanjutnya, terjalin melalui jejaring akademik dosen FID UKSW, Linda Susilowati, Ph.D., yang baru menyelesaikan studi doktoralnya di universitas tersebut.

Melalui koneksi ini, UKSW berkesempatan menggandeng Profesor Connell, seorang pakar cultural geography dan festival-led regional development untuk berbagi perspektif global.

“Kehadiran beliau memberikan wawasan yang sangat relevan dengan konteks Indonesia, di mana pariwisata kini bertransformasi dari sekadar ‘melihat tempat’ menjadi ‘mengalami cerita,’” imbuhnya.

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved