Selasa, 21 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Kebudayaan

Ironi Karawitan Jawa: Animo di Luar Negeri Justru Lebih Tinggi

Di tengah gempuran musik populer, karawitan Jawa kerap dipandang sebagai seni pinggiran di negeri sendiri.

IST
Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Karawitan Sari Laras 

Sebagai Guru Besar Unnes, ia menempatkan karawitan sebagai ilmu yang dapat dikaji, dikembangkan, dan diajarkan secara sistematis. 

Kepakarannya diwujudkan melalui pendekatan yang mengintegrasikan aspek teknik, estetika, dan nilai budaya dalam proses pembelajaran, sehingga mahasiswa tidak hanya mampu memainkan, tetapi juga memahami makna di balik setiap komposisi.

Dari kajian tersebut, ia mengembangkan inovasi melalui rekonstruksi laras dan model garap gending yang melahirkan pendekatan baru dalam pengembangan karawitan tanpa meninggalkan akar tradisi.

Inovasi tersebut telah menghasilkan puluhan karya gending, dengan 28 di antaranya tercatat sebagai Hak Kekayaan Intelektual (HKI), yang dimanfaatkan sebagai karya artistik sekaligus media pembelajaran.

Kiprahnya juga melampaui tingkat nasional melalui perannya dalam memperkenalkan gamelan di berbagai institusi internasional, seperti University of Michigan, University of California Los Angeles (UCLA), hingga Paris, yang menjadikan karawitan sebagai bagian dari dialog budaya global.

Selain aktif sebagai akademisi, ia juga berkontribusi sebagai praktisi dan organisator seni melalui berbagai peran strategis, di antaranya sebagai Ketua Harian Persatuan Pedalangan Indonesia (PEPADI) Jawa Tengah dan Sekretaris Jenderal Sekretariat Gamelan Indonesia (SGI) Pusat.

Melalui riset, karya, dan pengabdiannya, Prof. Widodo terus mendorong pelestarian sekaligus pengembangan karawitan Jawa sebagai identitas budaya bangsa yang adaptif dan relevan di tingkat global.

Dalam pengukuhan yang berlangsung di Auditorium Prof. Wuryanto, Kampus Sekarang itu, selain Prof Widodo, guru besar lain yang dikukuhkan di antaranya Prof. Dr. Taufiq Hidayah, M.Kes (bidang Pedagogi Olahraga), Prof. Dr. Sigit Priatmoko, M.Si (bidang Ilmu Fisika), serta Prof. Dr. Rina Supriatnaningsih, M.Pd (bidang Bahasa dan Sastra). (*)

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved