Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Pendidikan

Pengembangan Keterampilan Sosial pada Anak dengan Disabilitas Intelektual melalui Home Program

Disabilitas intelektual merupakan kondisi yang ditandai adanya hambatan keterampilan pada masa perkembangan

Penulis: Adi Tri | Editor: abduh imanulhaq
IST
Disabilitas intelektual merupakan kondisi yang ditandai adanya hambatan keterampilan pada masa perkembangan, yang dapat berdampak pada kemampuan akademik anak 

Oleh: Nabila Putri Isnaini (202260126@std.umk.ac.id) Mahasiswa Psikologi Universitas Muria Kudus dan Tinon Citraning Harisuci, S.Psi., M.Psi., Psikolog Dosen Psikologi Universitas Muria Kudus 

MENURUT PPDGJ-III, disabilitas intelektual merupakan kondisi yang ditandai oleh adanya hambatan keterampilan pada masa perkembangan, yang dapat berdampak pada kemampuan akademik anak. Hambatan ini tidak hanya memengaruhi aspek kognitif, tetapi juga berbagai aspek lain dalam kehidupan anak, termasuk kemampuan sosial.

Hallahan, Kauffman, dan Pullen (2014) menjelaskan bahwa salah satu aspek yang sering mengalami defisit pada anak dengan disabilitas intelektual adalah perkembangan sosial. Anak dengan kondisi ini cenderung mengalami kesulitan dalam berinteraksi dengan lingkungan sosialnya. Hal tersebut juga ditemukan pada subjek yang ditangani oleh penulis. Subjek menunjukkan hambatan dalam bersosialisasi dengan orang lain, terutama ketika bertemu dengan orang baru. Dalam situasi tersebut, subjek cenderung diam, menarik diri, dan enggan bergaul.

Karra (2013) menjelaskan bahwa anak-anak dengan disabilitas intelektual merupakan individu dengan kebutuhan yang beragam. Mereka mengalami kesulitan dalam fungsi intelektual dan aktivitas sehari-hari yang umumnya diharapkan dapat dilakukan oleh anak seusianya. Selain itu, anak dengan disabilitas intelektual belajar lebih lambat dibandingkan anak pada umumnya serta menunjukkan keterlambatan perkembangan, seperti terlambat tersenyum, bergerak, duduk, berjalan, dan menunjukkan ketertarikan terhadap lingkungan sekitar.

Untuk membantu meningkatkan keterampilan sosial anak dengan disabilitas intelektual, terdapat berbagai bentuk intervensi yang dapat dilakukan. Salah satu intervensi yang umum digunakan adalah Social Skills Training (SST). Menurut Spence (2003), Social Skills Training merupakan intervensi yang bertujuan membantu individu memperoleh perilaku sosial dasar, sehingga mereka dapat meningkatkan keberhasilan dalam berbagai situasi sosial.

Dalam praktiknya, penulis memberikan intervensi kepada subjek berupa home program yang berfokus pada pengembangan keterampilan sosial. Home program tersebut meliputi beberapa kegiatan, antara lain memulai pembicaraan dengan orang lain, mengajak teman bermain bersama, mengucapkan terima kasih ketika menerima bantuan, mengobrol dengan teman, menjawab pertanyaan saat diajak berbicara, serta berlatih belanja sendiri ke toko atau warung terdekat.

Pelaksanaan home program dilakukan dengan pendampingan dan bantuan dari orang tua. Sebagian besar kegiatan telah berhasil dilakukan oleh subjek secara bertahap. Dalam hal ini, dukungan orang tua memiliki peran yang sangat penting dalam menunjang keberhasilan intervensi, karena orang tua berperan sebagai pendamping utama dalam membantu anak mempraktikkan keterampilan sosial dalam kehidupan sehari-hari.

Penulis juga melakukan psikoedukasi dalam rangkaian intervensi. Psikoedukasi diberikan kepada orangtua subjek sebagai dasar pemahaman orangtua terkait kondisi anak. Melalui psikoedukasi, orangtua menjadi lebih paham bagaimana kondisi anak yang sebenarnya. Terkait kemampuan akademik juga bersosialisasinya. 

Daftar Pustaka 

Karra, A. (1999). Social Skills of Children with Intellectual Disability attending home based program and Children attending regular special schools- A Comparative Study. 2(8), 59–63.

P, D., M.Kauffman, J., & C.Pullen, P. (2019). Exceptional Learners: An Introduction to Special Education. Pearson.

Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia III. (1993).

Spence, S. H. (2003). Social Skills Training with Children and Young People : Theory , Evidence and Practice. 8(2), 84–96. (***)

 

Sumber: Tribun Jateng
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved