Senin, 8 Juni 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

UIN SAIZU Purwokerto

Assyifa Furqon Gaibinsani Mahasiswa UIN Saizu Tembus Panggung Internasional Berbekal Nilai Pesantren

Kisah Assyifa Furqon Gaibinsani mahasiswa fakultas FTIK UIN Saizu menembus ruang-ruang prestasi nasional hingga internasional

Tayang:
Penulis: Adi Tri | Editor: galih permadi
IST
Kisah Assyifa Furqon Gaibinsani mahasiswa fakultas FTIK UIN Saizu menembus ruang-ruang prestasi nasional hingga internasional 

TRIBUNJATENG.COM, PURWOKERTO - Tidak semua kisah prestasi lahir dari gemerlap sorotan. Sebagian tumbuh perlahan, ditempa oleh disiplin, kesabaran, dan keyakinan bahwa ilmu adalah amanah. Kisah itu tercermin dalam perjalanan Assyifa Furqon Gaibinsani, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Arab, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto.

Berangkat dari lingkungan pesantren di Pangandaran, Assyifa melangkah ke dunia akademik dengan bekal iman, keberanian, dan semangat belajar tanpa henti. Ia membuktikan bahwa latar belakang pesantren bukanlah batas, melainkan fondasi kuat untuk menembus ruang-ruang prestasi nasional hingga internasional tanpa kehilangan kesederhanaan dan nilai akhlak. 

Selain kata nekat, tidak ada yang benar-benar mengisahkan cerita hebat. Maka, gapai prestasi dan ciptakan prasasti. Assyifa lahir dan tumbuh di Ciamis, Jawa Barat. Ia menempuh pendidikan dasar di SDN 1 Kertahayu (2010–2016), lalu melanjutkan ke MTs Sabilil Muttaqien Pangandaran (2016–2019). Tahun-tahun di pesantren menjadi fase penting yang membentuk karakternya.

Di balik rutinitas mengaji, belajar, dan hidup sederhana, ia belajar tentang disiplin, tanggung jawab, serta keteguhan menjaga niat. Pesantren mengajarkannya bahwa ilmu bukan sekadar alat meraih prestasi, tetapi sarana mendekatkan diri kepada Tuhan. Pesantren mengajarkan saya untuk menghargai proses. Di sana saya belajar bahwa ilmu adalah ibadah, dan setiap usaha harus disertai keikhlasan.

Nilai itulah yang ia bawa ketika resmi menjadi mahasiswa UIN Saizu Purwokerto. Bagi Assyifa, kampus bukan hanya tempat menimba ilmu, melainkan ruang pengabdian dan ladang amal. Sejak masa sekolah, Assyifa dikenal aktif mengikuti berbagai kompetisi mulai dari karya tulis ilmiah, esai, debat, hingga public speaking. 

Ia tidak selalu datang dengan rasa percaya diri penuh, tetapi selalu membawa keberanian untuk mencoba. Kerja keras itu berbuah manis. Ia meraih Juara 1 Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) Yofest di University of Darussalam Gontor (2024), menjadi Finalis 13 Besar Esai Universitas Negeri Yogyakarta (2024), Finalis Lomba Debat dan Media Pembelajaran Fantastik UIN Saizu, serta Finalis Lomba Esai Milangkala Galuh (2025).

Langkahnya bahkan menembus forum akademik internasional. Assyifa tampil sebagai presenter pada Innoved & ISCE (2025) dan ICOEREES UIN Jambi (2025). Di antara ratusan peserta dari berbagai kampus, ia dinobatkan sebagai Best Presenter. Setiap kompetisi adalah ruang belajar. Menang atau kalah bukan tujuan utama, tapi bagaimana saya tumbuh dan bisa memberi kontribusi setelahnya.

Di tengah padatnya aktivitas akademik, Assyifa tidak melepaskan akar spiritualnya. Ia aktif di Komunitas Kaligrafi Tahta Syajaroh UIN Saizu dan menorehkan prestasi Juara 1 Kaligrafi Naskhi Milad KTS (2024) serta Juara 3 MHQ 30 Juz PESOMA (2025).

Selain itu, kecintaannya pada literasi tumbuh sejak madrasah melalui puisi, pidato, dan Musabaqah Syarhil Qur’an. Baginya, menulis adalah cara berdakwah dengan bahasa yang lembut dan menyentuh. Dari kegelisahan melihat rendahnya minat baca, Assyifa kemudian mendirikan Komunitas Literasi Daily Dose of Reading, sebuah ruang berbagi bacaan, refleksi, dan tulisan bagi mahasiswa serta pelajar.

Di lingkungan kampus, Assyifa dikenal sebagai mahasiswa yang aktif dan mudah diajak bekerja sama. Ia terlibat sebagai panitia berbagai kegiatan, seperti Makrab KYA (2025), SBA (2024), Capacity Building dan Masterclass Mahasiswa Berprestasi (2025), hingga Penganugerahan Mahasiswa Berprestasi 2025.

Ia juga tergabung dalam komunitas MJHQ FTIK, Kertas Putih Perpustakaan, dan Tahta Syajaroh, serta dipercaya sebagai Campus Ambassador Popsurvey by Populix (2025) dan Duta Hijab Jawa Barat (2025).

Jiwa kepemimpinannya telah terasah sejak pesantren. Ia pernah menjabat Ketua Dewan Penggalang, Pemangku Adat Dewan Ambalan, hingga Ketua Pengurus Pondok Pesantren Sabilil Muttaqien. Pengalaman itu membentuk kepemimpinan yang berlandaskan empati, spiritualitas, dan kolaborasi.

Bagi Assyifa, semua capaian bukan untuk kebanggaan pribadi. Ia memandang prestasi sebagai amanah dan bentuk rasa syukur kepada Allah SWT. Di balik deretan prestasi, Assyifa tetap tampil sebagai mahasiswa yang rendah hati, santun, dan bersahaja. Ia menginspirasi bukan hanya lewat capaian, tetapi melalui sikap hidup yang konsisten menjaga nilai.

Perjalanan Assyifa Furqon Gaibinsani adalah kisah tentang keberanian seorang santri melangkah jauh tanpa kehilangan arah. Dari pesantren di Pangandaran hingga panggung akademik nasional dan internasional, ia membawa pesan sederhana namun kuat: bahwa ilmu sejati adalah cahaya bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi untuk menerangi sekitar. (***)

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved