Jumat, 8 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Pendidikan

Langkah Kecil Berbuah Besar, Triyana Kepsek SMPN 28 Inovasikan Literasi Numerasi "Siaga Pelita"

Program bertajuk Siaga Pelita (Sistem Aplikasi Gabungan Penguatan Literasi dan Numerasi) menjadi bukti perubahan signifikan dapat dimulai dari langkah

Tayang:
Penulis: Idayatul Rohmah | Editor: muslimah
TRIBUN JATENG/Istimewa
Kepala Sekolah SMP Negeri 28 Semarang, Triyana saat berinteraksi dengan siswa di perpustakaan sekolah tersebut Selasa (14/4/2026). 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG — Di tengah tantangan peningkatan mutu pendidikan berbasis data, SMP Negeri 28 Semarang menunjukkan langkah progresif melalui inovasi program literasi dan numerasi yang digagas langsung oleh Kepala Sekolah, Triyana.


Program bertajuk Siaga Pelita (Sistem Aplikasi Gabungan Penguatan Literasi dan Numerasi) ini menjadi bukti bahwa perubahan signifikan dapat dimulai dari langkah kecil yang konsisten dan kolaboratif.


Triyana, yang mulai menjabat sebagai Kepala SMP Negeri 28 Semarang, Mangkang Kulon, Kecamatan Tugu, sejak 7 Maret 2024 berdasarkan SK Wali Kota, menghadapi tantangan yang tidak mudah di awal kepemimpinannya.


Meski capaian literasi sekolah sempat menyentuh angka 100 persen, hasil Rapor Pendidikan berikutnya menunjukkan penurunan menjadi 91 % . Penurunan ini terutama terjadi pada kemampuan murid dalam memahami teks informasi.


"Walaupun kita tidak boleh menyalakan murid, inputnya seperti apapun kan kalau kita sebagai seorang koki itu bisa mengolah dengan baik dan benar, pasti akan menjadi enak kan masakannya.


Dari situ saya bilang, 'Ini apa nih penyebabnya? Kita bedah sama-sama.' Jadi yang saya lakukan pertama kali adalah bedah dulu rapor pendidikan," kata Triyana ditemui Tribun Jateng di sela kegiatannya di sekolah tersebut, Selasa (14/4/2026).


Berangkat dari analisis tersebut, lahirlah gagasan program literasi berbasis soal teks informasi lintas mata pelajaran. Tidak sekadar membaca selama 15 menit, murid kini diajak mengerjakan soal berbasis bacaan setiap minggu.


Hasilnya dianalisis secara berkala dan dikategorikan dalam tingkat pemahaman murid, mulai dari "mahir" hingga "perlu perhatian".


Namun, inovasi ini tidak berhenti di situ. Triyana menyadari bahwa tanpa penguatan, program tersebut belum optimal.


Maka, setiap hari Jumat dimanfaatkan sebagai sesi refleksi dan penguatan melalui pembinaan wali kelas. Murid dikelompokkan berdasarkan kemampuan dan didampingi oleh teman sebaya dalam proses belajar kolaboratif.


Transformasi digital juga menjadi bagian penting dalam pengembangan program ini.


Bersama tim guru muda, Triyana mendorong pembuatan microsite berbasis teknologi sederhana untuk menghimpun soal, analisis, serta umpan balik siswa dan orang tua. Platform ini mempermudah dokumentasi sekaligus meningkatkan efisiensi tanpa ketergantungan pada kertas.


"Karena sebelumnya umpan balik siswa hanya pakai Google Form biasa, jadi tidak terekam dengan baik. Saya berpikir, 'ini kalau hanya diunggah di Google Drive biasa, soal-soal ini tidak akan terkumpul. Terus kalau kita butuh untuk sesuatu, bingung lagi.


Lalu (dengan microsite) sekarang semua soal diunggah di sana semua. Hasil analisis juga sudah masuk ke sana semua," ungkapnya.


Menurut Triyana, keberhasilan program ini tidak lepas dari peran kolektif seluruh warga sekolah.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved